Apa yang sekarang menimpa mereka, bisa saja menimpamu dan keluargamu suatu saat!
Membiarkan ketidakadilan terjadi hanya karena ketidakadilan itu menimpa orang lain, bahkan kamu bersorak-sorai saat ketidakadilan itu menimpa orang yang kebetulan kamu benci, sama saja seperti memelihara hewan buas di dalam rumahmu. Kelak ia akan memangsamu ketika hewan buas itu lapar, dan kamu lengah.
Ini bukan doa. Ini hukum alam.
Tidak ada yang abadi di dunia ini. Begitu juga kekuasaan. Banyak contoh penguasa lalim yang seperti tak tergoyahkan, runtuh begitu saja dalam waktu sekejap.
Ketika kekuasaan berganti, dan engkau kemudian menjadi pesakitan yang meraung-raung karena ketidakadilan ganti menimpamu atau keluargamu, barulah kamu akan merasakan perih saat melihat orang lain menutup mata, dan yang saat ini menangis, gantian menjadi pihak yang tertawa saat melihat penderitaanmu.
Ini bukan doa. Ini adalah hukum sebab-akibat. Hukum tabur dan tuai.
Jika kita memelihara buaya, maka kita tidak akan memanen kucing.
Kita sama-sama rakyat yang harusnya sama-sama bersuara ketika ketidakadilan terjadi di sekitar kita. Bukannya mendukung dan bersorak sorai.
Jangan biarkan kekuasaan menjadi tak terbatas.
Sejarah akan selalu mencatat, kamu berdiri di pihak yang tertindas, atau di sisi sang penindas.













