Review - Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
Buku yang seharusnya ditarget tamat di tahun 2020, baru sempat terselesaikan di Januari 2021 karya Mark Manson terjemahan dari The Subtle Art of Not Giving A F*ck. Buku pinjaman yang mau ga mau harus dituntaskan dan segera diambil insightnya dan aku telan. Buku yang membuatku banyak berpikir dan harus aku akui, ini buku keren. Buku yang membuat orang berpikir ke arah sebaliknya, sudut yang belawanan. Jika semua orang menginginkan berada pada kuadran I, buku ini menawarkan keindahan pada kuadran III. Mulai dari subbab pertama 'Jangan Berusaha', yang awalnya membuatku geleng-geleng kepala. Buku apasih ini, kok gini tulisannya tetapi buku ini dengan jelas bercerita bahwa ternyata, kita tak perlu berusaha meyakinkan orang lain bahwa kita orang baik jika kita benar-benar orang baik. Jika kita saat ini sedang bahagia, kita tak merasa perlu untuk membuktikan kepada siapapun bahwa kita bahagia.
Ah, yaa ngapain dibuktikan jika kita sudah mengalaminya? Jika kita memimpikan sesuatu, sebenarnya kita sedang menguatkan realitas alam bawah sadar kita sendiri bahwa kita bukan berada pada posisi itu.
Mengapa kita sekarang merasa perlu untuk membuktikan kepada orang-orang bahwa kita telah mencapai ini dan itu, sukses di bidang ini dan itu, punya skill di bidang ini dan itu. Dunia ini sedang mendikte kita bahwa hidup harus punya uang banyak, rumah mewah, mobil, tas brended, pasangan yang ideal, anak yang sehat, aset dimana-mana, liburan setiap bulan, maupun penghargaan dari A sampai Z.
Jika dulu gagal dalam perlombaan adalah hal yang biasa, dan berkata dalam hati "besok coba lagi, usaha lagi" dan kembali belajar lagi untuk perlombaan selanjutnya. Thats it, and Life must go on. Tapi sekarang, jika saat ini gagal dalam mencapai sesuatu, kita akan segera diserang dengan ratusan gambar orang-orang yang benar-benar memiliki hidup yang sangat menyenangkan, penghargaan yang kita inginkan dan sangat mustahil untuk tidak merasa seolah hidup kita sungguh tidak adil dan sangat keliru tujuh turunan. Kita dibombardir berjuta pemandangan etalase yang menyejukan mata, sedangkan etalase yang kita punya seolah awan gelap pun menutupi bayangan kita sendiri. Kita seolah diarahkan untuk menjudge bahwa kita tak sehebat yang dikira, dan ini yang selalu menghancurkan kita dari dalam setelah melihat etalase orang lain.
Saatnya untuk berkata, aku tak peduli dengan apapun yang ada diluar sana. Aku tak peduli dengan pencapaian dan harta mereka, kesenangan mereka, aku bahagia dengan hidupku, kegagalanku, jatuhku, bangkit serta proses belajarku, dan yang paling penting aku menerimanya.
Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal; tapi tentang hal yang sederhana, hanya peduli tentang apa yang benar dan mendesak dan penting.(Hlm.6)
"Kita tak benar-benar tak peduli pada sesuatu, kita hanya memilih mana yang benar-benar penting untuk dipedulikan."
"Anda sudah memilih, di setiap momen di setiap hari, apa yang Anda pedulikan, jadi berubah itu sesederhana memilih untuk memedulikan hal lain".
"Jangan hanya duduk-duduk.Lakukan sesuatu.Jawaban akan muncul".
Buku ini mengajarkan untuk menerima, bahwa dunia memang gak selamanya berwarna, bahwa saat abu dan hitam pekat pun kita perlu mengakui bahwa ia salah satu dari banyaknya warna yang ada. Tak perlu ambil pusing untuk mewarnakan semua langit menjadi warna biru dan jingga, kita perlu menerima bahwa hujan yang membawa keberkahan memberi aba-aba dengan abu-abunya di atas sana.

















