Far From Home.
Ada kalanya aku merenungkan betapa absurdnya hidup ini, suatu fakta yang tumbuh semakin jelas ketika aku terjaga di dalam kerumunan gaun indah dan parfum yang menyeruak. Pertama-tama, aku bernama Cassiopeia, meskipun sebagian orang lebih sering memanggilku Cassie. Dan sekarang, setelah matrimoni yang sepenuhnya mengubah hidupku, aku menemukan diri terperangkap dalam pernikahan dengan seorang perwira Angkatan Darat Inggris, yang lebih dari sekadar tampan; dia juga orang yang berpikir bahwa dunia berputar di sekelilingnya.
Jadi, di sinilah aku, anak semata wayang dari keluarga terhormat, yang terentang dalam pelukan kebudayaan Victoria dan tradisi Inggris, mencoba mendorong diriku lebih jauh ke dalam semesta suamiku.
Tidak lama setelah menikah, aku menerima berita yang cukup mengejutkan; kami akan berangkat ke Delhi! Tentu saja, aku tidak pernah memperhitungkan bahwa ini memerlukan pensiun dari kehidupan yang kumiliki.
“Apa maksudmu kita akan pindah ke India?” tanyaku dengan nada yang setengah menantang, setengah tak percaya. Belum ada satu bulan sejak aku mengenakan gaun pengantin itu dan bersumpah untuk mencintainya dalam keadaan baik maupun buruk.
“Begitulah adanya, Cassie,” jawab Sergei Varishikov, suamiku yang berwibawa, dengan nada yang sangat santun. “Bayangkan semua keindahan yang akan kita lihat!”
Jika yang dimaksud berarti menikmati hawa panas, serangga, dan berbagai jenis makanan di pinggir jalan yang tidak dapat kumengerti, maka aku tidak yakin itu bisa dianggap keindahan. Masalahnya lebih kepada cabang-cabang lain dari etika sosial yang berbiak menjadi secarik kabut tebal di pikiranku, seolah aku mendaftar sebagai sukarelawan untuk sebuah eksperimen yang tidak teruji. Maka—dengan sebagian besar kegugupan—aku mulai membayangkan betapa bahagianya aku bisa menyesuaikan diri dalam kultur yang sama sekali berbeda. Tetapi sekali lagi, dalam keinginan untuk melihat setiap aspek dari rencana, aku mencoba melenyapkan semua keraguan itu dan mengubah konsepnya jadi petualangan.
Dalam pelayaran menuju negeri yang jauh, aku menjumpai banyak tabir wajah, di antara mereka juga para lelaki yang mengenakan jubah bak pangeran. Beberapa terlihat ceria; beberapa yang lain menghabiskan waktu memandang laut. Di sebelahku, ekspresi Sergei menguarkan ketegangan. Ciri khas tentara.
“Kamu sangat menantikan petualangan ini, ya, sayang?” tanyaku, berusaha meraih perhatian.
Dengan segala kerendahan hati, dia menjawab, “Menghadapi hal-hal baru bukan selalu tentang tantangan, Cassie. Terkadang, itu juga bisa jadi bagaimana cara kita bertahan di tengah kondisi cuaca yang buruk. Lihat saja cuaca di luar sana. Kupikir badai ini sedang menciptakan kesan pertama yang spektakuler.” Dia tersenyum yang menyiratkan bahwa dia terkesima oleh rangkaian momentum yang akan datang. Sebaliknya, semua kuasa imajinasiku berputar setiap kali masa depanku terpaksa aku bulatkan.
Apakah nanti wajib mengenakan selendang saffron dan aksesoris kepala yang membuat pusing? Apakah harus sarapan ladoo setiap hari? Saat-saat memproses pertukaran budaya begini acapkali melahirkan keinginan agar aku bisa berada di tempat yang lebih nyaman.
Sekarang, mari kita cermati satu hal yang sering kali terlewat saat seseorang berpindah dari satu belahan dunia ke belahan lainnya: identitas. Betapa banyak orang mengatakan bahwa identitas itu bukan hanya alamat di peta? Seingatku, ketika aku melangkah dari dek kapal, ibarat aku berada di garis paradoks yang menggiurkan. India tak ayal catatan yang terhapus di papan tulis. Aku bisa melihat bayangan peradaban yang megah, tetapi tidak pernah bisa menggenggam satu pun bagian dari keajaiban itu.
Sudah menjadi kebiasaan bahwa perjalanan melelahkan tersebut telah melenyapkan semua khayalan akan pesona. Yang ada hanyalah pemandangan gersang padang pasir, aroma rempah-rempah yang memekakkan hidung, dan tatapan tajam dari penduduk lokal. Ironisnya, aku berusaha membauri lingkungan sambil mengenakan simbol pernikahan.
Mengetahui keenggananku, Sergei segera memberikan penjelasan singkat, “Kamu akan segera terbiasa dengan semua ini, Cassie. Mereka adalah bagian dari budaya yang kaya.”
Budaya kaya? Sebaliknya, bagiku ini adalah wadah sirkus, dengan kerbau-kerbau yang dibebaskan berkeliaran di jalan raya dan praktik Punjabi yang anti makan pakai garpu. Serangkaian dialog sering terputus oleh kegelisahan yang terpendam. Terkunci dalam kekacauan yang tak terhindarkan.
Aku mendapati diriku di tengah lingkaran sosial yang ambigu. Wanita-wanita di sekitarku lebih mirip berbusana dari kulit kedelai. Para keluarga yang dipenuhi canda mempertemukanku pada sesi-sesi yang penuh formalitas. “Oh, Nyonya Varishikov, kamu harus tahu bahwa menjadi istri tentara di sini melibatkan banyak kerja keras untuk menyesuaikan diri,” salah satu wanita Delhi tulen menasehatiku.
“Bohong besar,” sahutku. “Jika beradaptasi berarti terjebak dalam suratan hidup yang tersiksa, aku lebih memilih tinggal di kebudayaan asal.”
Di saat itulah, aku menemukan refleksi diriku yang utuh, berotasi dalam pemahaman tentang keberadaan. Setelah beberapa lama bergaul dengan kalangan tentara yang melontarkan pernyataan setengah memupuk keangkuhan, aku perlahan mengenali keagungan di sebalik kehidupan sebagai istri perwira. Aku menghafal cara menghadapi hari-hari yang berputar lambat, dibungkus dalam pernikahan yang kental adat-istiadat.
Suatu sore, aku terlibat percakapan yang mengalir di antara dua etnik. Perjamuan dengan seorang pejabat lokal menciptakan kesempatan untuk berdiskusi tentang norma.
“Bagaimana mungkin Anda mengharapkan perempuan untuk bersikap anggun ketika kami masih saja harus merangkai satu-satunya gap di antara tradisi dan modernitas yang layak?”
Dia terbahak-bahak, tetapi ada secercah ketidakpastian dalam caranya menanggapi. “Di sini, semuanya adalah seni, Nyonya Varishikov. Setiap ketidakberdayaan memiliki sisi keindahan sendiri yang bermanifestasi dalam perwujudan kita.”
Entah bagaimana, manifestasi itu malah mengingatkanku bahwa inilah ikatan yang selamanya akan tersimpan. Hmmm, secara tidak langsung membuatku memperdebatkan batas-batas eksistensial yang seharusnya tidak perlu ada.
Ketika Sergei kembali tepat waktu, aku menyerangnya dengan retorika, “Tidak ada pertanda yang jelas tentang di mana kita berada! Aku merindukan jendela dan rak buku berdebu di tempat kita dulu.”
Ia tersenyum tulus dan mendekapku, “Kamu akan mengingat kembali semuanya suatu saat nanti, Cassie. Ini hanya tahap awal,” katanya, meski tanpa kesadaran akan makna sentimental dari pengingat ‘tahap awal’ itu.
Lalu, keinginan untuk pulang menguasai pikiranku, tetapi harus diakui, tiap kali berbagi keluh kesah bersamanya menciptakan bentuk kontemporer dari cinta. Begitupun, pajangan-pajangan dalam rumah yang kutinggali—meski itu adalah ilusi dari keindahan, aku tetap memahami sebuah pelajaran tentang kerapuhan.
Sejak itu aku jadi lebih toleran pada kekuatan refleksi dan realitas. Menjaga integritasku agar tetap genap di bumi ini, di mana ekspektasi dan absurditas bersatu dalam tiang hidupku, membuatku berterima kasih pada lembaran hidup yang aku jalani.
Menutup mata sejenak, saat mentari berdesir di timur, akupun merenung. Apa artinya ‘rumah’? Apakah itu sekadar alamat? Lidahku mulai kenyang oleh rasa dan aromanya, tetapi identitasku tetap merdeka dalam pengembara. Ke mana pun aku melangkah, jelas bahwa Delhi—dalam autentikasinya yang menggelikan—adalah bagian dari rusaknya persepsi tentang apa arti keberadaan.
Sebaliknya, mungkin aku benar-benar bisa menyambung benang merah antara jati diriku yang mulanya dikenali di tanah air dengan suara-suara yang terbesit dalam hati. Kini, ketika aku memandang ke depan, mengingat di mana tanah kelahiranku dan di mana pranata baru, di situlah kehadiran akhirnya bersedia menyambutku.
Selamat datang di Delhi! Kamu jauh dari rumah, tapi kamu tidak kehilangan jiwa yang disungguhkan dengan setiap detak jantungmu.












