You are walking away from me, You’ re the only one,
As much I Loved You, You’ re the only one
I am hurt and hurt, and like a fool, but I think I have to say good bye
Even if it’s impossible to meet you again
‘Soojung-ah, mari kita bertemu… Aku mohon’
Krystal membaca pesan itu lagi dan lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya. Pesan yang sampai semalam itu belum juga dibalasnya. Bukan Ia tidak mau membalasnya. Ia tahu ini akan terjadi tapi, ada sesuatu didalam hatinya yang merasa tak rela.
Krystal memandang berkeliling kamarnya. Mendesahkan napas panjang. Kemudian memutuskan untuk mengalah pada kenyataan. Segera diketiknya pesan balasan.
‘Baiklah, kita bertemu di café biasa’
2 jam kemudian Krystal sudah berada dibawah teduhnya sebuah halte bus yang paling dekat dengan rumahnya. Sebuah bus berhenti didepan halte tersebut. Krystal bangkit dari duduknya dan mengantri untuk naik kedalam bus. Tiba-tiba dirasakannya tetesan hujan mulai membasahi wajahnya. Krystal mendongakkan kepalanya, tersenyum. Secara reflek tangannya menengadah, mencoba menangkap tetesan hujan dengan tangannya. Krystal sangat suka hujan. Senang berjalan dibawahnya meskipun terlindung dibawah payung. Tidak peduli sepatunya akan kotor terkena becek, ataupun seragam sekolahnya basah. Sebenarnya Krystal tidak akan peduli pada semua itu. Tapi kenyataan berkata lain.
“Agassi, tolong cepat sedikit” Sebuah suara dari belakang menyadarkannya dari perbuatan bodohnya.
“Joesonghamnida.” Katanya sedikit menunduk, lalu buru-buru naik ke atas bus.
Titik-titik hujan semakin lama semakin membesar. Krystal merapatkan sweater tebalnya yang berwarna cokelat. Lalu dibukanya payung lipat berwarna biru langit yang sedari tadi disiapkannya. Baru saja Ia akan melangkahkan kakinya, sebuah tangan besar menepuk bahunya. Krystal reflek berbalik. Seorang namja bermata besar, berkulit agak gelap dan tinggi, sedang menatapnya dengan dingin, sedingin udara disekeliling mereka.
“Nu.. Nuguseyo?” Krystal memandang namja tersebut, lalu memandang tangan yang ada dibahunya. Namja itu menyadari tatapan Krystal, dan menarik tangannya.
“Mianhae. Soojung-ssi, bolehkah aku menumpang?”
“N… Ne?” Siapa namja ini? Mengapa ia tahu namanya? Menumpang apa?
“Bolehkah aku menumpang dibawah payungmu, kau ingin ke halte depan bukan?” Namja itu menjelaskan dengan tidak sabar. Krystal memandang payung biru yang digenggam tangan kanannya. Lalu kembali memandang namja didepannya.
“Ah… Ne, hmm…. ” Krystal memandang namja itu ingin tahu.
“Kim Jongin imnida. Tapi kau boleh memanggilku Kai” Ujar namja itu cepat.
“Baiklah, Kai-ssi. Kajja” Lalu Krystal berbalik, bersiap untuk berjalan menembus hujan.
“Chakkaman!!” Kai menyetopnya. Krystal berbalik lagi.
“Kupikir, biar aku saja yang memegang payungnya.” Kai berjalan mendekat dan mengambil payung dari tangan Krystal. “Kajja, soojung-ssi” Krystal masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi dia berjalan dibawah payung bersama Kai. Namja yang baru saja dikenalnya.
Krystal memandang keluar jendela. Napasnya menciptakan embun dikaca jendela bus. Kemudian ditulisnya K.J.I. Krystal tersenyum kecil, lalu memandang huruf-huruf tersebut. Pikirannya melayang ke bagian lain kisah hidupnya bersama Kai.
Krystal berjalan memasuki ruang perpustakaan. Beberapa buku dipegang didepan dadanya. Akibat absen beberapa hari ia harus mengerjakan tugasnya yang telah menumpuk. Tapi itu tidak masalah untuknya. Ia terbiasa melakukan ini. Untung Sulli, teman sebangkunya bersedia meminjamkannya catatannya.
Setelah memilih beberapa buku. Krystal berjalan kesudut dan duduk disebuah kursi dengan meja kecil yang tersedia hanya untuk 2 orang. Belum 5 menit, Krystal sudah larut dalam bacaannya. Mencoret-coret dibeberapa bagian buku catatannya. Tidak menyadari kalau ada yang sejak tadi berdiri dibelakang kursi dihadapannya berharap dipersilahkan untuk duduk.
“Choegi… Bolehkah aku duduk disini?” Krystal mendongakkan kepalanya. Sedikit terkejut, lalu berusaha menguasai dirinya.
“Ah, Kai-ssi. Ne, duduklah” Ucap Krystal. Lalu kembali sibuk dengan catatannya.
“Aku mencarimu sejak beberapa hari yang lalu.” Krystal mengangkat kepalanya lagi, dengan alis yang bertaut.
“Aku mencarimu Soojung-ssi. Kemana saja kau beberapa hari ini?” Kai memandang Krystal dengan pandangan sulit ditebak.
“Untuk apa kau mencariku?” Krystal balik memandang Kai.
“Itu tidak penting. Kemana saja kau beberapa hari ini?” Kai berbicara dengan pandangan yang tetap sama dengan sebelumnya.
“Aku…. Aku sakit, makanya tidak ke sekolah”
“Mwo? Kau sakit? Apa karna kehujanan hari itu?” Kai berbicara dengan lancar sekali. Krystal memandang namja itu dengan bingung. Kemudian memandang berkeliling. Hampir semua orang yang berada dalam perpustakaan memandang mereka. Kai ikut memandang berkeliling, disadarinya telah berbuat kesalahan ia pun menundukkan kepalanya sambil bergumam minta maaf.
Bel tanda pelajaran selanjutnya menyelamatkan mereka untuk keluar dari sana. Kai tidak menyadari Krystal sudah bangkit dari duduknya dan mulai merapikan buku-bukunya kemudian beranjak dari tempat duduknya, keluar dari perpustakaan. Kai buru-buru bangkit dan mengejar Krystal.
“Soojung-ssi, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Soojung melambatkan jalannya dan memandang Kai.
“Aku ingin membalas budi.”
“Tapi… tapi…” Kai menarik lengan Krystal, membuat Krystal benar-benar berhenti. “Aku mohon Soojung-ssi” ekspresi Kai benar-benar memohon kali ini.
“Kai-ssi, aku sudah terlambat, tolong lepaskan tanganku.” Ucap Krystal panik.
“Aku tidak akan melepaskannya sampai kau mengiyakan ajakanku.” Krystal tampak berpikir mencari jalan keluar. Tapi sepertinya dia tak ada alasan lain.
“Baiklah. Tolong lepaskan aku sekarang” Kai melepaskan lengan Krystal dan tersenyum menang.
“Gomawo Soojung-ah, tunggu aku sepulang sekolah. Kita bertemu ditempat pertama kali bertemu” Dan Krystal tak perlu menebak-nebak, dia sudah tau.
Author: @Hyyka
Published by: @minhoshineeina
The winner of #MinhoFFcontest at @minhoshineeina