Akhir-akhir ini banyak musisi yang melahirkan karya-karya disertai latar belakang cerita. Seperti Kunto Aji dengan album mantra-mantra, Feby Putri dengan Halu dan Usik, Yura dengan album Merakit, Virgoun dengan selamat tinggal, Admesh dengan Rindu, Baskara Putra dengan Hindia, Ardhito dengan Fine Today, dan masih banyak lagi. Ada satu hal yang mendasari keputusan mereka, kreatifitas.
Kadang kala orang-orang belum mengerti saat suatu ide baru dimunculkan di tengah keterbiasaan, menjadikannya fokus dari satu sudut pandang saja. Dilihat sebagai hal yang aneh, tak ayal dibilang tak lazim. Kita lupa bahwa dalam tatanan hidup ada sejatinya mereka yang lahir sebagai pendobrak. Pernah menonton serial film Divergent? The Hunger Games? The Maze Runner?
Mereka yang berani menjadi beda, menjadi pemulai, hanyalah mereka yang berani mengambil langkah berbeda. Bermodalkan sudut pandang menyeluruh, berkeyakinan bahwa hal baru yang dilakukan bukan tak memiliki dasar. Tentu, setiap langkahnya akan penuh kehati-hatian, karena justru ranjau-ranjau ketidaksetujuan akan semakin menjamur di segala sisi. Tapi layar sudah dipasang, pantang mundur balik ke belakang.
Namun tak jarang ditemui pula beberapa tak berakhir sesuai kehendak. Arusnya terlalu kencang dan kapal mulai karam. Tapi waktu adalah penyembuh terbaik, akan ditabung sedikit demi sedikit peralatan perbaikannya, untuk kembali berlayar dengan kapal yang lebih kuat daripada sebelumnya. Tekad? Tak usah ditanya. Jika pertama adalah percobaan, kedua, ketiga, dan seterusnya adalah pembiasaan. Dan tahukah Anda apa yang akan terjadi ketika seorang nahkoda sudah terbiasa bertemu ombak bahkan badai? Mereka akan saling mengenal hingga memahami.
Aku, kamu, kita, beberapa hari ke depan akan selalu bertemu dengan situasi yang pelik. Sudah hukum alam, maka jangan menolak berlebihan. Suatu hari kita akan tiba di tempat dan waktu yang asing, dengan berbagai pasang mata melihat sangat jeli. Kita datang ke tempat baru itu bukan tanpa persiapan, justru sebaliknya. Siap tempur sekali, siap membuat perubahan demi perbaikan, siap menerima apapun terjalnya. Ntah di tempat kerja, tempat mengajar, tempat mengabdi, tempat berkreasi.
Apapun dan kemanapun kamu memutuskan untuk melaju, yakinilah bahwa
"Tak setiap mulut butuh telinga untuk mendengar, tak setiap telinga perlu mulut untuk didengarkan. Berbeda bukan berarti membedakan, memulai bukan berarti merusak, membaharu bukan berarti menghancurkan. Hidup memang perlu miliki keteraturan, tapi diringi kedinamisan."
Mungkin ada yang masih ingat kisah katak tuli yang berlomba memanjat pohon?
Meminjam sedikit potongan iklan yang sering kita dengar "Loe bukan anak baru, loe bawa perubahan baru", rupanya bukan hanya di lingkungan baru kita akan di pandang sebagai baru, di lingkungan lama yang kita sudah nyaman justru lebih menantang untuk menjadi baru. Semua pembaharuan perlu rangkaian waktunya tersendiri, jadi bersabar saja dulu. Kadang bukan manusia saja yang ingin membaharu, tapi juga semesta. Seperti saat ini, semua hal terasa baru. Kaget wajar, depresi jangan dong. Semua hanya butuh waktu untuk pembiasaan. Masa kalah sama bayi?
@gugunm @adhit21 @sajaksesak @sekotenggg @mathmythic