"Pesan Ibu”
“Bu, aku sedih.”
“Sedih kenapa, Nak?”
Gadis di sampingnya masih diam dalam tatapan kosong, menatapi tanaman di luar jendela dapur. Piring yang sudah kering masih saja diusapnya dengan serbet ditangan kanan.
“Mau cerita sama Ibu, atau mau disimpan dulu sampai nanti?” Tanyanya kembali sesaat setelah mematikan kran air setelah piring terakhir selesai dicuci.
Gadis di sampingnya lantas meletakkan piring dan menghela nafasnya dengan berat. Ia beranjak duduk di kursi makan. “Bu, salah enggak sih, kalau perempuan bilang duluan ke orang yang dia sukai?” Tanyanya seraya menengadahkan dagu ke sandaran kursi, mengamati Ibunya yang mulai bingung.
Ibu beranjak ke kursi di samping gadis tersebut. “Yaa, enggak salah juga.. Tergantung bagaimana caranya..”
“Mungkin cara-ku salah ya Bu?”
“Emang, cara kamu seperti apa?”
“Lewat email..... Ih aku tuh memalukan banget ya Bu! Aaaaa....” Imbuh gadis itu seraya mengacak rambutnya sendiri, lalu membenamkan wajah dalam rengkuhan kedua tangannya.
Si Ibu mendadak tertawa. “Hahahaha ya kalau memalukan juga masih jadi anak Ibu kok.. Enggak apa-apa..”
“Tapi emailku enggak pernah dibalas lho Bu.. Sudah enam bulan lalu.. Terus Jumat lalu kita enggak sengaja ketemu dan aku enggak disapa sama sekali..“
“Mungkin lagi sibuk?”
“Enggak Bu.. Aku bisa lihat kok dia lagi enggak sibuk..”
“Emangnya, kalau kamu disapa, kamu mau ngomong apa?”
“Aku cuma mau nanya Bu.. emailnya udah dibaca belum...”
“Orangnya masih si itu? Yang kamu sudah sukai dari lama itu?
“Iya.....” Jawabnya dengan mimik sendu.
“Memangnya, apa sih yang bikin kamu masih suka bahkan sampai sekarang Nak?”
“Aku juga enggak tahu Bu.. Kayak.. Setiap aku lihat dia, aku enggak perlu alasan buat suka.. It just happened, Bu..”
“Kalau misalnya ternyata memang dia belum baca emailnya?”
“Enggak mungkin Bu... Terakhir dia pakai email itu kok...”
“Kalau dulu Ayah enggak balas surat Ibu sih Ibu bisa berpikir kalau suratnya belum atau enggak sampai ya.. tapi kalau email pasti sampai ya..”
“Aku tuh kayak ngerasa ditolak mentah-mentah gitu Bu.. Kayak.. emangnya enggak bisa ya, bilang ke aku “Sorry, gue enggak bisa.”.. Emangnya cowok enggak bisa jujur gitu ya Bu?”
“Ya tergantung cowoknya, Nak.."
“Bukannya kalau kita dikirim surat yang isinya orang menyatakan sesuatu, kita supposed to reply it ya Bu? Sesederhana untuk mengapresiasi usaha orang itu?”
“Kita itu kan, kita, Nak? Kalau mereka, dia, mungkin punya cara yang beda-beda menanggapi sesuatu. Si itu pun, pasti punya cara berpikir yang berbeda..”
“Tapi semua temen cowok aku bilang mereka pasti bales kok Bu..”
“Hmm, bukannya kita sebaiknya enggak mengeneralisir karakter berdasar gender ya, Nak?”
“Ya tapi Bu... ini tuh bikin aku sesedih itu...”
“Jadi ini kenapa anak Ibu nangis semaleman suntuk?”
“Hah? Kok Ibu tau???”
“Tadi malem Ibu mau ambil air putih, lewat kamar kamu, eh kedengeran. Ibu pikir Adek ini kenapa.. Mau langsung Ibu ketuk tapi nanti kamu nanggung nangisnya.. Kan, adek juga harus belajar cari solusi untuk diri sendiri?”
“Ahhh malu.... sampe Ibu tahu Aku nangis...”
“Hahahaha, kan ketahuannya sama Ibu ini?”
“Ya tetap aja..”
“Nangis itu enggak dosa kok Nak, namanya juga luapan perasaan..”
Hening kembali. “Sesedih itu Bu ternyata kalau kita ditolak diam-diam sama orang..”
“Kebayang sih, Nak.. Rasanya seperti.. kamu enggak dikasih kesempatan untuk tahu tanggapannya ya? Tapi mungkin dari cerita tadi kamu bisa belajar hal baru.. Mungkin, dia memang bukan untuk kamu, bukan untuk jadi dekat ataupun lainnya.. Mungkin dia juga punya alasan lain kenapa email kamu enggak dibalas dan kenapa dia enggak menyapa kamu di acara kemarin. Banyak mungkinnya lho, Nak?”
“Berarti aku enggak boleh berasumsi ya?”
“Bukannya Ibu enggak ngebolehin, tapi kan Ibu dan kamu sama-sama tahu, asumsi kita seringnya jadi hal yang enggak baik..”
“Tapi aku se enggak worthed itu ya Bu untuk dia sukai kembali?”
“Hush... Enggak Nak, bukan enggak worthed.. Kalau beda selera, apa boleh buat? Mungkin yang dia cari memang bukan kamu, dan mungkin juga yang kamu perlu bukan dia. Iya enggak?” Ujarnya seraya tersenyum bijak, berusaha mengembalikan kepercayaan diri anak perempuannya.
“Ya tapi aku sedih Bu... Sedih sekali..”
“It’s okay honey... Sadness is a common thing.. Ibu juga kalau jadi kamu pasti sedih banget.. Siapa yang enggak sedih kalau perasaannya enggak berbalas? Ya kan?” Ucapnya seraya membelai lembut kepala gadis yang duduk di sampingnya. “Eh, tapi bukannya anak-anak Ibu nih kuat ya?” Imbuhnya.
Si gadis tersenyum, mengamati Ibunya, teman terbaiknya untuk bercerita.
“Bu, how can you be so wise?”
“Hmm.. apa ya.. Mungkin.. the power of love. Hehehe” Ujar Ibunya sembari memasang mimik jahil.
“Hahahaha Ibu geli ah!”
“Eh, beneran, Ibu bisa begini karena Ayah, karena Abang, karena kamu.. Semuanya selalu bikin Ibu belajar..”
“Aku bisa enggak ya Bu bersama orang seperti Ayah nantinya..”
“Bisa dan akan kok Nak.. Percaya sama Ibu, percaya sama semesta, bahwa siapapun orangnya nanti, semuanya akan berjalan lancar dan mengalir aja.. Effortless, begitu..”
“Iya ya Bu... effortless aja gitu...”
“Iya, karena semuanya apa adanya aja.. Adek gaperlu nih jadi mikir adek worthed atau enggak dan sebagainya.. Tapi memang cara semesta buat mengarahkan kita ke jalan yang seharusnya itu suka surprising, and that’s what makes us learn something..”
“Aku tapi udah malu-maluin banget ya Bu, nyatain perasaan duluan ke cowok?”
“Ah, enggak juga.. Ibu bangga malah, kamu berani ambil tindakan dan bertanggung jawab sama perasaan sendiri. Emangnya adek nyesel, udah mengirim email itu?”
“Enggak juga sih...”
“Berarti emang sudah jalannya surat itu dikirim, toh?”
“Tapi enggak dibalas...”
“Ya berarti jalannya juga surat itu enggak dibalas.. Itu kan, di luar kontrol Adek sebagai seseorang? Pasti ada silver-linings-nya kok Dek..”
Dapur hening. Ibu mengamati gadisnya yang kian dewasa, teringat kembali kisahnya dengan suaminya dulu. Ceritanya yang berjalan begitu syahdu, sederhana, dan effortless.
“These too shall pass, ya Bu? Aku akan bisa suka lagi sama orang lain, kan?”
“Pasti, sayang...” Jawab wanita paruh baya itu sembari menepuk pelan bahu gadisnya. “Kalau hasilnya belum baik, berarti namanya bukan ending.. He he.”
-












