Scribble 0.3: ZOLD
(.....)
Ze...
Ze... Ze...
Ze...
Di..mana..dimana....
Layar itu masih mengeluarkan satusuara yang terus mengusik Zold dalam tiap tidurnya, mengawali dan mengakhiritiap mimpi-mimpi buruk dan terburuknya. Berkali-kali dia berdebat dengan dirinya sendiri untuk mematikan suara itu, tapi keinginannya untuk menghapus suara itu sama kuatnya dengan kebutuhannya untuk mendengarkannya. Hanya itu suara yang akan bisa didengarnya lagi dari Hila. Sekarang dan akan datang.
Gaung sirene yang tiba-tiba membuat Zold mengangkat kepalanya dari layar dan menatap kearah gerbang didepannya. Dilihatnya semua saudara sedarahnya berlarian kearah selatan dengan tampang yang hampir kembar, tak berekpresi dan dingin. Zold mengingatkan dirinya untuk tidak menghela nafas, lagi, dan menghapus semua kepedihan dari hatinya serta mengeraskan tekadnya. Tak ada gunanya lagi dia berdiam diri dan menatap layar yang sudah berhenti merekam sejak 5 tahun lalu itu.
Nampaknya hatinya pun telah ikut membatu dengan rekaman itu. Tak pernah sedikitpun kepedihan yang mengisi seluruh rongga tubuhnya terasa menipis sejak saat itu. Bahkan rasa itu seakan semakin menumpuk, melapisinya dengan lapisan-lapisan kepedihan baru tiap harinya, jika itu bahkan mungkin terjadi. Zold melepaskan jarinya dari layar setelah mengusapnya dengan kelembutan yang tak dimiliki oleh ras-nya seraya mengucapkan kata-kata yang setiap hari telah menjadi mantera baginya untuk sekadar berdiri dan menarik napas. Kata-kata yang akan membakar kesedihannya menjadi energi untuk menjalani satu lagi hari yang menyiksa.
Hila sedang menangis. Dan dia menangis sendirian.
(25/03/2014)









