terkadang saya berpikir, kala otak saya sedikit berada di jalurnya.
tentang...
mengapa di usia mereka yg semakin senja;
saya tidak bisa meringankan beban pikiran mereka,
saya tidak mampu mengurangi peluh yg membasahi tubuh mereka,
saya lagi-lagi justru menambah berat beban yg harus mereka pikul,
saya lagi-lagi marah dan tidak berterima kasih atas apa yg telah mereka usahakan.
di dunia saja, saya sering kali lalai pada mereka,
di dunia saja, saya sering kali durhaka tanpa diketahui mereka,
di dunia saja, saya sering kali merasa sok pintar dibanding pengalaman lama mereka,
di dunia saja, saya sering kali merasa benci dan kesal saat tidak dipahami oleh mereka.
saya lupa, bahwa kebahagiaan mereka hanya sekedar mendengar cerita anaknya,
saya lupa, bahwa kegembiraan mereka hanya sekedar melihat kesuksesan anaknya,
saya lupa, bahwa mereka tidak pernah meminta apa-apa selain melihat anaknya bahagia.
kemudian saya menyadari,
di umur pencari jati diri yang begitu labil dan merasa paling benar;
saya hanya perlu mengingat bahwa sudah sejatinya mereka dimaklumi sebagai mana mereka memaklumi kita saat masih balita,
saya hanya perlu bersabar bahwa terkadang mereka hanya kesulitan menyampaikan pesan yang sesungguhnya,
saya harus menuliskan pada otak dan hati saya, bahwa umur mereka bukanlah selamanya, dan jangan sampai saya menyiakan waktu yang ada dan baru menyesali ketika kami telah terpisahkan oleh alam yang berbeda.
Bandung, 20 September 2018.
Sudi kiranya kesalahan anakmu kau ampuni.