Dideres saja
 Dideres saja. Tak apa belum begitu ngerti arti-artinya. Setidaknya, membaca Al Qur’an itu sebuah bentuk ibadah yang diperintahkan Gusti Allah dan dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad dan barisan shohabat-shohabat. Adalah atas dasar kepatuhan kepada Tuhannya dan keinginan untuk meneladani teladan Nabi Muhammad, kan?
Dideres saja. Tak apa belum paham maksudnya. Setidaknya nderes bisa menjagamu dari kalimat-kalimat nirfaidah. Menjagamu dari bacaan-bacaan yang nggak begitu penting. Menjagamu dari rasan-rasan atau stalking-stalking. Yang malah bikin hati nggak tenang.
Dideres saja. Tak apa belum paham makna-maknanya. Kamu tau nggak, seluruh bagian Qur’an itu mu’jizat. Kalimatnya, pilihan diksinya, ayatnya, kesinambungan dalam setiap fase zaman. Bahkan sampai setiap lengkung hurufnyapun juga mu’jizat. Maka, membaca saja sudah berpahala banyak. Satu huruf saja dihitung sepuluh kebaikan, kan?
Dideres saja. Meskipun ada yang bilang nggak rasional, nggak logis, nggak profesional, nggak profitable dan sebagainya dan sebagainya karena baca belum cukup tau tafsir dan penjabarannya. Yakin saja, bahwa pada sebuah masjlis orang yang nderes Qur’an, maka malaikat akan turun berduyun-duyun dari berbagai tingkat langit untuk melingkari para penderes Qur’an seraya menyeru seribu satu doa kebaikan dan keberkahan. Tak perlu khawatir do’a tak dikabulkan sebab dosa-dosa yang terlalu banyak. Qur’an memberkahi, malaikat mengamini. Tau kan malaikat nggak punya dosa?
Tak apa. Dideres saja.
Dan nyatanya, batinmu senantiasa merasakan ketentraman dan kelegaan tersendiri habis menunaikan rutinitas nderes Qur’an, kan?
Tak apa. Teruslah nderes, sambil berdo’a dan berupaya untuk selalu dipahamkan kata demi kata, ayat demi ayat, suroh demi suroh juga juz demi juz. Artinya, tadabburnya, tafsir-tafsirnya. Semuanya.















