Hari ini merupakan hari peringatan. 10 tahun yang lalu, takdir-Nya merubah tata kehidupanku. Drastis. Memberi pemahaman mengenai apa apa yang hidup nantinya akan kembali kepada Sang Pencipta. Tidak ada makhluk yang kekal di dunia.
Ya, genap 10 tahun yang lalu aku kehilangan salah satu malaikatku. Sebut saja malaikat itu adalah ayah. Bagiku, ayah adalah sosok yang serba bisa, bisa diandalkan pada banyak hal. Terlebih untuk saat ini, aku rindu pelukan dari sosok yang menguatkan.
Aku hanya ingin mengenang, kembali ke masa yang telah lalu. Mengingat bahwa keberadaanku sekarang tidak terlepas dari sosoknya, selama 10 tahun pula aku dilahirkan di dunia.
Kukira 10 tahun terhitung waktu yang cukup singkat. Namun jika diberi kesempatan untuk flashback, 10 tahun itu menghadirkan beribu kenangan bersamanya. Sempat terselip dalam benakku bahwa ini semua tak adil, dibanding dengan ketiga kakakku, mereka telah menghabiskan waktu bersama ayah lebih lama. Aku pun merasa 10 tahun itu waktu yang tidak cukup untuk mengenal lebih dekat siapa sebenarnya sosok ayahku. Meski begitu, memori bersamanya masih cukup melekat.
Yang aku tahu, paling tidak sosoknya adalah seorang purnawirawan TNI AD, seseorang yang kuat, tegas, disiplin dalam berbagai hal, dan sekali lagi, sosok yang serba bisa.
Di sini, aku akan mencoba mulai mengingat hal-hal yang masih melekat dalam memoriku ketika bersamanya.
Ingatan awalku berpangkal ketika ayahku memulai kegiatan-kegiatan yang bisa mengisi hari demi hari selama masa pensiunnya, seperti hobi bercocok tanam di kebun belakang rumah. Kebunku cukup luas, mulai dari pohon pisang, kelapa, nanas, rambutan, nangka, belimbing, alpukat, kecipir, dan lainnya. Semua hasil kebun serasa berlimpah. Ini nikmat yang masih lekat bagiku. Seringkali aku digendong, bahkan diingkling kalo orang jawa bilang, meskipun dianggap tak sopan sebenarnya.
Awal tahun berada di taman kanak-kanak, aku masih ingat betapa semangatnya untuk berangkat ke sekolah. Menggunakan seragam baru, tas baru, sepatu baru. Gelinya, sepatu baru yang masih berada dikardus, sesampai di rumah, aku mencoba memakainya berulang kali hingga terbawa tidur dimalam harinya.
Aku masih ingat gambar dua gunung yang berjejer, di tengahnya terdapat matahari yang bersinar, dan awan awan yang mengelilingi serta burung-burung yang terbang bergerombol. Kemudian tergaris jalan yang mengerucut ke arah dua gunung itu. Lalu diberilah torehan pensil warna hitam dari tangan ayahku yang sepertinya membentuk tiang-tiang listrik, terkadang juga pohon-pohon yang berada di tepi jalan. Dengan torehannya, lukisan di buku gambarku terlihat makin bagus. Ayahku rajin meraut pensil tulis dan pensil warnaku. Orang dahulu belum segetol jaman sekarang yang keika ingin menajamkan pensilnya tinggal menggunakan rautan. Ayahku biasanya menggunakan alat semacam pisau kecil atau biasa disebut dengan silet.
Begitu berada di sekolah dasar, ibu seringkali melarangku untuk membeli es bungkusan yang dijual di sekitar area sekolah. Harganya paling dua ratus rupiah, sudah dapat mengobati rasa haus di siang hari, menemani menyusuri jalan menuju pulang ke rumah bersama teman-teman yang lain. Meski dilarang, aku acuh untuk mematuhinya. Sampai ketika jam pulang, aku kedapatan sedang menyeruput es di depan sekolah oleh ayahku, beliau tak mempermasalahkannya. Naiklah aku ke motor ayah. Sesampainya di depan rumah, disuruhlah aku lari ke kebun untuk segera menghabiskan sisa es tersebut dan dengan bisikan ayah,
“Jangan sampai ketahuan mama”, aku menurutinya begitu saja.
Mengapa aku menganggap ayahku serba bisa? Begini salah satunya, aku merasa tak perlu khawatir akan kelaparan ketika ibu tak berada di rumah. Ayahku jago memasak. Yang paling melekat dimemoriku, ayah memasak ikan tongkol sambal tomat. Jangan tanya rasa. Sudah pasti terngiang di lidah ketika teringat. Hingga sekarang akupun hobi makan ikan tongkol. The taste, it’s so delicious ever!
Zaman masih bocah, mungkin TK atau hampir SD, aku masih takut untuk berjalan sendiri menuju ke kamar mandi meski di rumah sendiri. Jadilah aku meminta ayah untuk menemani. Namun ayah menanggapi dengan ogah-ogahan. Akupun segera mengancam ketika berada dipangkuannya,
“Kalo ayah enggan menemaiku ke kamar mandi, ayah mau aku pipis di sini?”, ancamku.
“Ya situ kalo mau pipis di sini”, ayahku membiarkan.
Mungkin ayah menimpali begitu agar aku mau tidak mau untuk berjalan ke kamar mandi tanpa ditemani. Namun responku sebaliknya. Aku pipis di pangkuannya seketika itu.
“Wah sembarangan..”, kata ayah sedikit mengumpat, ketika celana trainingnya terasa basah-basah hangat.
Akhirnya ayah segera mengajakku ke kamar mandi. Tak dipungkiri, aku mengingatnya sambil senyum geli.
Semakin tahun, aku sadari kesehatan ayah memburuk. Bolak-balik periksa ke dokter, rutin kontrol ke rumah sakit, hingga rawat inap. Seringkali aku ikut menemani ketika ayah opname. Apabila tempat tidur pasien sebelah kosong, sudah pasti jadi tempatku dan ibu berbaring di malam hari. Ya, kehidupan di rumah sakit memang tak begitu menyenangkan bagiku.
Selain ikut merasakan baringan itu, aku juga berinteraksi dengan keluarga pasien lain dalam satu ruangan, berteman dengan salah seorang anak dari pasien sebelah. Ada saatnya aku harus ikut pulang dengan kakakku, meninggalkan ibu sendiri menemani ayah. Ketika esok hari datang, aku harus berangkat ke sekolah. Yang biasanya diantar ayah, pagi itu aku diantar oleh teman dekat kakakku sebagai gantinya. Namun pagi itu, aku merasa diterka rindu yang bertubi-tubi kepada ayah. Aku sudah memakai seragam merah putih dengan rapi, sepatu dan sudah melahap beberapa suap nasi. Seketika aku lari ke dapur. Mengalirkan inginnya hati yang tak terbendung, menangis tersedak rindu, tak ingin menuju ke sekolah. Aku meronta, mengelak tak ingin. Yang aku ingin hanya bertemu ayah ibu.
Dan yaaa...kakakku berhasil membujuk untuk reda dari tangisku dan berangkat ke sekolah.
Beberapa kali, aku sempat dihadirkan dalam keadaan yang sungguh berkabung. Saat itu juga aku didera kekhawatiran yang dalam. Namun kupendam. Diam.
Berbagai macam alternatif pengobatan pernah dicoba, namun tak jua membaik. Hingga aku paham waktu-waktu tertentu di mana ayah mulai batuk-batuk, dan kemudian sesak napasnya. Ya, itu kambuh.
Kondisi saat itu, di rumah hanya ada ayah, ibu dan aku. Kakak pertamaku sudah berkeluarga, sedangkan kedua kakakku yang lain masih melanjutkan studi. Kambuh pada malam hari mungkin jadi hal yang diingat. Karena hal itu membuatku terjaga di larut malam, dengan wajah murung, sempat memijat-mijat bagian bahu belakang ayah untuk sedikit meredakan sesaknya. Hingga pernah di larut malam, seperti biasa asma ayah kambuh. Sudah dihisapnya inhaler hingga beberapa kali, meminum beberapa teguk air putih hangat, namun sesaknya tak kunjung reda, justru semakin menjadi. Hati kami mulai gelisah. Tak butuh waktu yang cukup lama, ibu memutuskan untuk membawa ayah ke rumah sakit seketika itu juga. Larut malam, ibuku langsung menggedor pintu tetangga depan untuk meminta sedikit bantuan. Dengan sigap, ibu mulai mengambil tas besar, diisilah dengan baju-baju ayah dan keperluan lain yang dibutuhkan. Sewaan angkutan kota pun datang, bantal dan tikar kecil langsung dimasukannya ke dalam. Dipakaikannya jaket tebal ayah, mereka meluncur ke rumah sakit terdekat yang ada di kota. Hal semacam ini tidak berulang hanya sekali dua kali, lebih dari enam kali. Aku tak begitu paham saat itu.
Waktu, tenaga, dan kondisi finansial sudah pasti menyusut. Seperti apapun keadaannya, aku salut dengan ibu, dengan ketelatenan, kesabaran dan ketabahannya dalam menghadapi hal semacam ini. Sebagai wanita, aku tersadar begitu penting untuk mempertimbangkan segala sesuatunya, membuat skala prioritas dari banyak hal, berpikir jangka panjang hingga pada akhirnya membuat keputusan yang tepat untuk dilakukan.
Sedikit menghela napas. Hmm
Entah seperti apa detailnya memori tersebut, hal itu telah kulalui. Tak terbayang jika aku berada di posisi ibu ketika itu. Menyadarkan diri untuk lebih berbakti kepada orang tua yang tinggal satu ini. Sebagai panutan hidup, aku masih perlu banyak belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah ibu arungi, hal sekecil apapun namun tak ternilai harganya.
Ayah, kaulah sosok pelukan-menguatkan-yang-paling-kudambakan. Aku selalu merindukanmu, aku selalu berpesan kepada-Nya untuk menempatkanmu di sisi terbaik-Nya dan harapan yang kusemogakan, selalu kupanjatkan agar suatu hari kita bertemu.
WE DO LOVE YOU, AS ALWAYS
Yogyakarta, 24th August 2016