A musing by the pillow
Halo reader… apa kabar semuanya ? sudah lama aku nggak update posting. Yap  karena aku baru saja dan masih diterpa badai praktikum yang menyita seluruh keidupanku, haha agak lebay ya. Jujur, praktikum di semester ini khususnya di praktikum Rangkaian Listrik memang menyita waktuku. Waktu untuk kuliah, istirahat, atau sekadar menyenangkan diri sendiri. Hampir setiap hari pulang malam sekitar pukul sembilan atau setengah sepuluh malam karena “mengantre” asistensi dengan asisten yang super duper eksklusif bin ajaib haha. Akan tetapi, praktikum ini akan segera berakhir sehingga tidak seberat hari – hari yang kulalui sebelumnya.
Seperti hari ini, hari rabu yang agaknya cukup cerah hingga menjelang sore menyapa. Aku bisa pulang lebih awal sekitar pukul empat sore. Aku memutuskan lekas pulang karena ingin mengistirahatkan tubuhku yang dalam kondisi tak sehat. Sudah tiga hari ini suaraku mulai hilang. Kalaupun ada itupun diiringi desahan serak – serak tak menentu. Aku pulang mengendarai motor sambil merasakan seperti ada sedikit beban yang terlepas dari pundakku. Menikmati kesempatan untuk pulang sore untuk pertama kalinya selama kira – kira dua minggu ini. Nikmat dari Allah yang mana lagi yang aku dustakan…
Saat motorku akan tiba di pertigaan lampu merah, aku melihat ke sisi kiri jalan. Ada seorang ibu tua yang menggendong tumpukan bantal dan guling. Hatiku tiba-tiba tergelitik untuk menghampiri ibu tersebut. Aku memutuskan memutar balik arah dan melewati jalan yang sudah kulalui tadi untuk meneyusuri jejak sang ibu tua. Aku berusaha menebak arah kemana ibu itu akan pergi. Aku berbelok arah dan menunggu ibu tersebut di sudut kiri jalan yang cukup padat di sore ini.
Dan… tak kusangka sang ibu tua itu menyapaku dan menawarkan dagangannya kepadaku dengan logat jawanya. Beliau bilang belum makan sedari pagi. Tanpa berpikir panjang aku langsung menanyakan berapa harga bantal yang beliau jual. Harga satu bantal yang beliau jual adalah dua puluh ribu rupiah, sedangkan harga satuan gulingnya dua puluh lima ribu rupiah. Aku memutuskan membeli satu bantal berwarna biru dengan motif bunga – bunga yang cukup cantik. Aku menanyakan asal sang ibu. Beliau bilang asalnya dari Pati. Aku jadi teringat beberapa bulan yang lalu saat aku mampir di sebuah minimarket aku juga bertemu dengan seorang ibu dengan membawa dagangan yang sama dan beliau bilang asalnya juga dari Pati. Aku menerka – nerka bahwa keduanya adalah orang yang sama. Setelah aku membayar bantal yang kubeli aku melihat ada raut wajah senang dari wajah beliau.
Sepanjang jalan pulang, jantung ini masih berdegup kencang. Entah rasa apa yang sedang kualami. Ada rasa puas setelah bertemu dengan orang – orang seperti sang ibu tua ini. Ini bukan pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini. Aku merasa ada kenikmatan batin yang aku terima setelah bertemu dengan sosok seperti beliau. Aku merasa Tuhan sedang mengingatkanku untuk terus bersyukur dengan hidup yang aku miliki. Aku masih mempunyai orang tua yang tak perlu berjalan jauh dari kota ke kota untuk mencari rupiah demi rupiah untuk menjamin hidup hari esok untuk tetap dapat merasakan sesuap nasi. Aku yakin sang ibu rela berjalan berkeliling menjajakan dagangannya dari kota Pati menuju Semarang hanya untuk keluarga yang beliau sayangi di rumah. Aku tak bisa membayangkan bila sang ibu tua itu adalah ibuku. Memulai membayangkannya saja sudah membuat  tetesan air mata berjatuhan.
“Teruntuk Ayah dan Ibu, terima kasih atas tetes demi tetes keringat dan perjuangan kalian hingga detik ini untuk kami semua. Jauh disini, aku berusaha menjadi yang terbaik. Aku akan berjuang agar aku bisa memberikan yang terbaik untuk kalian di hari tua. Membiarkan kalian beristirahat menikmati hari tua kalian. Membiarkan kalian menikmati hidup setelah bersusah payah menghidupi kami hingga menjadi diri kami saat ini.
Terima kasih untuk sang ibu penjual bantal dan guling yang sudah menjadi perantara renunganku hari ini. Terima kasih untuk Tuhan yang masih memperkenankanku untuk berbagi dengan sesama dan memberikan kenikmatan batin yang tak terkira.
 Semarang, 18 Mei 2016
-michira-
 Ps : tulisan ini bukan bermaksud untuk riya. Hanya ingin berbagi kisah – kisah hidup sebagai sebuah renungan.














