311224
DESEMBER
Satu bulan ini, hujan lebih sering turun daripada November. Hampir setiap hari. Rasanya ingin rebahan saja tiap saat, tapi nyatanya pekerjaanku tidak mau kompromi dengan hujan, maksudku pekerjaan harianku. Meskipun hujan aku tetap ke pasar, aku tetap mengurus rumah, aku tetap mengurus menthok-menthokku, aku tetap harus bergerak. Tidak ada alasan karena hujan, aku bisa tidur siang atau setidaknya aku bisa tidur lebih awal. Aku tetap harus stand by di warung dari jam 05.30 sampai 21.00, meskipun hujan.
Bulan ini ada acara besar, nikahan sepupuku. Dari awal aku sudah dikasih bagian sebagai tim wira-wiri, “gantiin masmu ya, biar masmu jadi penerima tamu”, katanya. Dan aku dengan sadar menyanggupi. Ya daripada aku bosan dengan acara ini itu resepsi pernikahan. Dan benar saja, waktu dua hari pernikahan, aku benar-benar wira-wiri kesana kemari. Bahkan mungkin kalau dikalkulasi, aku berada di tempat acara tidak sampai satu hari. Aku tidak menyaksikan acara akad maupun resepsi. Parahnya, tidak ada fotoku sama sekali.
Aku tidak masalah selalu pergi kesana kemari membeli ini itu. Yang jadi masalah adalah hujan. Hujan tidak mau kompromi untuk reda dua hari saja. Acara tetap jalan seperti seharusnya. Dan aku lah yang harus menerobos hujan untuk membeli apa saja yang kurang. Seperti, hampir jam 5 sore harus ke pasar membeli cabai dan kentang yang habis, pasar yang hanya tinggal beberapa penjual yang masih buka dan kondisinya yang tidak ramah ditengah hujan deras. Atau hampir jam 9 malam harus mencari kopi dan tolakangin. Dengan payung yang takut tiba-tiba terbang, dan bagian bawah celana yang basah. Selalu seperti itu didua hari.
Pada keribetan menerobos hujan, aku membuktikan tentang sebuah sugesti. Katanya semua yang terjadi sesuai dengan sugesti. Makanya tiap ada tugas keluar dan menerobos hujan, dijok belakang motor yang dikemudikan sepupuku, di bawah payung yang kupegang seerat mungkin, ada mantra yang kuucapkan berkali-kali dalam hati, “jangan sakit sekarang” atau “aku nggak sakit”. Sebenarnya aku hanya meneruskan ucapan orang-orang yang selalu bilang, “jangan sakit” padaku, setiap bertemu denganku di tempat acara. Ditambah beberapa hari sebelumnya memang satu per satu keluargaku sakit secara bergantian. Kecuali aku. Dan dengan mantra itu, aku berhasil mensugesti diriku sendiri untuk tidak tumbang minimal sampai acara selesai, tapi ternyata sampai saat ini aku masih sehat, ya meskipun ada lah yaa batuk pusing dikit wkwkwk.
Dan satu hal yang aku sadari, ternyata menjadi orang yang bisa diandelin dan berguna ini sangat luar biasa rasanya. Peluk diriku sendiri.
Akhir tahun ini, tidak ada acara khusus seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena masih sibuk dengan acara setelah pernikahan yang menurutku kenapa ribet banget. Tapi yaa namanya juga tradisi, siapa sih aku berani protes??
Kalau sekarang aku masih versi bocil, mungkin sekarang aku sudah sibuk dengan terompet dan kembang api. Tapi sekarang dengan versi diriku saat ini, tidak ada lagi perasaan excited itu lagi. Bahkan saat menulis ini, aku sedang rebahan jaga warung sendirian karena keluargaku yang lain ada acara di rumah sepupuku, melihat orang-orang yang akan merayakan pergantian tahun, rasanya biasa. Sepertinya energiku sudah habis.
Dahlah, sehat-sehat kita.












