Barnabas Sarikrama
Bagi saya buku ini menarik, meski ada bagian-bagian penting yang terlewatkan. Barnabas Sarikrama adalah generasi Katolik Jawa pertama yang ada di Kalibawang Yogyakarta. Dari buku lain, saya mencoba membangun benang merah kisahnya. Bermula dari dilarangnya Sadrach berkarya oleh pendeta Calvinis Frans Lion Cachet, karena dianggap mengajarkan kekristenan yang menyimpang, Kristen tanpa Kristus, maka komunitas Sadrach di Kalibawang, sebanyak 32 orang, di bawah pimpinan Barnabas Sarikrama akhirnya melakukan perjalanan ke Muntilan untuk menemui van Lith, seorang Romo Katolik.
Mereka memilih menemui van Lith yang memang mengajarkan kepada murid-murid Jawanya, bahwa menjadi Katolik itu tidak harus kemlanda, tetap harus mempertahankan kultur dan unggah-ungguh Jawa. Sebelumnya, van Lith memang sudah lama mengamati gerak Sadrach, dan tertarik dengan metode kekristenanannya. Sempat terjadi surat menyurat antara Sadrach dan Van Lith, tulis Karel Steenbrink di Buku Orang-Orang Katolik di Indonesia, Minoritas yang Percaya Diri.
Jadi perjalanan mereka menuju Van Lith bukan suatu kebetulan, metode inkulturasi budaya yang dicetuskan Coolens yang Protestan ternyata memang tidak bisa diterima oleh watak puritan Calvinis, akhirnya metode ini ditangkap oleh Katolik melalui van Lith, yang mewujud dalam umat Katolik pribumi seperti Barnabas Sarikrama ini. Inkulturasi sendiri akhirnya pada Konsili Vatikan 2 diadopsi sebagai metode Katolik untuk menyapa aneka kultur dan bangsa di berbagai belahan dunia.















