Membangun Mimpi yang pernah Mati #CH2
Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia..
Berlarilah..tanpa lelah,
Sampai engkau.. meraihnya..
Saya tidak yakin saya memiliki mimpi. Apalah saya yang sampai detik ini hanya mengandalkan Let it Flow. Saya juga tidak pernah bercita-cita menjadi dokter dan cita-cita yang sering dielukan anak-anak tentang sebuah profesi. Saya mengandalkan danem untuk masuk SMP atau SMA. Saya juga nggak muluk mau masuk SMA favorit, bahkan saya bingung untuk melanjutkan kuliah dimana. Saran orang tua saya, masuk IPA saja, biar gampang milihnya. Oke saya manut dan mencoba SPMB yang berakhir di Sastra Indonesia UM dikarenakan kebodohan saya salah melingkar LJK. Ohh damn! Padahal saya niatnya masuk Farmasi atau Sastra Inggris lah minimal. Hahaha. Dan akhirnya saya berakhir di Teknik Kimia Poltek. Bukan passion juga sih. Ah,,kalo nggak nyambung sama mata kuliahnya ntar juga diajari dosennya, pikir saya.
Setelah lulus pun ngga ada bayangan mau kerja dimana. Ikut ajakerja kalo ada lowongan ya ngelamar, diterima ya Alhamdulillah. Ngga diterima ya coba lagi. Sampai saya terdampar di Cikarang. Lagi-lagi hanya mengikuti arus. Sampai pada akhirnya saya mulai jenuh. Ngga ada gairah. Tidak menemukan passion. Kerja, pulang, beli makan lalapan pecel ayam, gegoleran, besoknya repeat. Paling weekend main sama temen. Ngga jelas juntrungannya, duit gajian abis mulu. Nabung cuma buat keluyuran ke Singapore sama Thailand. Bulan depannya harus pengiritan makan nasi uduk tiap hari. Mau sampai kapan?
Saya pun mulai serus menanyakan hubungan saya sama si KangMas. Mau sampai kapan juga pacaran mulu. Mau dibawa kemana hubungan ini. Saya kerja berasa cuma ngisi waktu luang. Karena ngga dilamar-lamar dengan dalih masih sama-sama mbabat alas, pun akhirnya saya memutuskan kuliah (lagi). Melanjutkan jenjang DIV Teknik Kimia kelas karyawan di Bandung agar hidup saya lebih berisi. Agar pikiran saya tidak mati. Agar duit gajian saya terarah menjadi berkah. Dan sebagai pelarian saya ngga kawin-kawin hahaha.
Selain itu motivasi saya kuliah adalah agar bisa ikut Indenesia Mengajar. Karena saya sudah daftar IM, terkendala ijazah yang cuma Diploma. Saya ingin berbagi ilmu sambil jalan-jalan. Mimpi yang saya kubur rapat-rapat karena pada akhirnya setelah lulus DIV saya harus menikah (fyi: IM ngga boleh nikah dulu selama dinas). Saya bahkan sudah mendaftar jadi Relawan 1000 guru (daftar di Jakarta untuk Teaching and Traveling di Lampung) yang juga kandas ditengah jalan karena keburu kembali ke Malang. Pun saya sudah mendaftar Kelas Inspirasi saaat sudah kembali ke Malang yang akhirnya kandas juga karena mendekati due date lahiran anak pertama. Fiuhhh. Mungkin belum berjodoh ya.
Seseorang pernah bilang, kalau kamu tidak mempunyai tujuan, maka kamu akan berakhir ditempat lain.
Itu saya. terombang ambing tanpa misi dan visi sampai akhirnya saya menikah. Menjalani kehidupan rumah tangga yang Insya Allah bernilai ibadah. Mendedikasikan diri menjadi Ibu dan berharap mencari Ridha-Nya dan ridha suami. Resign dari huru hara perkntoran demi mereka, anak-anak yang selalu menunggu saya di rumah. Saya seorang yang ngga bisa lama tinggal di rumah dan senang bekerja di luar harus tiba-tiba banting setir ngendon di rumah dengan segala tetek bengek pekerjaan yang tiada habisnya.
Tapi lama-lama saya menikmatinya. Namun seperti masih ada yang kosong. Seperti ada yang kurang. Saya belum menemukan mimpi saya lagi. Sesuatu yang mebuat saya berapi-api. Sampai saya menemukan sebuah komunitas Institut Ibu Profesional, Sekolah Ibu dan Tahsin Metode Ummi. Ibu-ibu luar biasa yang mendedikasikan diri untuk keluarga, ranah public dan untuk ummat. Mereka sukses dari dalam rumah, membangun pondasi yang kuat dari dalam rumah, dan menebar manfaat di luar rumah. Ibu-ibu yang meninggalkan anaknya setelah semua kewajiban terpenuhi dan membagi ilmu di luar untuk ibu lainnya, mengisi kajian, mengisi majelis ilmu dan menyebar segala kegiatan positif di lingkungannya. Saya iri sekali. Apalah saya yang tidak memiliki apa-apa untuk di bagi. Bahkan untuk mengajar anak mengaji kadang masih belepotan dengan tajwid, panjang pendek harakat, makhrojatul huruf dan ghorib. Sungguh saya merasa fakir. Sungguh saya merasa gagal bahkan menjadi ibu-pun sangat kurang. Bagaimana saya bisa menebar manfaat?
Disanalah saya mulai merangkai mimpi baru. Mimpi yang saya simpan rapat-rapat. Saya mulai aktif menulis, tak apa meski tak digaji, asal bisa berbagi. Saya melihat Ustadzah saya tahsin, yang sampai dibelain bawa anaknya yang balita agar bisa mengajari kami mengaji dari nol. Sungguh membuat saya terpacu (lagi). Saya berkonsultasi pada beliau tentang sertifikasi agar bisa mengajar dengan metode Ummi. Saya ingin belajar kemudian mengajar mengaji. Sesederhana itu. Kata beliau sebelum sertifikasi harus lulus tashih dulu. Tashih itu ujian, nah kalo lulus baru bisa ikut sertifikasi. Kalau belum lulus harus ikut pembinaan dulu. Getoh. Panjangg yaaa, Lha iya kalo cepet mah jadi ngga ada usahanya. Hehe.
Katanya Ibu adalah madrasah pertama dan utama buat anak-anaknya. Masa iya saya suruh anak saya belajar mengaji pada orang lain. Tugas ibu bukan cuma mengandung, melahirkan, menyusui, memberi makan. Kebutuhan rohaniah anak juga harus terpenuhi. Kuatkan iman dan bangun pondasi dari dalam rumah, agar kelak mereka tidak kaget kalau dunia diluar itu tidak sepenuhnya baik.
Tidak hanya untuk anak-anak saya saja. Saya juga ingin mengajar pada anak-anak lainyya. Anak-anak itu adalah penerus generasi Rabbani yang akan membangun Bangsa ini. Mereka kelak yang akan memakmurkan masjid di era jaman yang mulai bejat ini. Saya juga ingin membuka rumah baca di rumah saya. Anak-anak dan teman-temannya bisa memiliki ruang untuk membaca. Saya ingin menghidupkan budaya literasi yang mati suri. Buku adalah jendela dunia. Buku menghidupkan imajinasi. Minat baca anak jaman sekarang sangat rendah karena mereka lebih sering membaca gadget. Ibu lebih senang anaknya anteng melihat tayo daipada merepotkan menggagngu pekerjaan dapur. Sungguh disayangkan. saya juga sih kadang-kadang. wkwk.
Selain itu, saya membayangkan amal jariyah saat saya mati. Saya ini ndak punya tabungan apa-apa. Apa yang dijanjikan Allah tentang doa anak shalih dan amalan jariyah tentang ilmu yang bermanfaat bisa mengalir di kubur nanti. Disitu mulai saya kejar, disitu saya mulai meniti dn membangun mimpi pelan-pelan. Bayangkan bisa mengajari anak menghapal dan membaca surat Al-Fatihah. Surat yang setiap shalat dibaca berkali-kali. Shalat yang sehari minimal wajib lima kali belum sunnah dan rawatib. Surat yang akan dibaca selalu sampai mati. Sayang sekali kalau orang lain yang mengajari dan mendapat pahala jariyah itu, bukan saya, ibunya…
Kalau ibu lain yang anaknya banyak saja bisa mengisi halaqah, bisa mengisi kajian dan menghadiri majelis taklim. Saya pun mulai belajar dari mereka, mengapa saya tidak bisa? Saya ingin bermanfaat buat orang lain. agar tidak sia-sia hidup ini. Hidup yang cuma sekejap mata. Mungkin sekarang saya belum siap. Insya Allah suatu hari nanti…
Karena Tuhan tau… tapi menunggu…
“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” ― Andrea Hirata, Sang Pemimpi
“Hiduplah Untuk Memberi yang Sebanyak-banyaknya, Bukan untuk Menerima yang Sebanyak-banyaknya. (Pak Harfan)” ― Andrea Hirata, Laskar Pelangi
“Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri, adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri. (hlm. 197)” ― Andrea Hirata, Padang Bulan
“Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia” ― Andrea Hirata, Sang Pemimpi
Malang, 18 Desember 2017


















