Hanya Sebentuk Pikiran
“Lu gak tau aja kalau di fakultas gua, pelajarannya berat banget.” “Segitu mah masih belum ada apa-apanya. Ya, gua harus belajar 10 bab.” “Mata kuliah di fakultas gua susah-susah, gak kayak di fakultas Y.” “IP segitu gampang dapetnya di fakultas Z.”
Pernahkah kamu mendengar celotehan singkat semacam itu? Mungkin celotehan itu keluar dari mulut temanmu, atau mungkin saja kamu mendengarnya saat sedang duduk di kereta sambil memandang dua orang mahasiswa mempertengkarkan fakultas siapa yang lebih sibuk. Hal ini klise. Begitu klisenya hingga bahkan percakapan semacam ini tidak hanya aku dengar saat sedang bercakap-cakap, tapi juga saat aku sedang chatting sambil menatap layar handphoneku.
Sesungguhnya, pentingkah mendebatkan siapa yang lebih hebat dan siapa yang lebih sibuk? Apakah kamu bisa benar-benar membandingkan kemampuan? Pantaskah bila saat ini aku sebut talentamu dalam bernyanyi pastilah lebih baik daripada dia yang jago memasak? Apakah ketika kamu sibuk sama artinya dengan kamu hebat?
Ini bukan sebuah postingan sindiran. Hanya saja kadang aku berpikir, bolehkah kalimat semacam itu benar-benar terucap dari mulut seseorang? Ketika kamu mempelajari matematika, tentu saja kamu bisa menimbang seberapa sulit, seberapa menarik, dan seberapa sukanya kamu pada pelajaran tersebut. Namun apakah adil ketika kamu berkata bahwa matematika itu lebih sulit dibandingkan menggambar, saat kamu bahkan tidak pernah mencicipi sensasi “sulit"nya menggoreskan garis demi garis di selembar kertas? Mungkin bagimu, itu hanya sekumpulan titik yang berjajar membentuk garis. Namun apakah kamu bisa benar-benar membuat garis yang sama persis dengan orang itu?
Sejujurnya, aku hanya ingin bilang bahwa setiap kemampuan itu berharga. Setiap kemampuan yang kamu atau orang lain miliki itu beragam. Ketika kamu bisa mengerjakan X dengan kapasitasmu, belum tentu kamu bisa mengerjakan Y dengan kemampuan yang sama baiknya dengan talenta X-mu. Saat seseorang tengah menceritakan betapa sulit dan lelah bagi dirinya untuk bertahan di fakultasnya, apakah pantas bagimu untuk membandingkan kesusahanmu dengannya? Kamu bahkan tidak melewati hal yang sama dengannya. Sama halnya dengan dia yang tidak melewati kesusahan yang kamu alami. Ketika kamu mulai membandingkan, apakah itu benar adil?
You will really know and understand the sweetness of candy, only after you have eaten it. When you try to compare it with sugar, it means you are just guessing; you don’t even know how it taste. How could you compare?








