Kamu nggak pantas aku cintai kalau kamu mengatakan salah satu hal di bawah ini, atau beberapa, atau bahkan semuanya kepadaku.
“Itu warna asli bibir kamu nggak enak banget diliat, coba deh pake lipstick.”
“Nih coba shading di bagian ini dan ini biar hidung kamu keliatan mancung.”
“Coba shading di bagian ini, ini, sama di sini biar bentuk muka kamu keliatan jadi begini (a.k.a cantik)”
“Nih pake mascara biar keliatan lentik. Terus dijepit ya.”
Sampai kapan aku harus menutupi wajah asliku yang benar-benar tidak bisa diubah?
Jujur saja, aku menyukai bermain-main dengan apa yang orang-orang bilang make up. Aku suka warna lipstick yang agak pinky, terlihat manjis jika kupakai. Sesekali aku juga ingin terlihat mancung, mancung itu cantik, begitu yang kupikirkan. Wajahku terasa lebih cantik tanpa cacat jika dipakaikan benda-benda tersebut. Benda-benda itu memang bertujuan membuat cantik pada setiap pemakainya.
Tetapi, bagaimana pun juga, beginilah wajah asliku. Ketika aku menghapus segala sentuhan benda-benda itu di wajahku, terlihatlah wajah asliku di kaca. Dan seperti apa yang orang-orang bilang, tidak ada yang sempurna di dunia ini, pun wajahku. Terdapat jerawat-jerawat kecil yang telah hilang satu tetapi tumbuh seribu, warna asli bibirku yang tidak semanis jika dipakaikan lipstick, dan lain-lainnya.
Kemudian sejak ramainya benda-benda yang membuat cantik itu muncul, para perempuan tidak ragu untuk menghabiskan uangnya demi tampil cantik. Cantik yang sementara. Gimana ya, aku perempuan, aku tentu ingin tampil cantik, menjadi cantik, tetapi aku sudah pada titik di mana aku mulai mempertanyakan pengertian cantik yang sebenarnya. Cantik itu yang alisnya rapi, bentuk muka begini, hidung begitu, warna bibir kayak gitu. Kurang lebih begitulah pengertian cantik di lingkunganku.
Aku tidak menyalahkan benda-benda yang membuat cantik itu, aku hanya menyalahkan diriku yang ternyata tanpa benda-benda cantik itu aku menjadi tidak menyukai diriku yang sebenarnya. Aku merasa bahwa aku terlalu sibuk mengurusi tampilan yang padahal hanya sementara. Memang sih tampilan adalah hal pertama yang dilihat, tetapi apakah aku sudah “mempercantik” diri pada hal yang utama?
Lagipula, kata Ibu aku cantik apa adanya dan aku percaya padanya. Yah, walaupun aku tahu, setiap Ibu pasti selalu mengatakan hal itu kepada putrinya, kan?
Inti dari tulisan ini adalah apa yang akan aku tuliskan selanjutnya. Ibuku mencintaiku apa adanya karena dia tidak memfokuskan pada hal yang pertama. Dia memperhatikan hal yang utama. Itu kan yang seharusnya orang-orang lihat kepada orang yang ia sayangi?
Apa hal yang utama itu? Mungkin sesederhana kamu yang menjadi sebaik-baiknya diri kamu, bukan hanya pada tampilan, melainkan juga sikap.
Dan untuk para perempuan yang membaca tulisan ini, percaya deh bahwa kamu cantik walaupun tanpa benda-benda yang membuat cantik itu. Nggak percaya? Coba lihat di kaca. Senyum. Katakan pada dirimu bahwa kamu cantik, dan sesederhana itu, kamu akan menjadi cantik.
Sesederhana senyum dan kepercayaan diri yang ada pada dirimu, kamu akan menjadi cantik.