Mencerna Rasa
Terlalu banyak duka, katamu.Â
Rasanya air mata ini tak perlu usaha lagi untuk menampakkan diri. Alirannya tak perlu dikontrol lagi. Mungkin ia sudah otomatis, sudah terlatih berkali-kali.Â
Katamu, dunia ini akan selalu penuh suka duka. Ya, kedua hal yang saling bersahut-sahutan. Kedua hal yang saling beriringan. Rasanya baru saja tertawa lepas, tapi setelahnya kita menjadi bungkam menahan napas. Kita harus pintar memilah rasa, katamu.
Kau tahu kan, kita memang sedang diuji.Â
Kau tahu kan, ini adalah ujian-ujian itu.Â
Ujian kesedihan, yang rasanya bergejolak.Â
Ujian kesenangan, yang rasanya sama--bergejolak.Â
Rasa yang hadir, bukan lagi nano-nano. Ya, rasa yang hadir akhir-akhir ini bukan lagi tidak punya nama, tapi ia sudah punya kelompok. Bulan kesedihan, atau jangan-jangan hingga akhir tahun kita akan terus kedatangan anggota baru?
Ah, aku tak pandai menghitungnya. Aku pun tak pandai mencerna rasanya. Aku hanya pandai menerimanya.
Kau bilang, kesedihan hanya akan menghabiskan energi. Sudah. Tutup semua rasa sedih ini. Hingga aku pun menatapmu sedih. Bagiku, menikmati kesedihan adalah salah satu proses. Mencerna semua rasa yang masuk ke sukma adalah proses. Aku tidak bisa membuangnya, meski aku benar-benar ingin. Aku tak bisa memusnahkannya, meski aku ingin sekali hidup ini berjalan dengan damai.Â
Tak apa, kita berbeda kali ini. Tak apa kita berbeda dalam mencerna rasa yang hadir kali ini. Kau mungkin akan menghindari kesedihan, mencoba melapangkan dada agar semua yang menimpamu adalah hal-hal indah. Kau tak salah, mungkin begitu caramu dalam belajar menerima, memilah rasa.Â
Dan bagiku mencerna rasa bukan hanya tentang memilah rasa yang harus kuterima. Tapi juga mencoba menikmati rasa yang tak ingin kuterima. Menikmati--menikmati hingga tak payah lagi jika aku dihadapkan dengan semua jenis rasa sedih--pun suka.
Bagiku, sedih itu syukur. Bagiku di dalam kesedihan itu banyak sekali hikmah.Â
Tak apa ya, bahwa aku hanya ingin menangis di pundakmu meski kau sebal kali melihat air mata yang jatuh itu. Tak apa ya, biar kita sama-sama belajar menerima tentang hal sulit. Tak apa ya, biar kita sama-sama tahu tentang bagaimana mencerna rasa dengan bijak dan hati yang luas.Â
Iya, katamu. Tak apa. Asal setelah sedih ini, aku harus bisa mewarnai semua kelabu yang terukir. Timpa saja warnanya, tidak masalah jika agak redup. Setidaknya dengan itu warna-warna hidup akan tetap indah. Ku tersenyum. Bagaimana bisa, seseorang yang sangat membenci itu akhirnya bisa menerima.Â
Sejak saat itu, aku tahu bahwa manusia yang hampir tidak pernah merasa sedih itu tidak pernah lagi protes jika tiba-tiba aku menumpahkan semua air mata tanpa ijin di pundaknya.Â
Bisiknya, ijinkan saja rasa sedih singgah, mungkin ia hanya sekadar mampir, tak berniat menetap.
***
Sebuah Cerita.
Tidak apa jika ingin sedih. Cerna saja semua rasa sedihmu. Semua hikmah dibungkus dan semua kesal ditinggal.Â
**Juli. Masih dalam pandemi, masih belajar adaptasi.










