Hello Desember !!
Hai desember.. Maaf bila waktuku menyapamu jatuh di hari kedua. Tak mengapa bukan ?? Aku rasa belum terlambat untuk sebuah awal. Pagimu tersambut oleh cahaya fajar, cukup mengejutkan. Karena yang aku tau kau adalah bulan dingin yang terkadang tak berperasaan. Yah, kau menyambut bumi lebih ceria dan hangat, semoga tak kau turunkan dingin yang teramat hebat. Itu hanya inginku.. Hai desember,, dirimu adalah penutup, namun penantianku kian berlanjut. Apa kau tau bahwa aku telah menjumpaimu tiga kali dalam penantian. Aku masih menyapamu di tempat yang sama, tak beranjak kemana-kemana sejak hari dimana aku berdiri di tempat ini. Sudahkah kau sampaikan salamku padanya, salam rindu yang selalu ku titipkan padamu, pun pada bulan-bulan lainnya. Kau tau, angin dinginmu seringkali membuatku goyah. Bahkan terkadang aku menggigil karena rindu yang terus saja berada di puncaknya, juga olehmu dengan mendung yang seringkali menghiasi hari-hari selanjutnya. Namun aku bersyukur, setidaknya hari ini kau membuatku hangat. Dengan begitu aku mampu mengisi semangat untuk tetap tak beranjak. Tapi, apakah ia yang jauh di seberang sana juga sama. Yang aku tau terkadang angin membisikkanku tentang ia yang seringkali melalang buana. Betapa menyedihkan terkadang. Hanya saja hatiku meski puluhan kali patah karenanya, ia tetap menyimpan rasa walau kadangkala untuk sesaat mengasingkannya. Hei desember, aku masih banyak berharap. Langit doaku masih penuh dengan percakapanku dengan Tuhan. Desember, kali ini aku mencoba sekali lagi menitipkan padamu. Sampaikan segala salam yang telah ku ungkap. Bila siang tak mampu membuatnya mendengar, mungkin malam dengan kesunyiannya mampu menggemakan. Hei desember,, mari kita bersahabat. Kau adalah akhir penutup tahun ini, bisakah kita saling mendampingi. Setidaknya hibur aku dengan kenangan indah yang akan ku buat dan kau adalah hal teristimewa dalam hidupku untuk pertama kalinya. Yahh,, karena kau desember, bulan pertama kali ku sapa, saat aku menghembuskan nafas di dunia.











