Di blogku ada kategori tulisan #LOQLC yang artinya Lessons of Quarter Life Crisis. Yang memang sengaja aku bikin kategori sendiri untuk menuang apa saja yang sudah aku pelajari semasa krisis diri. April 2019 aku mengalami krisis diri yang parah. Dan memutuskan untuk menutup semua media sosial selama 3 bulan. Kecuali whatsApp untuk berkomunikasi dengan keluarga dan blog. Aku juga meninggalkan semua grup komunitas. Dalam diri rasanya berisik. Aku sampai melayang rasanya. Kehilangan diriku sendiri. Aku sampai tak tahu apa yang sebetulnya kuinginkan dan kutuju. Orang-orang 'hanya' bisa menasihati "sabar dan syukur". Sampai-sampai aku muak dengar dua kata ini. . "Aku HANYA ingin didengar!" Begitu jerit batinku. Tapi ada satu yang bertahan dan percaya denganku, ya hanya beliau yang ada di foto ini. Hanya beliau yang percaya bahwa aku PASTI mampu melewati semuanya. Hanya beliau yang mau mendengarkan semua keluh kesah tanpa interupsi. Sebelum pandemi, bahkan dua kali beliau mau bersusah diri tidak kerja demi menemaniku ke psikiater. Atas kegigihannya, dan entah mungkin kekeras kepalaan beliau, aku mulai pelan-pelan merangkak. Aku mulai mampu mendengarkan diriku sendiri. Bahkan sekarang aku tak peduli jika orang tak menyukai diriku. Aku hanya harus percaya pada diriku sendiri. Rasanyah itu cukup. Terima kasih, Sayang atas kekeraskepalaanmu untuk bertahan. Terima kasih atas kekeraskepalaanmu untuk percaya. Dan terima kasih Ade, kamu sudah mau bertahan sejauh ini. Terima kasih. Aku sayang Kakak, aku sayang aku. https://www.instagram.com/p/CDxfR1AAENq/?igshid=1lnxhjc7k7yuk










