Di Dadamu, Aku Tenggelam: Semoga Sebuah Haiku.
Seminggu kemarin aku bolos dari kelas, gara-gara ngeliat warna merah di kalender yang banyak itu jadi tergiur melepas penat (jalan-jalan, -red) dari senen sampe minggu.
Jadilah aja diseret masuk “Barisan Para SR” lagi, barisan murid-murid bandel lagi haha. Maapiin yaaaak maaapiiin :D
Jadi ceritanya pe-er angkatan 5 itu disuruh ngejelasin soal “HAIKU”--pertama denger soal haiku sih otak langsung terbang ke Jepang, komik? manga? anime? atau malah tokoh-tokoh dalam yang kusebut tadi haha.
Karena penasaran, langsung deh searching--Apaan sih Haiku?
Dan beginilah yang dapat kurangkum;
Haiku adalah salah satu jenis puisi Jepang yang dianggap sebagai puisi pendek dan berasal dari permainan haikai no renga yaitu permainan puisi berantai, semacam berbalas pantun di Indonesia yang populer pada abad ke-14. Sebelum dan saat zaman Edo (sekitar abad ke-17), istilah haikai maupun hokku, yang berarti bait pertama, lebih banyak digunakan. Baru pada zaman Meiji (sekitar abad ke-19), istilah haiku (berarti bait dari haikai) menjadi populer setelah dilakukan pembaharuan oleh Masaoka Shiki. Haiku memiliki aturan yang mengikatnya yaitu aturan teikei yang mengharuskan setiap haiku terdiri atas 17 silabel (5,7,5) disertai dengan penggunaan kigo. Kigo adalah kata yang menunjukkan musim kapan haiku tersebut dibuat.
Keberadaan kigo sangat penting dalam haiku karena dapat mengungkapkan secara jelas tentang empat musim, baik keadaan alamnya maupun perasaan penyair pada tiap-tiap musim tersebut. Penyair yang membuat syair haiku tanpa kigo dianggap tidak memiliki rasa peka terhadap alamnya.
pola 5-7-5 ini merupakan bentuk dasar haiku. Namun, ada juga haiku yang tidak mengikuti pola tersebut. haiku yang memiliki lebih dari tujuh belas suku kata disebut ji amari (kelebihan huruf atau suku kata) dan haiku yang kurang dari tujuh belas suku kata disebut ji tarasu (kekurangan huruf atau suku kata). Selain itu, ada juga haiku yang menyimpang dari susunan yang berlaku, yakni berjumlah tujuh belas suku kata, tapi susunannya tidak 5-7-5 melainkan 7-5-5 ini disebut kumatagari.
Di luar Jepang, terutama di Barat (mungkin awalnya dari penerjemahan haiku Jepang) haiku mengalami degradasi dengan absennya beberapa prinsip dasar hokku (haiku klasik). Pola sajak 17 suku kata itu menjadi tidak ketat diikuti. Akhirnya haiku di barat hanya tampil sebatas bentuk pendeknya saja.
Dalam bahasa Jepang, kaidah-kaidah penulisan haiku sudah pakem dan harus diikuti. Dalam bahasa lain, kadang sulit untuk mengikuti pola ini, dan biasanya menjadi lebih longgar. Ini diperkuat oleh pernyataan dosen jurusan sastra jepang FIB UNPAD Otsuka Hiroko
Haiku tersebut ditulis oleh bahasa negaranya sendiri. Namun, untuk Haiku bahasa asing, aturan silabel tidak terlalu ketat. Begitupun aturan tentang Kigo-nya. “Haiku Indonesia banyak yang menggunakan judul seperti syair pada umumnya, tetapi Haiku Jepang tidak menggunakan judulnya,”
Yang uniknya, Haiku tidak memiliki rima/persajakan (rhyme). Haiku "melukis" imaji ke benak pembaca. Tantangan dalam menulis haiku adalah bagaimana mengirim telepati pesan/kesan/imaji ke dalam benak pembaca HANYA dalam 17 silaba, dalam tiga baris saja!
Ini haiku buatanku, semoga benar sesuai dengan kaidah yang ada hehe. Walaupun bikinnya gak terlalu terpaku dengan kaidahnya sih.
Sebatang rokok
menyesap secangkir kopi
dalam gigil hujan
Semarang, 9/5/2016
Pukul 0.34
Sudahkah malam lewat?
Nyatanya gelap semakin pekat.
Semarang, 9/5/2016
Semalam, Puan
Aku memimpikan kau
Lelap dalam dekapanku
Bibir kita saling berpagut
Lidah pun tertaut
Dua pasang lengan kita satu sama lain membalut
365 hari, Sayang.
Aku terjerat gelung rambutmu yang menjelaga
Aku tenggelam di dadamu sedalam-dalamnya.
Jadi, kurang lebih begitulah Haiku. Karya tulis atau produk sastra khas Jepang--yang pada akhirnya diakulturasikan serta diserap oleh hampir seluruh dunia.
Semoga pun Haiku buatanku benar-benar Haiku haha.
Dapet pencerahannya dari marih:
Sini
Jendela Sastra
Wordpress mbak yang suka Haiku
Webnya UNPAD
Lapor @kelaspuisi @rintikkecil , Tugasku sudah kelar.