Different Styles
Di Indonesia, rumah masih ngontrak aja motornya ada 2, lengkap dengan mesin cuci, kulkas, dispenser, dan TV plasma. Alasannya jelas, pengen dianggap berbeda.
Padahal orang yang berada betulan, biasanya menggunakan uangnya untuk investasi. Mengerem sementara keinginan membeli barang-barang elektronik, agar uangnya bisa di pakai untuk beli rumah atau tanah yang kenaikan harga per tahunnya semakin menggila. Barang elektronik hanya akan jadi rongsokan.
Di beberapa negara, saat ini sedang ngetrend gaya hidup minimalis. Orang-orang berlomba mengosongkan rumahnya dari segala perabotan. Hanya punya sedikit baju, kasur seadanya, laptop untuk kerja, sudah, itu aja. Tidak sumpek, malah lapang, mood pun senang.
Di beberapa negara, punya mobil adalah kampungan. Hanya golongan petani yang tinggal di pedesaan yang punya mobil, itu pun karena berfungsi untuk mengangkut logistik pertanian. Sedangkan orang kota lebih suka jalan kaki dan naik sepeda. Kalau pun ada mobil, biasanya dibiarkan sampe berdebu di garasi.
Di Indonesia, mobil adalah simbol kekayaan. Cicilan rumah belum lunas, keburu kredit mobil. Padahal mobilitas juga belum tinggi, belum jadi orang sibuk, cuma gara-gara tetangga punya mobil terus ikutan dari pada kelihatan miskin.
Seneng amat nyenengin pihak bank. Semakin banyak utang, semakin banyak bunga yang di bayar, nggak sadar di peras bankir.
Punya perabotan banyak itu boleh selama rumah kita sendiri. Punya mobil juga boleh, selama pondasi ekonomi sudah kuat. Apa yang terlihat oleh mata hanyalah cover luar. Untuk apa luarnya bagus dan mapan, tapi yang di dalam justru keropos.
TheFacts, 12 Desember 2017













