“Hallo, selamat malam dengan kedai kwetiau mas amin, adayang bisa dibantu?”
“selamat malam cantik, getol banget kerjanya udah malembegini
“ah kamu mas kebiasaan, kenapa gak telpon ke handphoneku aja sih?”
“memang ndak boleh aku pesan kwetiau nya satu?”
“boleh aja sih, tapi apa ndak bosen makan kwetiau terus? Nanti ususmu jebol ndak diisi nasi”
“ah, ndak apa-apa, lagi pengin yang anget-anget, aku pesen kwetiaw rebus ya, ndak usah dianter, setengah jam lagi aku sampe, aku makan disana aja sekalian nemenin kamu, oke?”
“oke deh kalo kupingmu dah kebal dengerin nasehatku, cepet ya nanti keburu anyep”
Benar-benar menjemukan hidup ini, kerjaku cuma angkat telepon sambil halo-halo sepanjang hari. Jangan kaget kalau aku sudah hafal semua suara pelangganku. Barusan tadi itu tunanganku, rencananya satu bulan lagi kami akan menikah. terkadang aku merasa kesal karena hampir setiap hari dia pesan kwetiau dikedaiku ini, mungkin dia hanya merasa iba melihat keluarga kami yang tiba-tiba dilanda krisis moneter part dua. Ayahku harus menjalani operasi dan pengobatan tetek bengek lainnya, sedangkan adikku sebentar lagi harus bayar wisuda. urat-urat kepalaku sudah menonjol keluar seperti anak sd yang dipaksa manggul beras. Sebenarnya,aku tidak perlu tersinggung akan cara tunanganku menjadi pelanggan setia kedai ini, tetapi dia baru saja operasi usus buntu 3 bulan lalu. Kalau hal buruk terjadi kan aku juga yang repot, masa batal nikah karena usus buntu? Memalukan.
Ah.. sampai lupa kwetiaunya!
Sudah satu jam, biasanya kalau dia bilang setengah jam artinya satu jam, tetapi dia belum muncul juga.
Aku panaskan lagi kuah kwetiaunya. Tak biasanya selama ini dia ngaret. dia selalu menyebalkan soal waktu. Rasanya aku ingin memecahkan jam tangan kado ulang tahunku darinya, dia berkata bahwa aku harus selalu memanfaatkan waktu yang ada, mengingat semua waktu yang berlalu, dan tak pernah menghentikannya. Tapi kemana dia..
Kwetiaunya sudah bengkak, kuahnya pun sudah dingin, sedingin malam ini.
Lebih baik kubereskan kedai ini, lima belas menit lagi sudah pukul dua belas malam. Tak ada bintang di luar sana, apalagi bintang jatuh. Percuma berharap ia datang.
Ini sudah malam ke tiga puluh Sembilan, berarti sudah tiga puluh Sembilan mangkuk kwetiau ku biarkan dingin begitu saja setiap malamnya.
Orang bilang aku harus rajin baca ayat-ayat doa agar diriku bisa tenang tanpanya, dan dia tenang tanpaku. Orang bilang semua ada hikmahnya, tetapi mereka tidak beritahu apa hikmahnya.
Aku bahkan tak mau memasang jam dimanapun, aku benci suara detik-detik itu berjalan, tidak.. mereka bahkan berlari, jauh meninggalkan aku.
Andai saja dia tak pernah pesan kwetiau sialan ini, mungkin ia tak akan dirampok dan dihunus oleh manusia-manusia bejat itu. Dia baru saja operasi, dia benar-benar pergi dalam kesakitan. maafkan aku..
Malam ke-40, kwetiau ke-40, namun sedihku sudah tak terhitung. Dia sungguh pergi tanpa menghabiskan kuahnya.
Dia tidak mati, mungkin aku yang mati. Mati merindukannya.
Aku memandang meja makan dari balik lorong tempat aku duduk menantikan telepon.
Bukan, bukan suara dering telepon.
Itu suara sendok dan garpu,dia selalu benci bila saat makan aku membunyikan alat makanku. tapi malam ini..