Ce.rai
Topik mengenai divorce atau perceraian atau perpisahan cukup menjadi perhatian saya akhir-akhir ini. Meskipun bukan perhatian utama, namun ada beberapa informasi yang masuk terkait tema perceraian. Entah dari curhatan, bahasan Ustadz, sampai acara nyasar-nyasar ke jurnal.
Single kok bahas cerai, nikah aja belum? Gak apa-apa toh, kata guru asrama saya, alangkah lebih baiknya jika belajar pernikahan juga sekaligus perceraiannya. Setelah saya coba dalam beberapa waktu sedikit mengulik terkait perferaian, di sana juga saya mendapatkan banyak pelajaran. Seperti, menjadikan kasus-kasus perceraian pelajaran untuk kemudian memilih pasangan atau mengetahui hukum-hukum perceraian jika di depan nanti ada sesuatu yang tidak sesuai.
Untuk penelusuran di dunia maya dan dengan segala keterbatasan saya, saya nyasar kepada ketahanan keluarga sebenarnya. Namun, di tengah-tengah ada bahasan tentang banyaknya penggugat cerai / khulu' di Pengadilan Agama. Khulu' merupakan sebuah cara gugat cerai perempuan dengan cara mengembalikan mas kawin yang telah diberikan tentu kepada suami. Kalau talak biasa, yang berhak melakukan talak adalah suami. Kalau ini, istri. Tentu konsekuensinya juga berbeda dari talak biasa.
Padahal saya sedang cari terkait komitmen, tapi keburu penasaran dengan khulu' ini, pasalnya, seberapa berani dan alasan apa saja yang diajukan oleh penggungat untuk melakukan khulu'? Tadinya sekalian saya teringat dengan nasihat dari rekan guru BAQ, banyak pula aktivis yang bercerai. Sebabnya apa? Entahlah, beliau tak katakan lebih lanjut. Sambil dicari mudah-mudahan ada.
Kembali lagi, ke alasan Khulu', menurut salahsatu jurnal, disebutkan yang tertinggi adalah tidak harmonis disusul oleh suami yang tidak memenuhi nafkahnya, disusul oleh lain-lain seperti pihak ketiga, masalah ekonomi, dan sebagainya. Keluarga yang tidak harmonis ini salahsatunya dipicu oleh ketidakmengertian laki-laki terhadap perempuan, perempuan yang banyak mengalah, dan merasa tidak sanggup lagi. Pun juga ketika tidak mencukupi nafkah, tak hanya nafkah lahir, nafkah bathinnya juga bermasalah. Saya punya gambaran sedikitnya, laki-laki ini mengapa tidak meningkatkan skill untuk berumahtangga sih?
Nah, tak lama menemukan artikel yang menyebutkan sekolah ibu sebagai salahsatu upaya untuk mempertahankan keharmonisan rumahtangga. Hanya pertanyaannya kok sekolah ibu sih? Bapak kemana? Tentu menuai kritik, karena yang berumah tangga bukan hanya Ibu, tapi juga Bapak.
Sembari membaca berita-berita itu, saya berdoa semoga di masa depan saya dan teman2 yang berumahtangga dijauhkan dari perceraian. Entah itu talak ataupun pahitnya khulu'. Selain jalan akhir yg tidak disukai, Kondisi psikologis orang yang bercerai kan setidaknya ada semacam guncangan tertentu.
Lanjut ke jurnal selanjutnya, angka perceraian di Jawa barat juga meningkat. Saat ini, jawa Timur yang paling atas. Mirisnya lagi, ada daerah yang banyak janda karena banyak yang bercerai. Saya cukup menghela nafas. Dan jadi lebih penasaran dengan detail-detail kisah perceraian itu.
Di Jurnal-jurnal disebutkan tingginya khulu' karena efek dari semakin meleknya perempuan terhadap informasi, dan pendidikan gender yang marak. Sehingga, perempuan itu memiliki power untuk bertahan. Pun juga perempuan yang memiliki penghasilan sendiri, disinyalir jadi kekuatan pendorong juga karena tidak lagi bergantung kepada suami. Kupikir ya baguslah kemajuan daei perempuan-perempuan ini. Namun tidak bagus ketika angka khulu' nya tinggi. Lanjut ke pertanyaan, ada apa?
Menurut Ust. Dudi, tingginya Khulu' karena sosok laki-laki ini sudah hilang wibawa, dia tidak bisa lagi memimpin rumahtangganya dengan baik. Saya artikan, laki-laki ini tertinggal dari kaum perempuan dan tidak berusaha lebih banyak untuk menghadapi kaum perempuan yang semakin melek.
Saya juga sempat berpikir mengenai pergeseran nilai perkawinan yang sangat transaksional seperti yg dikatakan oleh Toffler, manusia sulit untuk membangut hubungan yang mendalam, ya hubungannya dangkal saja.
Bisa jadi, sebenarnya laki-laki sekarang sedang ketakutan dengan membatasi akses perempuan, pengurangan pekerjaan untuk perempuan, Why? Apakah laki-laki sudah sulit bersaing dengan perempuan? Harusnya tidak ya.
Akhirnya saya kaget sendiri, ketahanan keluarga terancam karena tingkat perceraian semakin meninggi. masalah perceraian ini belum selesai, ada anak yang menjadi tanggungjawab mereka orangtuanya. Saya tahu, mendidik anak bukan hal mudah, ditambah dengan kondisi cerai. Hfpt. Tapi, karena beragamanya tingkat perceraian, balik lagi harus mengedukasi masyarakat secara cukup.
Cicalengka, 27 Mei 2019


















