Freaky n greedy. . .
seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from China

seen from United States

seen from Brazil

seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from T1
seen from Argentina

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Maldives
seen from France

seen from Canada
seen from United States
seen from United States
Freaky n greedy. . .

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Image Description: a picture of Mohamad al-Khansa wearing a revealing outfit and performing on stage. He’s holding the mic and singing into it with his other hand high up in the air. He’s a muscular man wearing a sheer sleeveless shirt with a lot of holes in it of various sizes along with a high waist speedo and a mesh sequins skirt over it. Next to him is the mic stand with a small synth. The image has a warm slightly orange lighting. End Description
Known by his stage name, Khansa, the Beirut-based artist is a male Lebanese belly dancer, and a relative anomaly in an art form that has long been dominated by women. Khansa says he is a multifaceted artist, using vocals, recorded music and performance art in addition to belly dancing in order to express himself.
image source: @KhansaKhansaKhansa
text source: [link]
This picture makes me so happy
a collection of thoughts ive been having
(adé is a lion because its the symbol of liberation)
Zahzah X Khansa. ‘Khayef’. [Mohammed Abdel Wahab cover 2017].

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Warsha
directed by Dania Bdeir, 2022
Menjaga
Media sosial sekarang semakin ganas, ya. Orang beropini sedikit, tetapi opininya ga cukup populer di kalangannya, langsung dihujat abis-abisan. Artis ga beropini apa-apa dibilang gaada kepedulian. Influencer berbicara tentang usahanya meraih mimpi, langsung diceletuk "lo mah enak orang kaya!".
Kok serba salah banget sih, atau lebih tepatnya, kok menyalahkan terus, sih?
Ketika orang memberi opini yang berbeda dari opini sebelumnya, langsung dihujat munafik. Ketika orang memberi tips untuk sukses, langsung disanggah "ga semua orang hidupnya (enak) kayak lo!".
Padahal poin penting dalam menjadi manusia adalah belajar. Belajar dari kesalahan. Belajar dari masa lalu. Belajar dari orang lain. Belajar biar jadi lebih baik. Kita ga suka, kan, kalau dinilai dari masa lalu?
Juga, aku pernah belajar sedikit, dalam membangun usaha, segmenting menjadi sorotan awal. Siapa yang kita jadikan sasaran untuk beli produk? Kurang lebih bisa juga itu diterapkan dalam membagikan tips. Nggak mungkin Maudy ngasih tips "cara diterima di dua universitas ternama!" dengan sasaran anak-anak yang bersekolah di pelosok. Jangankan luar negri, ke Jakarta buat mereka mungkin rasanya udah kayak pergi haji.
Di dunia yang semakin banyak suara ini, apa kita pernah benar-benar memahami, untuk siapa sebenarnya suara itu dituju? Jangan sampai banyak energi terbuang karena mengurusi hal-hal yang jawabannya sederhana—atau lebih parah, meladeni suara yang ga ditujukan untuk kita.
Di dunia yang semakin banyak suara, semoga kita nggak lupa untuk menjaga hati dan pikiran dari suara-suara keruh.
Di dunia yang semakin banyak suara, aku harap aku bisa lebih mendengarkan. Bukan sekadar berbicara tanpa etika.