EGO
tak' perlu banyak definisi tentang keegoisan, seperti kata D'Masiv " apakah hatimu terbuat dari batu tak pernah kau hiraukan aku, perdebatan ini takkan pernah usai bila kita tak saling mengalah" representasi egois itu laksana batu. Batu akan selalu menjadi batu, perlu waktu yang sangat lama untuk melunakkannya, dengan tempaan air, tetesan hujan, guncangan, panas,
atau jika perlu dipaksa hancur dengan dentuman palu bertubi-tubi. Hati manusia bukanlah batu, maka janganlah diperlakukan keras sama seperti zatnya. Lunakkan hati bak batu dengan sentuhan kerendahan hati, belaian kasih sayang, ucapan santun nan tulus bukan yang menancap seperti paku – menikam bagai martil. Hati yang sudah keras membatu terkadang hanya bisa lunak ketika tangan Tuhan bertindak, Dia akan memecah keegoisan itu dengan mengujinya, memberinya cobaan, membuatnya menangis meneteskan air mata dari sela-sela kepadatan hatinya yang keras, membuatnya hancur remuk-redam, tak ayal yang dilakukan Tuhan sebenarnya adalah tidak sekedar melunakkan hatinya tapi bahkan mengubah batu nan keras itu menjadi intan yang bersinar melalui gemblengan.












