2020: Adaptasi Seluruh Umat
Tidak ada yang menyangkal bahwa 2020 ini bukan tahun yang mudah bagi siapapun, termasuk bagi kami, kaum sub urban yang pelan-pelan tinggal di Surabaya. Beradaptasi dengan segala bentuk kegiatan daring sebenarnya bukan hal yang menyenangkan di awal. Bahkan boleh dikatakan sedikit āmengganggu kejiwaanā. Bagaimana tidak? Maret 2020 lalu, ketika semua pembelajaran harus online, saya masih malas menyalakan kamera BBB (Big Blue Button), karena keterbatasan koneksi dan hemat paket data. Hingga akhirnya saya dan suami dapat rejeki patungan wifi sama tetangga kosan kala itu, hidup kami sedikit lebih terhubung. Meski patungan hanya satu bulan, karena per 1 Juli 2020 kami pindah dari kos, ke kontrakan di daerah Gunung Anyar, ujung timur Surabaya.Ā
Apa aja adaptasi yang harus saya lalui di 2020?Ā
Pertama, saya harus beradaptasi dengan budaya pertanyaan,Ā ākapan punya anak?ā. Sepanjang tahun, tak bisa dihitung pertanyaan tersebut datang kepada saya (dan mungkin juga suami) tentang kapan kedatangan anak. Awal-awal, rasanya mau misuh, tapi ujung-ujungnya saya cuma nangis. Tidak sedikit beberapa kali justru berujungĀ ākonflikā dengan suami hanya karena kami berbeda menyikapi persepsi tersebut. Memang, kalau dihitung-hitung, pertanyaan tentang anak lebih sering mampir datang ke saya, daripada suami. Mengingat, saya yang dititipi rahim sama Allah. Buat saya, nggak mudah untuk bisaĀ āselaluā mati rasa dan bijaksana mengucapkan,Ā āiya, mohon doanya saja ya, semoga Allah beri kesempatan kami untuk menjadi orangtuaā. Sumpah, itu nggak mudah buatku. Kalopun saya bisa senyum dan tenang menjawabnya, beberapa menit kemudian saya nangis sendirian.Ā
Tapi, bagaimanapun, saya juga yang punya hak atas tubuh titipan ini, mau digunakan untuk apa. Saya belajar untuk pelan-pelan memahami mindset ini, agar tidak sedih. Haha. Yang paling utama, rahim ini titipan Allah, termasuk fungsi dan segala manfaatnya juga titipan Allah. Entah kapan Allah mengizinkan ada ruh di dalam rahim ini, sama sekali bukan hak saya untuk menjawab. Mereka yang bertanya, sungguh salah alamat. Semoga kedepannya, Valina bisa lebih sabar menghadapi pertanyaan yang tidak terkontrol itu, bisa lebih asertif untuk menyampaikan bahwa pertanyaan itu tidak nyaman untuk saya, dan lebih-lebih jangaaaaaan sampai itu justru jadi bikin nangis dan konflik dengan pasangan, meski dalam rumah tangga tidak mungkin tanpa konflik, paling tidak, hal ini tidak perlu jadi list konflik lagi di tahun 2021, aamiin ya Allah. Sungguh hamba sedih jika harus mengingatnya. Jangan biarkan hati kami rusak oleh mulut orang lain, ya Allah yang Mahalembut. Dan izinkan kami untuk sembuh, bila ada salah satu diantara kami yang memang dalam kondisi tidak sehat dan berdampak pada fertilitas kami, ya Allah yang Mahakasih. Izinkan kami untuk jadi keluarga yang kuat dalam ikhtiar, walau kami paham sepenuhnya takdir adalah atas kemurahan Allah Al Hadi.Ā
Adaptasi kedua, tidak lain dan tidak bukan adalah kegiatan belajar mengajar di kampus. Subhanallah, mata panas dari pagi ke pagi menghadap laptop. Ganti satu ruang zoom ke ruang zoom berikutnya sempat membuat saya stres dan rambut semakin rontok. Begitu juga dengan jam kerja yang membuat saya lupa pergantian hari. Kalau diteruskan, sungguh ini membuat mental saya tidak sehat. Tahun 2021 ini, saya belajar untuk lebih asertif berkataĀ ātidakā jika memang hal-hal yang diminta oleh orang-orang di luar kapasitas saya sebagai manusia. He he, semoga Allah izinkan saya untuk berani namun tetap santuy dan santun. Maafkan saya ya Allah jika permintaan ini terkesan muluk-muluk.Ā
Adaptasi revisi rencana dan ketahanan keluarga. Semenjak menjalani kehidupan sebagai pendidik, baik saya maupun suami sama-sama memiliki kewajiban untuk studi lanjut. Pertanyaan lagi nih cuma ngga seberapa baper ya: KAPAN SEKOLAH LAGI? :) Allah, mohon jaga mimpi kami, terlebih jaga ikhtiar kami dalam mengejar cita-cita kami, dimanapun itu, semoga Engkau berikan kekuatan pada kami. Ada yang mengatakan,Ā
āmumpung belum punya anak, segera cari sekolah dan beasiswa S3ā³
āenaknya belum punya gandolan bisa mengejar cita-cita sebebasnyaā
āKamu apa ngga sebaiknya sekolah profesi aja?ā
āKamu itu harusnya bersyukur, kamu kira punya anak itu gampang, adjust sama mimpi-mimpi kamu itu nggak mudahā
Waaa pusing kan kalo ditanggepi semua? Sebenernya menarik sih semua pernyataan di atas, dan kurasa niatnya baik semua kok. Hanya saja, mereka mungkin nggak tahu (alias ngga perlu tahu) rencana keluarga kecil kami: rencana pengelolaan finansial beserta alokasi yang akan kami laksanakan di 2021 insyaAllah (mudahkan kami ya Allah), prioritas kesehatan juga jadi yang utama. Jadi, buat kami yang sungguh pas-pasan ini, mengelola keuangan agar cita-cita dan rencana kami terealisasikan tanpa harus hutang, adalah perjuangan banget. Kalau tidak ada manusia di muka bumi ini yang menghargai, paling tidak saya dan suami bisa menghargai cita-cita dan perjuangan kami bersama. Walau deg-degan, keputusan sudah diambil dan saatnya doa kenceng supaya ikhtiar cita-cita bertumbuh di Surabaya bisa direalisasikan denganĀ āKUATā.Ā
āJangan terlalu hemat, sekali-kali makan enak dong!āĀ
Kalimat itu pernah hadir, bahkan sering singgah. Mereka tidak pernah tahu bahwa saya pernah muntah setelah memberanikan diri seumur-umur ngga pernah makanĀ āALL YOU CAN EATā, dan akhirnya berujung pusing dan mual. Keluar restoran langsung muntah. Ternyata lebih enak pesen daging slices di tetangga (yang jual dengan harga murah, Bund, 52ribu untuk 500 gram haha), dan saya masak sendiri dengan racikan saya sendiri, dengan porsi sesuai kebutuhan saya sendiri. HAHAHA, ini salah satu pengalaman unik dan penuh makna. Suami saya cuma bilang,Ā ādah lain kali ngga usah kayak orang-orang makan all you can eat, perut kita ini cocoknya sama lele di pojokan rungkut itu loh sayangā HAHAHAHA.Ā
Ya, benar sekali. Selama studi 2018 lalu, kami selalu sepakat untuk hidup tidak saling memberatkan satu sama lain, dan kami paham bahwa beasiswa ini sifatnya sementara. Jangan sampai terkena ingar bingar gemerlap luar negeri, lalu gaya hidupnya jadi mevvah tak terarah. Meski ngga pasang target harus nabung berapa, tapi kami sangat sama dalam hal menabung, hahaha. Alhamdulillah, tabungan itu jadi jalan Allah untuk kami bertahan selama 2020 ini. Intinya hemat di tahun 2018-2019 selama studi nggak sia-sia banget. Pun ketika 2020 mau ga mau harus superhemaaaaat dengan kondisi saya yang menjadi dosen akar toge dan suami yang masih nyari kerja. Sampai pada titik kami sama-sama memulai karir sebagai pendidik, kami selalu yakin: mau gimanapun nanti takdir kita, mau gimanapun nanti Allah kasih rezeki (penghasilan) kita, gaya hidup ngga perlu berubah. Jadi diri kita sendiri dan menikmati hal yang sederhana asal bersama-sama lebih nikmat kok.Ā
Jangan sampe hanya karena gengsi lalu tiap hari harus makan di restoran, jalan ke mall, lalu update di instagram sampai kayak jahitan benang, hanya untukĀ āagarā dilihat mampu. Ngga perlu.Ā
Jangan sampe jadi saling menyakiti satu sama lain hanya karena tudinganĀ ānunda anakā dari orang-orang yang memang ngga punya kontrol atas mulutnya namun selalu merasa punya hak untuk mengomentari hidup orang.Ā
Jangan sampai lupa sedekah, sebagian yang sedikit ini, ada hak orang lain juga yang harus dipenuhi.Ā
Sebisa mungkin, selama masih bisa mikir besok mau makan apa, ngga usah hutang. Kalo ngga mampu minjemin, ngga usah sungkan buat bilang di awal. Kita, tidak dituntut untuk jadi malaikat bagi semua orang, dan kita lah yang bener-bener tahu kondisi hidup kita, kemampuan kita. Sungguh 2020 ini pelajaran yang hebat banget soal utang piutang yang udah pernah saya bahas khusus di tulisan sebelum ini.Ā
Jangan salah cerita ke orang lain. Pernah nggak sih, di posisi selalu berusaha menjadi pendengar yang baik, namun giliran sangat butuh didengarkan, rasanya seperti dicacati terus. Well, it happened in 2020, dan semoga tidak diulangi lagi ya, ngga semua orang perlu tahu derita kita hahaha :D Lebih-lebih, jangan berharap sama orang lain ya Allah berapa kali sih harus dibilangi? :))
Dan yang terakhir: kadang kala, orang dewasa perlu kok kataĀ āJANGANā. Sesekali tidak apa keras dengan diri sendiri, karena self-love bukan perkara menyenangkan diri sendiri, tapi merefleksikan tutur dan perilaku kita apakah sudah sejalan dengan hakikatĀ āselfā diciptakan. Berat ya? Agak sih, cuma makin kesini makin yakin kalo kataĀ āJANGANā cukup bekerja dengan baik untuk meregulasi emosi, mengontrol perilaku konsumtif, mengendalikan pikiran supaya menilai orang lebih bijaksana (JANGAN asal justifikasi orang, misal gitu kalimatnya).Ā
2020, saya belajar memaknai kebersamaan dengan cara yang berbeda. Belajar memaknai bahwa saudara itu tidak hanya sekadar yang terikat darah. Belajar mengakui bahwa sehat adalah prioritas semua orang saat ini. Hehe. Campur aduk sekali kan refleksi akhir tahun 2020 ku? :)
Selamat datang 2021, selamat merapikan apa-apa yang berantakan di 2020. Sama-sama kita kuat ya. Aamiin.Ā
Gunung Anyar Tambak,Ā 1 Januari 2021 (ralat dikit, kebiasaan suka typo dan belum move on dari tahun sebelumnyaš)
@valinakhiarinnisa











