Halo dari Jeng Fufi
Halo! Whoa, ternyata setelah sekian lama nggak nulis apa pun selain email kerjaan dan caption instagram, memulai sebuah introductory post aja jadi susah ya hahaha. Mulai dari mana, ya? Nama saya Farrah tapi entah sejak kapan dipanggil Fufi. Somehow panggilan ini menjadi indikator kedekatan saya dengan orang. Manggil Farrah, artinya kenal. Manggil Fufi, artinya teman. Manggil neng, itu biasanya tukang ojek.
Iβm now in my late 20s (fakta yang sesungguhnya hingga saat ini saya masih dalam tahap denial hiks), sedang juggling antara karir dan keluarga. Dulu saya bercita-cita jadi wanita karir keren yang pake blazer kece, pointy heels, bawa tumbler starbucks tangan kanan, diantar sopir, sambil ngempit smartphone; βsay bentar yah gw mo meeting penting nih! Byee!β Nyatanya setelah hampir 6 tahun bekerja, saya masih medhok ngga bisa ngomong lo gue, tiap hari kucel ke kantor karena terhimpit ratusan manusia di KRL serpong jakarta, dan kerjaan saya secara garis besar bisa dibilang adalah jualan susu.
Saya punya suami satu anak satu, seorang bayi yang menurut saya sih paling lucu paling pinter paling cantik sejagatraya bernama Kinara. Bayi yang sudah membuat rotasi dunia saya berubah arah selama sepuluh bulan terakhir.
Dan sodara sodara, ketahuilah bahwa punya kehidupan balance antara kerjaan dan keluarga dan senang-senang, di Jakarta, itu hanyalah mimpi belaka. Kalau ada yang kelihatan menjalankannya dengan mudah bahagia, oh sesungguhnya itu hanya pencitraan hahaha. Pada kenyataannya banyak hal yang harus dikorbankan. Buat saya, yang paling terasa adalah alokasi waktu untuk bersosialisasi.
Menolak ajakan buber karena lebih pilih pulang cepat ketemu anak, menolak ajakan hangout nonton film karena menjadi yang terdepan posting now watching itu sudah nggak penting lagi, mengurangi frekuensi ketemu teman karena pilih goler-goler di rumah di waktu weekend. Jujur, lepas kuliah, saya ngga punya lagi banyak teman. Kenalan, rekan kerja, tetangga, mungkin banyak. Tapi mereka adalah tipe yang setelah pindah kerja, pindah rumah, atau nggak ketemu lama, untuk ngobrol di whatsapp pun jadi bingung mau ngomong apa.
Lain halnya dengan Jeng-jeng. Dengan mereka, saya ngga pernah kehabisan bahan obrolan. Dengan mereka, saya ngga ketemu setahun tapi tetap merasa sama dekatnya seperti ketika kami ketemu di kelas 11 tahun yang lalu. Dengan mereka, saya bebas cerita mulai dari gosipin kembang sekolah hingga curhat suami kok main game terus *loh*. Memiliki this circle of friends adalah satu hal yang sangat saya syukuri. Suami aja suka iri, karena dia tahu nggak semua orang seberuntung ini.
Semoga project blog ini bisa kontinyu dan membuat kita makin ikrib yes!








