Cara pandang, Islamic Woldview #2
Dalam perjalanan yang dipenuhi banyak ketakpastian kita sering kali melupakan kesejatian.
Dalam perjalanan yang menemui banyak ragam keunikan kita lupa mensyukuri keberadaan.
Sibuk dengan segala perasangka.
Sibuk dengan mencari pembenaran atas apa² yg tampak didepan mata, tanpa sekalipun bersungguh-sungguh mencari kebenaran yg sejatinya.
Padahal segala rupa yang diperbedatkan manusia tak lain karena kekurangan ilmu pengetahun. Lebih banyak dari kita yang tidak sabaran tanpa pernah mau bersabar mencari ilmu yang benar.
Manusia melupakan hakekat penciptaannya, manusia melupakan hakekat diri sebagai hamba, manusia melupakan memenuhi akal jiwa dan pikiran dengan tuntunan yg sejati, Al -Qur'an.
Sebagai muslim kita mulai melupakan kesejatian, bagaimana seharusnya berfikir dan memandang segala sesuatu dengan alam pikir islam atau worldview islam.
Akhirnya karena bukan lagi berpikir dan memandang kehidupan dan segala yg ada di dunia ini dengan worldview islam maka kita saksikan kekacauan² dimana-dimana.
Mereka mengira akal adalah rajanya, segala yang empiris adalah kebenaran dan segala yang metafisis hanyalah hayalan.
Kita pun mulai menolak menyandingkan nilai dan moral dengan sebab akibat akhirat. Ga ada urusanya.
Manusia mulai merasionalkan dan melogikan segalanya, bahkan keabsolutan Tuhan pun mulai dipertanyakan.
Berbalik dengan muslim yg memegang islamnya dgn kuat dan menjadikan wahyu sebagai landasan hidup ia pasti bertemu kebenaran dan kesejatian fitrahnya.
Jadi manusia tidak bisa lepas dari pandangan alam atau pandangan hidup, sehingga jika kita tdk menggunakan worldview islam dalam melihat segala sesuatu didunia ini berarti kita menggunakan worldview yg lain.
Karena tidak ada kata-kata netral, abu-abu atau samar-samar dalam worldview karena semuanya terkandung nilai didalamnya.












