"Setelah Jaga, Setelah Perpisahan"
Puskesmas pagi itu tidak terlalu ramai. Beberapa pasien sudah duduk menunggu antrean, sementara dokter internship itu menatap halaman dari balik jendela ruang periksa.
Enam bulan di Ciamis telah selesai. Banyak cerita yang tertinggal. Banyak orang baik yang harus ditinggalkan. Dan mungkin, ada satu nama yang sampai sekarang masih sulit dilupakan.
Kini ia melanjutkan perjalanan di tempat baru. Orang-orang mengira yang paling berat dari perpindahan adalah beradaptasi dengan pekerjaan. Padahal yang paling berat sering kali adalah membiasakan diri dengan kehilangan.
Kehilangan rutinitas yang dulu akrab.
Kehilangan teman seperjuangan.
Dan kehilangan seseorang yang diam-diam pernah menjadi alasan menunggu hari esok.
Seorang pasien mengetuk pintu. "Dok, tiasa lebet?"
Ia tersadar dari lamunannya, lalu tersenyum.
"Sumuhun, mangga."
Hari kembali berjalan seperti biasa. Pasien datang dan pulang. Obat diberikan. Keluhan didengarkan.
Di sela-sela kesibukan itu, ia mulai memahami bahwa tidak semua orang hadir untuk menetap. Sebagian hanya datang untuk mengajarkan kenangan, lalu pergi meninggalkan pelajaran.
Menjelang sore, langit perlahan berubah jingga. Ia memandang ke luar jendela dan tersenyum kecil. Mungkin ada rindu yang tidak akan pernah benar-benar hilang.
Tapi hidup tidak meminta kita melupakan.
Hidup hanya meminta kita melanjutkan perjalanan.
Karena terkadang, cara terbaik mencintai sesuatu yang tidak bisa dimiliki adalah dengan mendoakannya dari jauh, sambil tetap berjalan menuju masa depan yang telah menunggu. πΉ













