31 Mei 2026
Pagi 31 Mei 2026, perjalanan dimulai dari Banjar, melewati Tasikmalaya, Ciamis, lalu menuju Garut. Jalan yang panjang terasa begitu ringan. Ada semangat yang mengalahkan kantuk, ada harapan yang diam-diam ikut duduk di samping sepanjang perjalanan.
Tujuan hari itu adalah Gunung Papandayan. Gunung yang menyambut dengan udara sejuk, hamparan edelweiss, dan pemandangan yang membuat hati sejenak lupa pada segala beban.
Di tengah langkah menuju puncak, aku merasa sangat bersyukur. Bersyukur masih diberi kesehatan, masih diberi kesempatan melihat keindahan ciptaan Tuhan dari ketinggian. Namun di sela rasa syukur itu, ada sedikit rasa galau yang tetap ikut mendaki. Tentang seseorang yang masih tinggal dalam doa, meski belum tentu menjadi bagian dari masa depan.
Anehnya, hari itu aku juga merasa bahagia. Karena gunung mengajarkan bahwa tidak semua perjalanan harus berakhir sesuai keinginan. Yang terpenting adalah menikmati setiap langkahnya.
Saat matahari mulai turun dan perjalanan kembali menanti, aku sadar bahwa 31 Mei bukan hanya tentang perjalanan dari Banjar, Tasikmalaya, Ciamis, hingga Garut. Ini juga tentang perjalanan hati—belajar bersyukur atas yang dimiliki, menerima yang belum bisa digenggam, dan tetap menyimpan cinta dengan cara yang paling sederhana: mendoakannya dalam diam. 🌹☺️















