Nadia segera berlari menyusuri pematang sawah ke arahku. Tawa riang mengiringi setiap langkahnya. Segera ku usap ujung mata yang tiba-tiba basah ini. Ku lebarkan tangan untuk menyambut pelukannya.
“Asik Kak Ale sudah pulang! Nadia boleh ikut nemenin Kak Ale ke kolam lagi ya?” Tanya Nadia sembari menyeringai. Siapa yang bisa menolak permintaan dengan binar mata yang indah itu? Tentu aku mengangguk. Sepulang sekolah aku bekerja di kolam renang milik tetangga sebagai penjaga tiket. Areanya sangat luas, pengunjungnya datang dari kota dan kabupaten tetangga, bahkan di hari libur pengunjung datang dari provinsi yang berbeda.
“Kak Ale ganti baju dan sholat dulu ya. Nadia sudah makan?”
Nadia mengangguk kencang, “Sudah, Ibu tadi masak kangkung enak”.
Kami pun kembali menyusuri pematang sawah menuju rumah.
Rumah kami ada di balik dua petak sawah milik tetangga. Di sepanjang pematang sawah ini banyak sumber makanan bagi kami. Kangkung yang menjalar di sepanjang pematang, genjer, tutut, juga belut. Terkadang aku mengajak nadia memetik kangkung dan mencari tutut. Tentu dia bersemangat, karena bisa main lumpur sawah.
“Assalamualaikum!” Ucapku dan Nadia bersamaan saat sudah tiba depan rumah.
“Waalaikum salam! Ale makan dulu Nak sini bareng Ibu”, jawab Ibu yang sedang lesehan makan.
“Hadiah buat Ibu”, ucapku dengan senyuman terbaik.
“Apa nih, Le?”, Ibu pun tersenyum menerima gulungan kertas itu dan membacanya. Senyumnya mengembang dua kali lebih indah. Sesaat kemudian ibu menghela nafas pelan. Aku menerka, ibu sepertinya sedang melakukan penghitungan kilat yang sama denganku tadi. Tak lama kemudian Ibu kembali tersenyum dan mengusap kepalaku.
“Alhamdulillah, selamat ya anak sholeh Ibu. Ale tinggal sebut mau lanjut ke sekolah mana, nanti ibu temani daftar.” Ibu berhasil menyembunyikan keresahan dibalik senyum lembutnya.
“Apa itu Ibu?” tanya Nadia yang segera melompat ke pangkuan Ibu karena penasaran.
“Kak Ale dapat nilai bagus nih, Nadia”, jawab Ibu menunjukkan kertasnya pada Nadia.
“Wah Kak Ale pinter! Nadia juga mau seperti Kak Ale.”
“Amin. Atau lebih pinter lagi dari kak Ale gimana?” tanyaku pada Nadia. Nadia pun segera mengangguk dan tertawa.
Hari Sabtu ini pengunjung kolam renang cukup ramai. Sejak aku berjaga, setiap jamnya selalu ada pengunjung datang. Dari kejauhan kulihat sosok seorang bapak yang sangat kukenal. Senyum ramah selalu hadir di wajahnya, menyapa siapa saja yang berpapasan dengannya. Dialah Pak Rahmat, pemilik kolam renang ini.
“Assalamualaikum Ale. Eh ada Nadia juga ya”, sapa Pak Rahmat saat melihat Nadia di balik meja loket. Nadia hanya tertawa kecil dan melambaikan tangannya ke Pak Rahmat.
“Waalaikum salam Pak. Sidak nih Pak?” Aku melempar candaan kepada Pak Rahmat. Pak Rahmat terkekeh dengan suara beratnya.
“Bisa aja kamu, Le. Aman lah kalau ada Ale, Bapak percaya hehe. Gimana hasil UN nya? bagus gak?”
“Kak Ale nilainya bagus kata Ibu!”, Nadia langsung bersemangat menjawab. Aku hanya tertawa melihat ekspresinya.
“Alhamdulillah, pas berarti, Le. Kemarin Kakak saya yang guru SMA main ke rumah. Dia cerita tahun ini akan dibuka sekolah unggulan provinsi di kota kita. Guru-gurunya hasil tes se-provinsi. Terus biayanya ditanggung penuh APBD provinsi alias gratis. Apalagi ya? Oh iya, katanya sistemnya asrama, ustadnya didatangkan dari Ponpes terkenal di Ponorogo. Coba kamu cari tahu, Le. Siapa tahu kamu bisa lanjut di sana.”
Badanku merinding seketika. Setiap kata yang diucapkan Pak Rahmat tadi benar-benar membuatku terpaku. Ujung mataku terasa hangat, ada sebuah harapan besar yang sedang Allah hadiahkan.
“Le?” Pak Rahmat kembali menegurku yang masih terpaku. Nadia pun ikut menyenggol lenganku.
“Eh iya, maaf Pak. Karena terlalu bahagia, saya sampai bingung mau jawab apa. Allah baik banget ya, Pak. Nanti saya cari informasi pendaftarannya Pak. Sekali lagi, terima kasih banyak ya Pak”
“Bapak doain kamu lulus, Le. Ya meskipun jadinya Bapak harus kehilangan salah satu karyawan terbaik kolam renang sih kalau kamu masuk asrama nanti. Tapi Bapak senang sekali kalau kamu bisa lanjut di sana.”
“Aamiin Aamiin, Pak. Terima kasih ya Pak”. Genangan di mata pun mulai berbayang. Allah begitu baik kepadaku dan keluargaku. Sudah menghadirkan Pak Rahmat di kampung ini dan sekarang menghadirkan sekolah harapanku. Maka nikmat Allah manakah yang bisa aku dustakan?
Dua bulan kemudian, aku mengikuti seleksi sekolah yang dibicarakan Pak Rahmat.
Setiap Kabupaten/Kota di Provinsi kami hanya mendapat jatah 10 siswa, sehingga total siswa angkatan pertama nanti adalah 60 siswa. Dan Alhamdulillah, Allah membayar lunas mimpiku. Aku bisa lanjut bersekolah, gratis sampai lulus. Bahkan dengan fasilitas ilmu yang jauh lebih lengkap dari yang pernah ku harapkan.
Aku ingat betul ayat Al Quran yang sering ibu ceritakan, bahwa rezeki Allah itu datang dari segala arah yang tak pernah diduga. Allah pasti mencukupi kebutuhan. Asal kami bertawakkal.
Dan sekarang, di sela-sela gema suara hafalan kosa kata siswa kelas satu, aku kembali menambatkan doa dan harapan. Semoga Allah kembali memudahkan jalan menuju universitas impianku.