Never forget the names of these companies, nor the politicians who served their agenda to repeal Net Neutrality.
seen from Germany
seen from China

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Sweden

seen from T1

seen from United States
seen from China
seen from T1

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Türkiye
Never forget the names of these companies, nor the politicians who served their agenda to repeal Net Neutrality.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
I want to introduce a #bookofweek on my page! Reclaiming Our Space by @feministajones is the first because it’s one of my absolute favorites! Shout out to @ashields98 for getting me a signed copy!!! Reclaiming Our Space tells the story of modern Black Feminism. Jones has a clear thesis: she argues that Black Feminism is the key to Black liberation at the beginning of the book, and weaves a visceral story of how Black women have used the internet to modernize political organization and bring socioeconomic discussions of society from academia into an accessible modern format. We would not have the activist internet that we have today if it weren’t for Black feminists, and this book gives them some of the credit that they sorely deserve. I would not be the advocate and activist today without the internet. I grew up around many conservative people, but for the past 9 years (today was actually my anniversary, eek) on Twitter, largely with the help of Feminista Jones, who I’ve followed nearly since the beginning, I’ve learned how to deconstruct the colonial ideas I was raised on and look at the world from a more accurate point of view and to always consider the effects of policy on the people who get left behind by progress because they are who matter most. I grew up white and privileged and I am so thankful to people like Feminista Jones who have taught me to learn to always consider my privilege and and my place in the world. Books like this, where Jones tell the story of Black Feminism, exist so that we (we being white people or just in general people who don’t know these things already) don’t have to ask others to explain them directly in the internet. That’s a waste of their time and honestly disrespectful. I shared this book so that others can read it, not to retell the story she tells. It’s not mine to tell. It is important to read these stories of the foundation of activism in which we participate, and use our newfound knowledge to become better allies and advocates than we were yesterday. ✌️ -Al #internetactivism #activism #blacklivesmatter #reclaimingourspace #disabled #disabledandqueer #feminism #heds #privilege #blackfeminism #womanism https://www.instagram.com/p/CMzjaf4nnAI/?igshid=1ma6g8rgjnlh2
BERANI BERSUARA (sebuah tugas tambahan)
Menjalani peran sebagai penyampai pesan dan kritik adalah TUGAS TAMBAHAN secara moral yang gampang-gampang sulit. Yang memerlukan KONSISTENSI dan TANGGUNG JAWAB atas apa saja yang sudah dikritisi. Misalnya mengkritisi tertib lalu lintas, ya si pengkritik harus bisa nunjukin sebagai orang yang tertib lalu lintas. Misalnya mengkritisi tentang bahaya minuman keras, ya minimal si pengkritik tidak mengkonsumsi minuman keras. Living the brand. Sikap didunia nyata SESUAI dengan konsistensi kritikannya. Selain konsistensi, sikap kritis dan berani bersuara pun memilik RESIKO atau KONSEKUENSI. Dibenci, counterback, dianggap sok suci, dianggap sok benar, dijauhi, dicibir, difitnah, dibilang gila, dan bahkan diintimidasi sepertinya sudah semakin menjadi hal yang BIASA. Pasti ada aja yang perlu dikorbankan. Pernah beberapa tahun lalu sampai diputusin sama pacar karena dianggap terlalu vokal mengkritisi kebijakan perusahaan yang merugikan sebagian besar karyawan. Kritikan-kritikan via twitter waktu itu dianggap memprovokasi karyawan lainnya untuk bergerak. Ya, dia mutusin karena perusahaan itu adalah milik ayahnya, dan dia adalah direkturnya. Pernah juga difitnah, direndahkan, dan dijauhi oleh orang-orang tertentu dari sebuah komunitas religi karena mengkritisi kemunafikan, propaganda, dan kepalsuan didalam sistem yang berjalan di komunitas religi tersebut via facebook dan path. Pernah juga sempat masuk kantor polisi dan dituntut pengadilan (tapi akhirnya dibatalin sama si penuntut) karena dianggap melakukan provokasi saat menyuarakan kritikan (orasi via blog pribadi) tentang arogansi sebuah kelompok eksklusif tertentu. Akhirnya blog tersebut deactived. Hidup dijaman yang serba mudah dan cepat ini rasanya tidak sulit untuk kita bisa belajar KELUAR dari zona nyaman. Melakukan sesuatu dari hati untuk suatu perubahan. Entah kapan akan terjadinya perubahan, tapi yang pasti perlu ada yang bertindak duluan. MINIMAL pesan-pesan ke arah perubahan itu wajib disuarakan. Internet bukain pikiran dan kasih kesempatan untuk MEMILIH sikap. Menyuarakan suatu kritik saat ini lebih mudah, karena bisa via internet (social media, blog, forum, website). Tapi juga lebih mudah untuk mendapatkan dampak-dampak resiko yang disebut tadi diatas. Apalagi ketika mengkritisi isu-isu yang SENSITIF dan "tabu" bagi orang atau kelompok tertentu. Cepat banget dapat getahnya. Ya, semua pilihan sih saat kita dihadapkan oleh suatu isu atau masalah sosial (di masyarakat, di perusahaan, di komunitas religi, ataupun di keluarga besar). Mau pura-pura tidak tahu, oportunis, cari aman, dan memilih diam juga bisa. Pasti hidupmu akan serba damai, populer, dan banyak teman. Tapi BELUM TENTU suatu perubahan yang baik akan terjadi kedepannya. Mau berani ambil sikap mengkritisi dan menyuarakan pesan demi hal-hal yang baik juga bisa. Dengan resikonya yang musti SIAP ditanggung. Tapi jika ada yang berani bersuara, suatu saat perubahan baik AKAN TERJADI. Minimal muncul persepsi dan pencerahan (insight) baru, yang menjadi trigger awal, yang kemudian bisa mengimbangi stigma mainstream atau fenomena status quo yang ada ditengah komunitas atau masyarakat selama ini. Bersikap kritis dan berani bersuara lagi-lagi adalah TUGAS TAMBAHAN yang tidak wajib, tetapi wajib secara moral. Balik lagi ke pribadi tiap-tiap orang, itu PILIHAN. Bersuara dan kritik, tak jauh dari ide atau pemikiran atau harapan akan hal-hal yang IDEAL. Bagi saya, idealisme ibarat seperti AIR yang MENGIKUTI wadahnya. Mengkritisi dan speak up akan suatu pemikiran ideal tidak harus dengan cara-cara yang anarkis apalagi pakai kekerasan. Cukup dengan cara-cara yang KREATIF dan yang masih bisa diterima oleh banyak orang. Seperti misalnya sublimasi karya, tulisan satir, kartun sarkasme, dan karya lainnya. Apalagi sekarang media berbagi lebih mudah. Yang penting berani, tanggungjawab, dan konsisten dalam setiap sikap dan saat menyuarakan pesan. Mengutip Bung Hatta: "Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya SYARAT untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat.." Itu tujuan akhirnya. Bagi saya, bersikap kritis dan vokal adalah SALAH SATU CARA meneruskan pesan dari Bung Hatta tersebut. Selain itu, tetap perlu ada bukti KARYA TERBAIK kita disetiap bidang pekerjaan yang kita geluti. Bersikap kritis dan berani bersuara adalah TUGAS TAMBAHAN selain tanggung jawab kita sebagai pelajar, pekerja, pengusaha, dan aktivitas sehari-hari kita lainnya. Berani bersuara, bisa diawali dari lingkaran lingkungan terkecil kita, seperti keluarga, komunitas, lingkungan religi, dan semakin ke lingkaran yang lebih besar seperti isu-isu negara misalnya. Sekalipun jika ada yang membenci, tetap aja ingat pesan Bung Karno yang satu ini: "biar sejarah yang membersihkan namaku". Kalau sikap kita benar dan menyuarakan hal benar, tapi sempat dapat hujatan atau feedback negatif lainnya, NO WORRIES, jika suatu saat perubahan baik itu terjadi, nama kita pun akan kembali baik atau dikenang baik. Semoga sepanjang kita hidup, kita TIDAK HANYA cari aman, cari nyaman, cari kaya harta, cari muka, menjadi oportunis, cari popularitas, dan PURA-PURA tidak peduli akan hal-hal yang harusnya dipedulikan dan diperbaiki di lingkungan sekitar kita. Simple saja sebenarnya. Dimulai dari: BERANI BERSUARA. Yang didasari riset sebelumnya. Dan diiringi tindakan nyata setelahnya. --------------- NOTE: Sedikit info tentang apa yang sebenarnya mendasari konsistensi kecerewetan saya di social media selama ini: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Internet_activism Musti ada yang berperan untuk ambil TUGAS TAMBAHAN itu ya kan. Berani? Salam menuju merdeka :) -APWA-
Saw this (the first picture) on my Facebook news feed this morning and commented to point out that it is slut-shaming and sexist and that I was offended by it. Well, that comment got deleted by this afternoon. When I saw that my previous comment had been deleted, I posted the above comment.
Trying to be an activist is hard sometimes. Today I learned that it's important to stand up and make people aware of the problems they are perpetuating, even when met with resistance.
look at them
the invisible children activists
looking fab and fierce
in front of an army of rapists
and looters
ready to change the world
with grenades of info and bullets of truth
saving the abducted negro bbs
"fear not little sambo child
i will protect u
from the wrongs of the world
as if u were my own"
helping all of us get our fair share of internet activism
supporting the latest "feel good cause of the month"
all from the comfort of our own bedrooms
just doing what i can to fix the world
when i share this video
i truly make a difference in the world
this info will standout
in this sea of meaningless social media content
life is easy when bad is bad and good is good

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming