Setinggi apa pun kecerdasan intelektual yang dimiliki seseorang dan sedalam apa pun pemahamannya tentang ilmu penyembuhan pun tentang agama, itu semua tidak ada gunanya jika jiwa di dalamnya gagal memahami empati dan tidak mampu memaafkan orang lain.
Akumulasi dari ego yang terluka, rasa inferior, dan ketidakmampuan seorang manusia dalam mengelola emosi negatifnya. Membuat seseorang mudah putus asa dan menganggap isi hati nya yang hancur adalah alasan paling benar untuk melampiaskannya kepada orang lain.
Kehidupan akan selalu menghadirkan gesekan, namun kedewasaan selalu diuji dari keberanian kita untuk menaklukkan diri sendiri, kemampuan untuk mengambil jeda saat marah, melepaskan hal-hal sepele yang menyinggung perasaan, dan memilih untuk menjaga kebersihan hati nurani. Sebab pada akhirnya, orang yang membiarkan kebencian mengendalikan pikirannya hanya sedang meminum racun itu sendiri, sambil berharap orang lain yang mati.