BUS DENGAN TRAYEK BUMI-ANGKASA DAN HARI INI-KEMARIN
Pekerjaan saya memang kedengaran membosankan—mengelilingi tempat yang itu-itu saja, diisi kaki-kaki berkeringat dan orang-orang berisik, diusik cicak-cicak kurang ajar, mendengar lagu aneh tentang tahu berbentuk bulat dan digoreng tanpa persiapan sebelumnya—tapi saya menggemarinya. Saya senang mengetahui cerita manusia dan kecoa dan tikus dan serangga yang mampir. Saya senang melihat-lihat isi tas yang terbuka, membaca buku yang dibalik-balik di kursi belakang, turut mendengarkan musik yang dinyanyikan di kepala seorang penumpang... bahkan kadang-kadang, menyaksikan aksi pencurian. Trayek saya memang hanya melewati Dipatiukur-Leuwipanjang, sebelum akhrinya bertemu Beliau, dan memulai trayek baru: menggelilingi angkasa, melintasi dimensi ruang dan waktu—blurb Semua Ikan di Langit.
 Yap satu lagi novel unik karya author Indonesia favoritku, mbak Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, yang diterbitkan pertama kali oleh Grasindo pada Februari 2017 kemarin dengan judul Semua Ikan di Langit. Novel tersebut berhasil menyabet juara 1 pada ajang  Sayembara Novel  Dewan Kesenian Jakarta 2016. Nggak heran soalnya novel itu luar biasa keren. Pas aku baca blurbnya(fyi blurb itu tulisan yang ada di bagian belakang cover novel, beda ya sama resensi) aku sama sekali nggak bisa nebak alur ceritanya bahkan tokoh utamanya aja I can’t imagine. Setelah membaca berlembar-lembar, baru aku bisa ngeh sama ceritanya. Kalau kamu baru pertama kali baca karyanya Mbak Ziggy dan langsung baca Semua Ikan di Langit kayanya kamu bakal bilang ‘ini apasih?’ karena gimana ya, mbaknya itu punya cara bercerita yang berbeda. Semua Ikan di Langit bukan novel setipe Harry Potter ataupun Percy Jackson and The Olympians, jalur mereka beda.Â
Menurutku novel ini menceritakan konsep kepercayaan dan kecintaan terhadap Sang Pencipta (Beliau) melalui sudut pandang bus Damri yang hampir pensiun. Bayangkan! BUS DAMRI COY! Mbak Ziggy menceritakan bagaimana nasib ‘yang mencintau beliau dengan tulus’ dan yang menyakiti atau melukai segala sesuatu ‘yang mencintai Beliau dengan tulus’.  Aku jadi penasaran sebenernya Sayembara Novel DKJ 2016 ini temanya apa, sih? Setelah aku googling ternyata hasilnya: tema bebas. AND THIS GURL mengambil partikel-partikel yang begitu dekat dengan masyarakat(tentang kepercayaan, cinta, kehilangan dan BUS!)  lalu mereaksikannya dengan senyawa ajaib sehingga menjadi senyawa baru yang tidak pernah dibayangkan siapapun dan voila... jadilah Semua Ikan di Langit!
Mbak Ziggy berhasil membuat Bus ini seolah-olah bernyawa  dan mau repot-repot membayangkan diri sebagai bus supaya bisa tau kira-kira apa yang dipikirkan benda itu jika menghadapi situasi tertentu. Dan aku dibuat takjub dengan pemikiran-pemikiran yang dilontarkan bus ini serta beberapa tokoh lainnya tentang cintanya kepada tokoh Beliau. Dunia baru yang dibentuk si Author mengingatkanku pada film-film kartun buatan studio Ghibli—kreatif, kritis dan unik, terutama yang berjudul Ponyo, karena banyak ikan di sana, sama seperti Semua Ikan di Langit yang menghadirkan ribuan ikan julung-julung di setiap halamannya, fyi aku langsung googling ikan julung-julung itu bentuknya seperti apa wakakak. Anyway, novel ini dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi  lucu ala-ala watercolor buatan Mbak Ziggy sendiri, lho!
Oh ya, di salah satu bab di buku ini menceritakan si Bus dan tokoh Beliau memberi tumpangan kepada seorang perempuan botak 19 tahun bernama Shoshanna di  Auschwitz, Jerman,  pada tahun 1944. Karena aku kepo dan tahu betul pasti Mbak Ziggy nggak sekedar ambil suasana Auschwitz,Jerman,  pada tahun 1944, akhirnya aku browsing. Ternya di Auschwitz 1944 itu terdapat kamp-kamp yang digunakan Nazi untuk memusnahkan manusia  dengan cara yang begitu kejam—kejahatan genosida. Bahkan di salah satu kamp, perempuan-perempuan digunakan sebagai bahan percobaan sterilisasi dan menurutku Shoshanna adalah satu korbannya yang berhasil melarikan diri. Gila!!
Sebelumnya aku udah pernah baca novel-novel karangannya mbak Ziggy, mbak Ziggy itu selalu menggambarkan suasana dengan caranya sendiri, dengan kerumitannya sendiri, dengan kejeniusannya sendiri—berbeda dengan kebanyakan author, mbaknya selalu punya jalan pikiran unik  yang penuh warna dan di bagian akhir kita diajak merenung untuk menemukan kejutan manis. Ibaratnya pas awal-awal kita diajak jalan-jalan di trotoar sama doi sambil makan cilok pedes eh nggak taunya keplosok gorong-gorong dan nyasar ke labirin bawah tanah yang akhirnya berujung ke ruang pelaminan—santai lalu rumit, tapi indah pada akhrinya*fak analogi macam apa ini hahaha. Kalau aku gambarkan itu kayak gini:
Itu aja sih impression after reading-ku. Kalau kamu?
Semua Ikan di Langit ditulis dengan keterampilan bahasa yang berada di atas rata-rata para peserta Sayembara kali ini. Novel ini mampu merekahkan miris dan manis pada saat bersamaan. Dan, perbedaan mutu yang tajam antara Pemenang Pertama dan naskah-naskah lainnya, membuat dewan juri tidak memilih pemenang-pemenang di bawahnya—Laporan Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2016.













