Allah, Karena-Mu Aku Berani Bermimpi #Impian1
Hanya karena alasan, AKU PUNYA ALLAH—maka aku tetap BERANI BERMIMPI -@orirabowo-
Oh Allah, peluklah aku dan mimpi-mimpiku—agar aku tak pernah jauh dari-Mu, bersama-Mu aku kuat, atas izin-Mu aku bisa.
Jika hidup adalah rangkaian impian, maka biarkan aku merangkai impianku agar aku tetap bisa hidup. Hampir setahun lamanya aku bangkit dari rasa kecewa karena tertundanya sebentuk impian. Aku tidak pernah mati, sejak harapan dan rencana yang kususun rapi itu kosong, lalu menghilang dikikis waktu. Aku tidak pernah mati, hanya saja aku tidak tahu mau dibawa ke mana langkah kakiku ini.
Tenggorokanku terasa berat, sebab menahan isak. Dadaku sesak, sebab rasa kecewa menyempitkan pernapasan. Mataku pegal di tengah sepi, sebab kubiarkan tangis pecah dalam diam, sementara di keramaian mataku sembab menahan linangan. Orang bilang tatapanku kosong, bicaraku nglantur, kulitku pucat. Apakah aku gila, hanya karena tertundanya impian?—Ah, tidak seburuk itu. Hanya proses menerima kenyataan, bahwa segala sesuatu yang telah direncanakan harus tertunda.
Satu tahun, waktu yang terbayang begitu panjang dan entah akan kuhabiskan untuk apa waktu yang tidak bisa dibilang sebentar itu. Satu minggu saja dalam keterpurukkan, sudah begitu menyiksa. Tentu aku tidak akan rela jika empat puluh delapan minggu akan kulewati dengan meratapi nasib sembari menunggu kesempatan kedua datang lagi.
Ketika serasa terpuruk dalam ruang gelap dan sepi, Allah memberiku cahaya lewat hikmah dari ketetapan-Nya. Dulu, kupinta dalam doa pada kepasrahanku pada takdir-Nya. “Sesungguhnya setelah daya dan upaya, maka semua kembali pada izin-Mu Yaa Rabbi, Engkau yang lebih mengetahui segala yang terbaik bagiku”. Yang terjadi kini, adalah izin-Nya. Buah dari daya dan upaya, ketetapan terbaik bagiku sesuai skenario-Nya. Maha Suci Allah, membuka hatiku untuk menuai hikmah, dibalik kekecewaan impian yang tertunda.
Atas izin Allah, aku bangkit dari keputusasaan. Allah datangkan rezeki, datangkan teman-teman, pengalaman, pembelajaran, dan nikmat yang luar biasa. Allah besarkan hatiku untuk merangkai impian lagi. Allah getarkan dadaku dengan impian yang kubisikkan pada-Nya di tengah kesunyian.
Aku, bukan hamba-Nya yang begitu taat—maka dari itu aku berusaha dan terus mencoba taat, walau berat dosaku. Melibatkan-Nya pada impian adalah fitrah manusia pada pemilik hidup. Untuk impianku selanjutnya, hanya Allah yang menjadi alasanku untuk berani bermimpi. Sebab, ayah ibu sudah terlanjur senang dengan keseharianku. Walau kuyakin, aku masih sangat jauh untuk bisa membahagiakan mereka. Terselip kerinduan pada pencapaian di suatu waktu nanti, membuat ayah ibu tersenyum, haru dan bangga padaku—paket komplit yang sebenarnya kuselipkan pada impianku itu, tapi aku tak punya daya untuk membicarakan itu pada mereka. Aku pasrah pada sikap mereka yang hanya berdesis, dan diam setiap kali kumintai pendapat.
Dalam diam, sebenarnya aku takut, aku sakit. Takut tak kudapatkan ridho ayah ibu. Sakit, sebab seharusnya mereka menguatkan dan mendukungku. Dalam diam, aku sadar punya Rabb, Yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Semoga Allah bukakan pintu hati ayah ibu, agar mereka mendoakanku. Atas nama impian karena Allah untuk ayah ibu, Bismillah aku tetap berani bermimpi.

















