Mestinya, tulisan ini sudah diunggah sejak beberapa hari yang lalu, tapi rasanya banyak sekali hal yang berputar di kepala, kemudian terkunci begitu saja.
Sayang sekali jika nggak ada jejak di tahun yang harus banyak disyukuri ini, barangkali bisa jadi cerita untuk anak cucu nanti~
2021 kemarin aku awali dengan menutup diri dari banyak interaksi di media sosial, bahasa kerennya sih “detoks medsos”. Bukan maksud mengikuti tren healing atau apa, tapi aku menyadari saat itu jiwaku benar-benar butuh rehat dari perputaran kehidupan yang serba cepat.
Di tahun-tahun sebelumnya aku merasa dituntut untuk berlari cepat, kadang terseok-seok, sesekali terjungkal dan harus segera bangkit untuk lari lagi. Perjalanan di awal tahun lalu rasanya masih abu-abu: mengawali tahun dengan menyandang pengangguran tanpa ijazah yang sudah 4 tahun diperjuangkan seperti mimpi buruk yang mengerikan.
Namun, awal tahun yang abu-abu itu Allah tutup dengan satu dua hal yang harus kuperjuangkan, hingga akhirnya pada Februari 2021 aku resmi bekerja di sebuah start up media impianku sejak SMA, berbekal Surat Keterangan Lulus (SKL). Bersyukur sekali dengan rencana-Nya, dengan segala lika-lku perjalanan yang kadang membuatku tersesat, tapi selalu diberi petunjuk untuk ketemu jalan lain yang lebih baik dari jalan yang aku rencanakan.
Pekerjaan ini adalah satu hal terbesar yang aku syukuri di tahun 2021, selain kesehatan. Aku yang sebelumnya merasa tersesat di pekerjaan sebelumnya, tapi menemukan satu titik di mana aku menyadari satu-dua atau bahkan tiga hal dari pengalaman di pekerjaan yang lalu mengantarkanku di pekerjaan yang sekarang. Alhamdulillah.
Sepanjang tahun 2021 aku gunakan untuk banyak belajar dan berkarya di dalam lingkup pekerjaan. Meski remote working, alias kerja dari rumah yang membuatku harus merasakan kaburnya waktu istirahat dan waktu bekerja, tapi hal ini membuatku nggak perlu risau lagi soal kesepian, soal nggak ada teman, dan pertanyaan-pertanyaan para sesepuh soal jodoh masa depan~
Di 2021 akhirnya aku bisa merasakan senangnya bisa ngajak ibu belanja bulanan keperluan rumah tiap habis terima notifikasi payroll. Bisa jajanin orang serumah tanpa mikir nasib uang SPP kuliah, bisa jajanin ponakan tanpa liat label harga, bisa traktir para bude, bulek dan sepupu juga.
Padahal aku nggak sekaya itu~ gajiku terbilang kecil untuk posisiku saat ini. Tapi, inilah titik di mana aku merasa dilimpahi keberkahan dan kebahagian yang tak berbatas, meski dalam keterbatasan. Alhamdulillah, bisa menyenangkan orang-orang terdekat meski nilainya nggak seberapa :)
Di 2021 aku juga belajar soal esensi dalam berkarya. Meski bekerja di media mengejar rating, page views dan sebagainya, tapi aku belajar bagaimana supaya yang aku kerjakan bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Beruntung dan bersyukur, perusahaan tempatku bekerja juga menekankan kebermanfaatan dalam sebuah karya. Hal ini membuatku semakin ingin tumbuh subur di ‘ladang’ ini.
Dari begitu banyak hal yang disyukuri, aku semakin belajar kalau nikmat hidup itu sebenarnya nggak berbatas. Apalagi setelah melalui badai, angin topan, angin ribut dan gempa tsunami di tahun-tahun sebelumnya. Aku semakin menyadari semakin jauh kaki melangkah diiringi hati yang selalu bertaut pada Sang Pemilik Hidup, maka langkah ini nggak ada yang sia-sia, nggak akan tersesat, nggak akan kehilangan arah.
Di awal tahun 2022 ini selain bersyukur pada Yang Maha Baik, aku juga berterima kasih pada diri sendiri karena telah melalui 2021 dengan kuat dan tegar, serta bersedia terus belajar. Banyak hal yang masih diharapkan, direncanakan, dan didekap dalam doa-doa panjang. Sehat dan bahagia semoga juga mengiri setiap langkah dan proses bertumbuh untuk diri sendiri, orang-orang tersayang, dan orang-orang baik yang kutemui.
Bismillah, selamat menembuh 2022
Banjarnegara, 2 Januari 2022