Rumah Kecil di Padang Rumput
MEREKA yang lahir pada akhir dekade1980an mungkin masih ingat sebuah serial televisi yang begitu menarik dan sarat makna yang ditayangkan di TVRI setiap Minggu siang. Serial itu bernama Little House on the Prairie yang diadaptasi dari kisah Laura Ingalls Wilder.
Kisahnya dimulai saat keluarganya memutuskan berangkat dari Wisconsin untuk mencari tanah garapan sebagai sumber penghidupan (salah satu potret kehidupan sebagian masyarakat AS diakhir abad ke-19).
Kepindahan Laura (yang saat itu sebagai gadis kecil) dan keluarganya dengan menggunakan kereta kuda dari satu tempat ke tempat lainnya menyimpan pengalaman begitu kaya dan kisah-kisah masa kecilnya tumbuh mekar dalam ingatannya. Sebagian kenangan sempat ia tuliskan dalam catatan hariannya saat keluarganya mulai menetap di sebuah tempat yang sedikit ramai membentuk sebuah dusun kecil dan di sana ia mulai duduk di bangku sekolah.
Kepingan-kepingan kenangan masa kecilnya kemudian hari dibukukan dan hingga kini menjadi bagian sastra anak serta bahan bacaan anak-anak sekolah dasar di AS. Saat ini, rumah peninggalan keluarga Laura, kereta kuda bersama beberapa rumah kecil lainnya dan kantor pos seperti yang dikisahkan Laura dalam bukunya diabadikan dan menjadi tempat kunjungan wisata.
Di Indonesia, bukunya pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia sekitar tahun 1980an.
Semangat serial Little House on the Prairie ada kesamaan dengan Keluarga Cemara pada awal dekade 2000an, sebuah serial yang diadaptasi dari sastra anak yaitu bagian bacaan yang bertujuan mengabadikan potret kehidupan dan nilai-nilai yang sedang dipegang oleh masyarakat pada rentang waktu tertentu dengan menanamkan nilai-nilai kebaikannya pada anak-anak melalui bacaan, dan tak jarang pula diangkat ke layar televisi.
Dalam beberapa kesempatan saat saya diajak teman mengunjungi pameran buku yang diselenggarakan IKAPI, saya melihat terbitan yang ada saat ini ternyata begitu banyak yang menyedihkan.
Stand-stand penerbit yang ada lebih dari setengahnya nuansa agama, syukur-syukur buku yang diangkat untuk kebaikan, yang ada sebagian malah vulgar terang-terangan berisi hujat-menghujat dan menjelek-jelekkan yang tak sepaham atau tak jarang pula cocoklogi.
Sebagian lainnya memang masih konsisten menerbitkan buku-buku bermutu.