Selamat malam, Pemuda.
Ini surat  ke-dua dariku di tanggal dan bulan yang sama, semoga kau tidak terkejut lagi ya.
Apa kabarmu?, handphonemu masih rusak?. Ah pasti iya, sudah beberapa minggu ini aku tidak melihat kecaperanmu itu di segala lini waktu media sosial. Tentu saja aku hanya akan bisa mengetahui  kabarmu dari sana kecuali kusempatkan untuk mengirimkan bebarapa sms untukmu. Semoga kabar baik selalu mengikuti langkah kakimu.
Aku sengaja menulis surat ini, karena begitu banyak rindu bersemayam di dalamku, aku sering tertawa sendiri ketika sedang membaca kembali percakapan-percakapan kita yang sudah yah bisa dibilang kadaluarsa. Haha.
Kekonyolanmu Pemuda, gombalanmu, kelucuanmu, sajak-sajakmu, suaramu; aku merindukannya.
Bahkan, aku sering memimpikanmu. Kau selalu meningkahi segala macam suasana disana. Membawaku berkelana kemana saja. Â Aku bahkan pernah memimpikan kita begitu dekat, begitu menyatu dan tidak ada yang harus disebut sekat.
Setelahnya kau akan tampak bahagia saat aku sedang menceritakan mimpi-mimpiku itu (mungkin kau bohong).
Ah Pemuda, aku pernah kau buat teramat jatuh sejatuh-jatuhnya cinta. Tapi siapalah saya, perempuan yang tiba-tiba masuk dalam kehidupanmu satu tahun yang lalu, kemudian berharap bisa mendapatkan pelukmu. Bertemupun menjadi hal yang entah kapan bisa terwujud. Kau di Palembang dan aku di Jogja.
Kau pangeran  dan aku perempuan desa dengan rambut dikepang dua, begitulah aku membuat perumpamaan dari kita.
Beruntung dalam imajinasiku kau adalah pangeran baik hati yang memberiku kesempatan untuk menjadi sahabatmu biarpun kadang kau sangat menyebalkan (sudah pasti kau tertawa saat membaca ini).
Pernah aku menjadi sangat cemburu saat kau pamerkan foto seorang perempuan di profil bbm-mu. Pernah juga aku begitu cemburu saat kutahu di bagian entah media sosial yang mana, kau tampak sedang bercakap-cakap dengan beberapa teman perempuanmu. Banyak kupu-kupu cantik di sekitarmu; aku seekor kumbang polkadot pecemburu.
Jika Tuhan menghendaki, aku akan segera menikah tahun ini. Dan jika kau tak bisa datang ke kotaku, aku ingin kau menerbangkan do’a-do’a untukku. Do’a apa saja tentu kuperbolehkan, do’a  agar aku tidak jadi menikah dengan calon suamiku lalu aku akan menikah denganmu misalnya. Haha, jangan dianggap serius, tentu saja aku bercanda. Menikah tidak sebercanda itu.
Aku sering menghela nafas panjang, mencoba mengiklaskan apa yang menjadi  takdir Tuhan, mencoba melapangkan dadaku dengan siapa entah kemudian hari kau akan menikah. Perempuan mana yang tidak beruntung memilikimu?.
Tuhan menginginkan kita menjadi sahabat.
Dan maukah selamanya kau menjadi sahabatku?, mengisi kosongku?, membuyarkan sepiku?.
Maukah kau berjalan di sampingku dan kukenalkan kepada dunia bahwa kau adalah sahabat paling baik pun sempurna  yang kupunya?.
Aku ingin berterimakasih kepada kau. Tentang  debar bahagia yang sudah dilahirkan dari sebuah perkenalan selama satu tahun ini. Tentang segala waktu yang tidak akan pernah bisa kembali. Segala tawa yang kau beri. Segala ingatan baik yang menetap di kepalaku sampai aku pikun nanti.
Aku menyayangimu.
Do’aku datang dari segala penjuru arah mata angin untuk memelukmu. Semoga kau selalu dalam lindungan-Nya, kesehatan, keberuntungan, kesuksesan serta kebahagiaan enggan menjauh darimu. Selamat ulangtahun, pemilik tinggi badan 185cm.
Aku punya sebuah lagu untukmu. Anggap saja ini sebagai kado ulangtahunmu dariku.
Dimanapun kau berada, bahagialah.
https://www.youtube.com/watch?v=umceant_V6U