PERAN WAWASAN PEPERANGAN ASIMETRIS DALAM MEWUJUDKAN KEAMANAN MANUSIA
Indonesia termasuk negara dengan populasi penduduk yang besar dengan jumlah 269.641.326 jiwa yang terdiri dari 1.340 suku, 742 bahasa dan lebih dari 16 ribu pulau. Hal itulah yang membuat Indonesia dikenal dengan kemajemukan masyarakatnya, namun aspek tersebut dapat menjadi potensi serta ancaman bagi kita. Terlebih, permasalahan ideologi memiliki peran penting yang membuat kita harus berpikir kritis terhadap kemajemukan yang ada, untuk mencegah dan mengantisipasi dari bahaya ancaman asimetris yang digunakan oleh oknum lain.
Pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, radikalisme, terorisme, separatisme serta produk hukum atau peraturan perundang-undangan yang tidak memihak masyarakat merupakan permasalahan yang saat ini dihadapi negara Indonesia. Permasalahan disebabkan oleh oknum yang sengaja ingin merampas kedaulatan negara melalui penyelewengan kebijakan, penyebaran berita bohong atau informasi yang tak jelas di media sosial. Ditambah, Arus globalisasi yang memudahkan nilai-nilai sosial dan budaya baru untuk masuk menjadi penyebab pergeseran nilai-nilai kebudayaan tradisional. Akibatnya masyarakat tidak hanya mengalami sikap individualisme yang tinggi, kesalahan persepsi terhadap pemerintahan serta sesat pemikiran terkait kebijakan yang menjadikan hilangnya kepercayaan masyarakat kepada institusi pemerintahan dan dapat menimbulkan permasalahan baru.
Perang asimetris merupakan konflik yang ditandai dengan hilangnya batas antara perang dan politik atau antara tentara dan sipil, dengan ciri utama dari perang ini yaitu melibatkan dua aktor atau lebih, dengan kekuatan yang tidak seimbang serta mencakup wilayah yang sangat luas. Suatu negara akan menggunakan strategi asimetris untuk mengontrol sumber daya alam dan sumber daya manusia negara lain yang menjadi sasarannya, melalui aspek-aspek astagatra yaitu perpaduan antara trigatra (geografi, demografi, dan sumber daya alam) dan pancagatra (ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya). Selain itu, para aktor dalam perang asimetris sulit terdeteksi dan medan pertempurannya tidak dapat diprediksi. Secara tidak sadar berbagai bentuk ancaman perang asimetris saat ini ada dihadapan kita yang tentunya perlu sebuah wawasan mendalam mengenai itu. Dalam hal ini wawasan peperangan asimetri.
Wawasan mengenai peperangan asimetris merupakan ilmu yang mempelajari cara melihat fenomena dari berbagai sudut pandang. Secara detail, ilmu peperangan asimetris merupakan sebuah metode analisis masalah baik dalam skala nasional atau internasional tentang cara memahami, menjelaskan, dan memperkirakan perilaku serta tujuan suatu negara ditinjau dalam persepektif astagatra.
Jika dilihat dari berbagai sudut pandang, Indonesia saat ini sedang mengalami ketidakstabilan keamanan, karena dihadapkan dengan ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang semakin kompleks. Dari segi eksternal, Indonesia berhadapan dengan perang dagang antara Amerika-China, Cyber crime, serta agresi militer asing. Dari segi internal, kemajemukan seringkali dijadikan metode oleh beberapa oknum untuk memecah belah persatuan dan kesatuan melalui isu demokratisasi, diskriminasi, pelanggaran HAM, serta produk hukum yang memihak asing.
Maka dari itu, peran lulusan peperangan asimetris ke depan, jika melihat pesatnya perkembangan teknologi ini saat ini tentunya memiliki ruang lingkup yang cukup luas dalam berbagai bidang. Selanjutnya, ilmu peperangan asimetris ini diharapkan mampu mendidik masyarakat tentang bagaimana cara menghadapi ancaman dari berbagai sumber untuk menciptakan konsep keamanan secara menyeluruh yang salah satunya membuat ketertiban publik dan keselamatan individu.