Cerita Gerbong
Mari menemani saya kembali ke tahun 2015. Di sana kami bertiga, Caca, Ale dan Saya membikin-bikin karya tentang kereta ini. Dalam rangka sebuah lokakarya pameran oleh kelompok seni di Jakarta.
Kehidupan perkeretaan, cerita di stasiun, peron, dan dinamika gerbong tidak lepas dari ibukota dan kota-kota pendukung di sekitarnya. Kami mencoba mengajak orang-orang untuk terlibat dan menceritakan kisah mereka. Sebagai pemicu, kami mencoba memberikan sedikit potongan-potongan kisah yang kami temukan sendiri atau orang lain ceritakan.
Saya misalnya, menyengaja pergi ke stasiun manggarai dan berkeliling stasiun untuk menemukan cerita. Saya malah menemukan sebuah sendal ibu-ibu yang hanya tinggal sebelah. Berbekal itu, saya menerka kisah yang bisa jadi ada di belakangnya. Misalnya saja perebutan gerbong perempuan di jam-jam sibuk pagi atau sore hari.
Atau sebuah headset/earphone yang seperti tidak lepas dari telinga beberapa pengguna kereta. Dulu saya sempat merasa orang-orang yang menggunakan pelantang di telinga itu kurang baik adabnya, terkesan menutup diri dan sombong. Haha tapi kemudian saya sadar, ada banyak orang yang menempuh perjalanan yang cukup makan waktu di kereta, pergi dan berangkat. Mereka butuh semacam teman di jalan. Dan orang-orang yang ditemui di dalam gerbong, tidak semuanya bisa diandalkan. Alasan lain soal keamanan. Dalam keadaan kereta yang padat, sangat mungkin terjadi perpindahan HP secara tidak sadar dan ilegal. Headset membantu si pemilik menyadari kalau pada HPnya terjadi sesuatu.
Dan dari cerita-cerita yang dituturkan oleh pengunjung kami di pameran, saya menemukan beberapa yang menarik. Salah satunya milik kakak tingkat saya. Ia adalah pengguna kereta sejati. Dalam buku yang kami sediakan ia menulis, maaf, maksudnya menggambar gerbong dari tampak luar. Semacam membuat infografis, ia menjelaskan perbedaan stiker warna pada gerbong, dan artinya. Saya lupa detailnya, tapi itu adalah tentang gerbong yang ber-AC atau menggunakan kipas, atau gerbong berbangku sedikit atau banyak. Hal-hal semacam itulah. Haha Itu fakta yang mungkin tidak banyak orang sadari.
Setelah 4 tahun berlalu, mungkin tidak banyak hal yang berubah dari cerita-cerita di gerbong dan seputar kehidupan di kereta ibukota dan sekitarnya ini. Orang-orang masih ramai pada pagi dan sore hari, dengan kepadatan yang kadang tidak manusiawi. Cerita-cerita di gerbong akan selalu ada, meskipun manusia-manusia di dalamnya tidak saling bercerita.












