Tantangan 15 Hari Zona #5 Day 2
Assalamu’alaykum, good readers :)
Hari ini saya melanjutkan project literasi ini dengan membaca bab 2 dari buku Happy Family karya Cahyadi Takariawan tentang menguatkan landasan dalam berumahtangga.
Lalu, apa saja cara menguatkan landasan tersebut? Pada buku ini dijelaskan bahwa untuk menguatkan landasan, suami istri harus menjaga keseimbangan kehidupan berumahtangga, dengan cara melekatkan emosional (cohesion), menjaga keseimbangan antara situasi ‘chaos’ dan ‘rigidity’ (flexibility), dan membangun komunikasi yang baik sehingga tercipta suasana ‘engagement’ dan ‘openness to change’ (communication).
Kohesi (cohesion) akan tercipta ketika suami istri mampu menyeimbangkan kebersamaan (togetherness) dan ketidakbersamaan (separateness). Jika terjadi terlalu banyak separateness maka akan memunculkan kekeringan cinta, namun sebaliknya, jika terlalu banyak togetherness maka bisa menimbulkan kebosanan. Disinilah suami dan istri harus pandai menemukan titik keseimbangan.
Keseimbangan (flexibility) juga dibutuhkan dalam kehidupan keluarga. Dalam kehidupan keluarga, ada sisi stabilitas, namun ada pula sisi perubahan. ada hal-hal yang harus bersifat statis, namun ada pula yang harus bersifat dinamis. Fleksibilitas ini sangat penting dalam menjaga keharmonisan keluarga, mengingat kondisi keluarga selalu berubah dari waktu ke waktu. Tantangan yang dihadapi juga selalu berubah. Kondisi suami dan istri pun selalu berkembang. Maka, kita harus pandai menjaga sisi stabilitas dan menerima sisi perubahan.
Komunikasi (communication) antara suami dan istri akan terbangun dengan bagus apabila mampu menciptakan keseimbangan antara suasana ‘engagement’ dan ‘openness to change’. Terkadang, komunikasi suami dan istri harus mengutamakan aspek rasa, ini berguna untuk membangun kenyamanan hubungan dan menguatkan bonding. Namun, ada kalanya suami istri harus berada dalam level terbuka untuk menerima perubahan, ada adu argumen dan perdebatan untuk menghasilkan kualitas keputusan yang bagus.
Selanjutnya, menguatkan landasan berumahtangga harus berorientasi kepada akhirat, dimana tiap anggota keluarga ditanamkan untuk meraih kebahagiaan hingga syurga bukan hanya didunia, karena ada kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Maka keimanan menjadi fondasi utama dalam kebahagiaan ini, jalani kehidupan berumahtangga karena Allah, prinsip “karena Allah” ini sangat mendasar, karena akan membedakan dengan pernyataan “karena yang lainnya”. Apabila dibingkai dalam niat “Karena Allah”, semua menjadi bernilai ibadah, dan akan dijalani dengan bahagia.
Selain keimanan, ada hal-hal lain yang menjadi fondasi kebahagiaan. Ketaatan kepada Allah, ketaqwaan, keberkahan, pengetahuan, dan kebermaknaan dibutuhkan untuk menjalani kehidupan berumahtangga yang bahagia.
Terakhir, samakan visi keluarga dengan seluruh anggotanya. Karena visi tersebut akan memandu kepada arah kebaikan. Pilih model keluarga berlandaskan Al-Qur’an, ada 2 keluarga bermartabat yang dikisahkan didalam Al-Qur’an, yaitu keluarga Imran dan keluarga Ibrahim ‘alayhissalam. Mereka adalah keluarga teladan dalam Al-Qur’an yang menjadi model bagi orang-orang yang beriman.Selain mereka, tentu yang menjadi rujukan utama adalah keluarga Nabi Muhammad shalallaahu 'alayhi wasallam bersama para istri dan keturunan Beliau, kita banyak mendapatkan contoh keteladanan, sebuah keluarga sakinah, dimana berhimpun didalamnya suami shalih, istri shalihah, serta anak keturunan yang shalih dan shalihah. Itulah Happy Family.
Sekian review saya untuk bab 2 buku happy family kali ini, semoga review ini sekaligus bisa menjadi sarana belajar saya untuk menjalani kehidupan berumahtangga dengan lebih baik lagi. Doakan yaa good readers :)
Wassalamu’alaykum :)














