SANAM shares Harik and announces new album Sametou Sawtan on Constellation
Beirut sextet SANAM returns with second album Sametou Sawtan
SANAM will release their second album Sametou Sawtan on 19 September 2025 via Constellation. The Beirut-based group also shares the track Harik, the first cut from the record and its opening track.
Constellation Records · Harik
The album follows Aykathani Malakon, released in 2023 on Mais Um Discos. The group now moves to…
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
X-Men (Alternate Timeline Movies) | Erik Lehnsherr/Hank McCoy | Erik Lehnsherr, Hank McCoy| X-Men: Days of Future Past (2014), Implied/Referenced Torture, Trans Male Character, trans Hank McCoy, Mutation, Flirting, First Time, Making Out, Hand Jobs, Vaginal Fingering, Finger Sucking, Orgasm, Cuddling & Snuggling, Light Angst, Fluff and Smut
“Just us, then,” Erik said, having noticed that Hank only received two keys, one of which he’d passed off to Charles.
“Oh...yes, it’s just us. I can go see if they can get us two singles?” Hank offered, shuffling his feet and seeming incredibly uncomfortable. Erik rather enjoyed that.
Disekeliling banyak yang menjadi abdi negara, bahasa lainnya PNS (Pegawai Negeri Sipil). Dan saya, bukan abdi negara yang semacam PNS itu. Tapi saya pun mengabdi pada negara dengan cara sendiri. Bukan itu yang mau dibahas tapinya.
Gini, bulan lusa lalu-lalu, minggu lalu, kemarin lusa, dan semua yang serba lalu itu, orang-orang terdekat saya berbagi kisah. Kisah tentang betapa sulitnya dan butuh perjuangan yang keras untuk menjadi seorang abdi negara (red; PNS). Bekerja di kedinasan terkait, yang tentunya sekarangan harus menempa kuliah dulu untuk bisa menjadi PNS. Baru tahu juga bahwa profesi itu ada golongan-golongan sesuai dengan gelar pencapaian semasa kuliah, S1, S2, D3, etc. Lalu yang lulusan SMA masih bisa dikatakan sukwan (suka relawan). Iya, ada banyak yang sukwan atau saya sebutnya calon abdi negara (walaupun saya tahu kalian sudah memeras keringat sekian lama untuk mengabdi pada negara ini :')) ).
Q : "Kenapa banyak orang berlomba-lomba ingin bekerja menjadi abdi negara?"
A : "Karena jadi abdi negara itu kerjanya enak, liburnya banyak, kerja tidak seberapa berat, yang terpenting kalo sudah pensiun, ya dapat pensiunan. Hidup keluarga terjamin..."
Apa hanya itukah perbedaan dengan yang tidak berprofesi menjadi abdi negara? Tidak dan dapat pensiunan? Baiklah. Tetap bukan itu yang ingin saya bahas.
Segala macam berita yang terdengar, calo PNS, pelanggaran-pelanggaran mereka; yang suka bolos, ngilang saat jam kerja, korupsi waktu, pelayanan buruk kepada masyarakat dll. Sejak lama saya tahu isu-isu itu. Dan sampai saat ini pun mungkin masih menemui. Tapi saya juga yakin, ada sebagian atau banyak abdi negara yang benar-benar mengabdi tulus ikhlas untuk negara ini. *i hope*
Di paragraf kedua, ada sukwan (suka relawan) disitu. :'))
Setiap mendengar, apalagi mengucap kata "sukwan", hati saya bergetar. Senyuman ini penuh dengan tangis dan bangga. Merekalah yang masih berstatus calon abdi negara. Mereka belum bisa dikatakan PNS. Pendapatan mereka belum senominal PNS. Lalu, mungkin pekerjaan mereka jadi lebih ringan dari PNS? Entahlah... tapi saya tahu, mereka juga lelah bekerja, terkadang mengeluh, tapi juga akhirnya tersenyum dengan amplop ditangan yang kadang tidak pas dengan angka kalender yang diharapkan datangnya. Bisa 2 bulan sekali katanya. Jumlahnya pun tidak cukup banyak.
Saya tidak tahu harus memulai cerita ini darimana. Yang jelas, saya selalu teramat sangat menghargai para calon abdi negara itu. Iya, para sukwan yang tidak jelas gajinya datang tanggal berapa. Kadang kurang, kalau lebih alhamdulillah. Apalagi masih dapet ceperan, alhamdulillah lagi Tuhan... :'))
Sulung Ibuk, alm. Harik Hariyadi. Dia yang akhirnya pergi dan mengajari saya banyak hal dalam hidup. *jadi nangis kaaan.. :')* Karenanya saya sangat menghargai dan menghormati Calon Abdi Negara, siapapun, dimanapun. Tugas mereka, tenaga mereka, kerelaan mereka. Iyaaaa... saya merasakannya. Beberapa tugasnya pernah saya lakukan juga. :)
Mas, adalah calon abdi negara yang baik. Sampai dia pergi pun dia masih tetap calon abdi negara. Dia nyukwan di Dinas Kesehatan, entah sejak tahun berapa. Genapnya, sudah 11 tahunan profesinya tetap sebagai calon abdi negara. Oh iya, tahun ke berapa juga sudah diangkat menjadi tenaga honorer sih. Saya lupa.
Sebelum ada di Dinas Kesehatan, lulus SMA, tahun 1993 (saya baru 3 tahunan) mas ikut tetangga merantau ke Irian Jaya. Nama PT-nya lupa, pokonya kerjaannya di hutan nebang-nebangin pohon pake gergaji mesin, traktor, alat-alat berat, tapi bukan illegal logging. 2 tahun di Irian Jaya, tanpa pulang ke Jawa sekalipun. Hanya berkirim kabar via surat dan telepon, mengirim foto. Saya ingat di surat pertamanya (6 bulan pertama di Irian Jaya), mas menceritakan pengalaman, betapa enaknya naik pesawat terbang, grujak-grujuk melewati awan, dan akrabnya dia dengan hutan. Tidak ada kamar mandi, makan seadanya. Di fotonya pun memang jelas seperti itu. Tempat tinggalnya hanya serupa rumah sementara ditengah hutan yang hanya terbuat dari triplek dan seng. Baju-baju berserakan, bertumpuk dengan piring-piring juga tape compo. Ada fase potret dirinya sejak bulan pertama sampai ke enam. Dimana pertama kali dia datang ke Irian rambutnya normal-normal saja, lalu di bulan ke enam, foto terbaru dirinya rambut gondrong seperti vokalis Slank, panjang lewat sebahu, dan kulitnya hitaaam.
Isi surat paling bawah, dia bilang: "Pak, Buk, aku tidak akan pulang kalau belum mendapatkan uang banyak. Doakan aku betah disini. Dari Harik, Anakmu.."
Setelah 2 tahun, tanpa mengabari sebelumnya kapan mas akan pulang kampung ke Bondowoso. Sore itu, saya ingat jelas.. bersama Ibuk, teteh kami bersantai diteras menjelang maghrib. Langit sudah biru tua. Dari ujung rumah ada laki-laki berperawakan tinggi, memakai jaket jeans belel, rambut gondrong seperti vokalis Slank, membawa tas besar dilengan, tapi bagian mulutnya tertutup slayer. Persis banget seperti orang jualan sepatu-sendal yang suka nenteng tas-tas berisi produk keliling kampung. Saya pikir mas-mas gondrong itu memang penjaja sepatu. Tapi kemudian lelaki ini berdiri tepat di depan teras, dan membuka slayer penutup wajahnya. Nyaris pangling, tapi langsung ketebak itu sulung Ibuk karena gigi gingsul dan tahi lalatnya yang tetap manis. Ibuk, langsung menjerit tangis, gelendotan di bahu mas. Begitupun teteh. Sementara saya, lari kedalam rumah, berteriak girang juga bingung mencari Bapak yang ketika itu ada didalam kamar mandi. Bapak kaget, dan keluar hanya dengan pakai handuk dan bertelanjang dada. "Ada apa!!??", katanya kaget. Saya bilang kalau Mas Harik sudah pulang dan sekarang ada di teras. Aaahh.. betapa bahagianya kami waktu itu, bertemu dengannya yang kami kira penjaja sepatu. 2 tahun merantau di timur Indonesia.
Ketika itu adik ke-5 Nurul masih di rahim Ibuk dan bungsu Reni, mungkin belum terpikirkan. Sayalah bungsu ketika itu. Mas bercerita tentang kerasnya hidup dan bekerja di Irian Jaya. Bertemu dengan suku dayak. Memakan dedaunan yang ada dihutan, dll. Tapi mas bilang sudah jatuh cinta dengan Irian Jaya. :'))
Hingga akhirnya, Bapak melarangnya untuk kembali lagi merantau ke Irian Jaya. Bapak meminta mas untuk tetap tinggal dan mencari kerja di Bondowoso saja. Tahu kan idiom, "mangan gak mangan, seng penting kumpul"? Iya, kata Bapak begitu. Diiyakannya kata Bapak. Bapak adalah PNS (yang bukan PNS) di Dinas Kesehatan. Seorang supir Ambulance yang sudah sering mengantar pasien sakit-sekarat ke rumah sakit, juga sering menemani Dokter-Dokter kunjungan ke luar kota bahkan ke luar pulau. Dari situlah Bapak merekomendasikan mas untuk juga bisa bekerja menjadi sukwan di kantornya.
Waktu terus berlalu, ketika Ibuk seringkali sabar bertanya, "Cong, apah lakonah neng kantor?" dijawabnya, "Sobung Buk, perak esoroh fotokopi, kadeng kuleh a bersian kantor.." Ibuk tidak pernah lelah menyemangati mas untuk tetap bertahan menjadi sukwan di Dinkes. Kata Ibuk, suatu saat nanti akan ada masa pengangkatan dari sukwan menjadi tenaga honorer, lalu baru deh jadi PNS sejati. Tapi kapan?
Bapak pun begitu, selalu menyabar-nyabari mas. Bahwa menjadi sukwan itu ya memang harus rela dibayar berapapun. Namanya juga sukwan; suka relawan. Tapi nanti kalau sudah diangkat jadi PNS, bayarannya besar. Entah apa yang mas kerjakan saat menjadi sukwan. Sesering saya ikut menemaninya ke kantor setiap habis isya, dia menyapu seluruh koridor kantor, mengepel, merapikan meja-meja, mencuci mobil-mobil kantor, memangkas rumput, menutup jendela-jendela ruangan, dan saat semua dilakukannya, saya selalu setia menunggu diruang pertemuan Dinkes yang ada TVnya. Mungkin biar saya tidak bosan dan mau menungguinya malam-malam. Ketika bosan datang, saya selalu main di tiang bendera. Menaik-turunkan bendera, dan selalu dimarahinya. Kalau dimarahi, saya memilih naik turun anak tangga yang akhirnya juga tetap dimarahi. Tapi saya selalu dipetikkan bunga kamboja sewaktu pulang. Seperti itukah sukwan kerjanya? :'))
TK, sesekali saya diantar mas ke sekolah. Tapi paling sering teteh. Teteh baru saja lulus SMA ketika itu. Mas ke kantor naik sepeda federal dan tidak ada boncengannya. Waktu mengantar saya ke sekolah, saya selalu didudukkan disetir sepeda federalnya dengan posisi berhadap-hadapan dengan mas. Mas menghadap ke depan, saya kebelakang. Sambil memegang erat pundak mas, saya bernyanyi-nyanyi riang dengannya sampai sekolah TK Pertiwi.
Waktu saya kelas 4 SD. Sepulang sekolah, Mas juga menyempatkan pulang ke rumah untuk istirahat siang. Dia minta makan ke Ibuk. Sambil makan siang, cerita-cerita tentang kantor, dan Ibuk juga selalu menanyakan, "Masa di kantor ngga ada satu cewekpun yang naksir sama kamu, Rik? Boleh rajin kerja, tapi sudah saatnya cari jodoh Rik.. Biar rejekinya ikut lancar." Dengan mulut penuh nasi mas njawab, "Tenang Buk, kalo sudah jadi pegawai, bukan saya yang nyari cewek. Cewek yang ngejar saya! Hehehe.." Ibuk mengamini.
Mas menikah dengan perempuan kampung sebelah. Mbak Indah namanya. Mantan musuh waktu SMA, katanya. 2 hari sebelum akhirnya benar-benar dilamar, Mbak Indah diajak untuk pertama kalinya kerumah. Dikenalin sama Bapak Ibuk dan keluarga. Saat itu juga mas bilang sama Bapak, kalau akan melamar dan bertunangan dengan Mbak Indah. Padahal baru dikenalin malam itu juga. Sekeluarga kaget, tapi apa boleh buat. *diam-diam mas pacaran juga ternyata*. Setelah perkenalan akrab di ruang tamu malam itu, mas mengajak Mbak Indah masuk ke dalam rumah, ke kamar-kamar, ke dapur, ruang makan, ruang keluarga. Dia bilang sama Mbak Indah, "Begini rumahmu nanti, Dek. Tabing semua. Mau kamu sama aku?" dan dicubitnya manja perut mas. Akhirnya Calon Abdi Negara punya kehidupan yang baru... :)
Status sukwan itu tetap melekat sampai saya menginjak SMP. Saat saya sudah sering ke warnet untuk mengerjakan tugas-tugas TIK dari sekolah, sesekali dia bertanya, sudah mahirkah saya mengoperasikan komputer? Kok bolak-balik ke warnet? Saya bilang, nilai TIK saya selalu bagus. Itu kenapa suatu waktu, setelah sekian tahun mas nyukwan, saya diajaknya ke kantor malam-malam. Kali ini naik sepeda keranjang yang baru beli dan ada boncengannya. Iya, mas jual federal dan diganti sepeda keranjang. Sampai kantor sudah sepi sekali, ada ruangan dengan 2 meja komputer. Mas bilang, " Ajarin mas cara ngidupin komputer, Dek. Mulai dari awal ya." katanya. Saya cekikikan, "Yeee, mas...mas... masa ngidupin komputer aja ndak bisa." Ditimpali, "Ya makanya ajarin.. Kan kamu sudah bolak-balik ke warnet." Malam itu saya kenalkan padanya mana CPU, keyboard, power, start-shut down, mouse, microsoft word, penggunaan Caps Lock, spasi dan cara membuat garis. Standart saja. Lalu ketika pulang dari kantor, saya diajak beli nasi goreng di perempatan pecinan. Tanda terima kasihnya karena telah diajari mengoperasikan komputer katanya. Sampai saat ini penjual nasi goreng itu masih tetap ada dan berjualan, di tempat yang sama.
Oh iya, dia selalu bangga dan iri sama saya. Saat SD saya langganan juara kelas. Dia cerita waktu SD dulu selalu di bully sama Bapak, hehehe katanya mas kalo diajarin ngga pernah cepet nangkep. Cara mengajarinya pun kasar, harus dimarah-marahi dulu, kalau perlu dipukul. Berbeda dengan saya yang katanya pintar.. :')) Saya selalu tahu ketika dia sangat bangga sekali memiliki saya. Dari matanya.. *Mas, aku masih selalu belajar sampai sekarang, meski tak lagi juara*
Ada pencapaian-pencapaian setelah bertahun-tahun menjadi sukwan di Dinas Kesehatan. Sempat merangkap jadi OB dan penjaga malam, lalu ketika menjadi tenaga honorer, akhirnya mas dipercaya Kepala Dinkes yang saat itu menjabat Dr. Agus Suwardjito (sekarang kepala RSUD Koesnadi) menjadi supirnya. Menggantikan Bapak. Kemahiran nyupir Bapak mungkin dilatihkan padanya. Beberapa tahun mas jadi supir kepala Dinas. Bagi saya, itu suatu kebanggaan, meski hanya menyupiri kepala Dinas. Mas tidak lagi menyapu, mengepel, jaga malam.. Kesibukannya yang baru, keluar kota mengantar Pak Agus. Ke Surabaya, Bali, Jember, dan pulang ke kantor tetap dengan sepeda keranjang birunya. Sepeda itu selalu bersih dan mengkilap. Selalu!
Meski sudah punya keluarga baru, anaknya, Bulan namanya, sudah mau masuk TK. Tapi disela istirahat siang, saat kangen dengan masakan Ibuk, dia selalu pulang ke rumah. Minta makan siang. Sama seperti semua anak di dunia ya.. bahwa masakan Ibuk itu tidak pernah ada duanya. Iya, dia juga selalu bilang gitu di depan Ibuk. Memuji-muji masakan Ibuk. Setelah makan siang, mas pamit kembali lagi ke kantor. Tapi pas di pintu dapur, Ibuk menangis. Gegara melihat sepatu kerjanya mas yang sejak dari tahun apaaaa belum juga ganti-ganti. Sepatunya bukan sepatu pantopel. Sepatu karet kaya sepatu silatnya Jackie Chan, warnanya cokelat muda. Menangis, karena sudah bolong bagian sana-sininya. Mas tipe-tipe yang kalau punya barang, dirawat sampai awet, sampai rusak baru dipensiunkan. Kata Ibuk, "Rik, sekarang kamu supirnya kepala dinas. Malu nak, kalo supirnya kepala, sepatunya bolong. Nanti sore beli sama Ibuk di Ja'a."
Calon abdi negara, yang sederhana, yang saya cintai sedunia. :'))
Dia tidak pernah ingin jadi apa-apa, selain jadi Abdi Negara sejati. Yang harus melalui sebelas tahun hingga akhirnya ada pengumuman pengangkatan tenaga honorer untuk selanjutnya menyandang PNS. Dan mas satu diantara daftar nama tersebut. Penantian yang panjang dan sabar... siang itu mas pulang ke rumah, memeluk dan sujud dikaki Ibuk. Dia ngabarin, bahwa akan segera diangkat jadi PNS dengan segala persyaratannya. "Sekelangkong duenah, Buk!" tangisnya haru.
Sebulan sebelum akhirnya dia benar-benar pergi. Segala persiapan untuk diklat prajabatan sudah heboh disiapkan. Mas beli hem putih baru, celana kain baru, dasi, sepatu olahraga baru, tas baru, bahkan persyaratan foto 4x6, dia mengajak saya ke Lezat Studio waktu sore. Diperjalanan dia dengan bahagia memamer-mamerkan diri, "Kalo mas jadi PNS nanti, kamu mau minta apa tak belikan!". Saya yang diboncengnya senyum-senyum saja. Ketika itu Bulan sudah punya adek kecil. Anaknya mas yang kedua perempuan lagi, Camelia, 4 bulan. Kata mas, "Amel ini membawa rejeki untuk Ayah. Amel lahir, Ayah akhirnya mau diangkat jadi PNS." Diklat prajabatannya di Malang. Mas akan berangkat 4 April.
Tapi siapa menyangka, 31 Maret, 4 hari sebelum mas pergi ke Malang untuk benar-benar menjadi abdi negara, ternyata mas sudah duluan pergi ke rumah Tuhan. Semua tiba-tiba. Tanpa sakit, tanpa kecelakaan, tanpa apapun yang buruk terjadi. Sepatu olahraga yang baru beli, dasi, hem, sudah tergantung rapi di kamarnya. Map-map persyaratan juga sudah siap di tas barunya. Semua sedih.. kehilangan.. terpukul.. Ada Amel yang mungkin hanya punya sempat 4 bulan waktu untuk menghafal-hafal wajah Ayah Harik. :'))
Dear, Calon Abdi Negaraku di surga... :*
Beberapa temanku juga sama sepertimu, Mas. Jadi sukwan. Lulusan SMA, tapi sambil lalu mereka kuliah. Mereka agak berbeda darimu yang jarang mengeluh, dan mau mengepel kantor juga menyikat WC. Mungkin dulu kamu pun mengeluh, tapi aku nyaris tak pernah tahu. Apa kamu mengeluh dalam hati sendiri-kah mas? Semua calon abdi negara memang kudu bersabar sepertimu ya mas. :) Andai kau masih ada, tentu bisa memotivasi teman-temanku yang juga masih calon abdi negara itu, agar tetap berjuang hingga saatnya nanti mereka bisa menjadi PNS sejati. Hehehe tapi iya, aku sudah ikhlas lillahi ta 'ala. 31 Maret ini, empat atau lima tahunmu mas? Sudah lupa ya adek.. kangen ini namanya mas. Kemaren lusa, aku, amel, ojan, mb iva, raska sama raziq jalan-jalan naik kereta di Alun-Alun. Tumben Amel mau diajak Akung ke rumah kampung templek meski tanpa Mbak Bulannya. Sepulangnya ke tamansari, Mbak Indah cerita waktu sebulan yang lalu nyekar ke makam mas sekeluarga sama Bulan dan juga Amel. Amel nyeletuk:
"Ma, bukak rah ma tanahnya. Masak dari dulu ndak pernah tahu mukaknya Ayah. Cuma taunya di foto tok. Bukak ma, Aku pengen liat mukaknya Ayah. Kalok sudah tahu, tutup lagi tanahnya dah, Ma!"
Tuh mas, sudah pinter anakmu. Besarnya nanti tomboy! :)) 31 Maret, aku, Ibuk, Bapak, semuanya mau datang mas, tentunya ngajak Amel, Mbak Indah sama Bulan. Jadi nyekar bareng-bareng. Semoga Amel ngga ngomong gitu lagi Mas. Aku takut nyekarnya jadi kacau. Hehehehe.. Datanglah mas sekali-sekali. Sering juga tak apa. Banyak yang ingin aku ceritakan setelah mas pergi. Terutama Ibuk. Kunjungi beliau lewat mimpi. Aku ngga bisa membayangkan 31 Maret nanti Ibuk akan seperti apa. Sekarang ini kami semua mengingat-ingat lagi tentang dulu bareng mas. Ibuk bingung, slametan mengenang mas akan diadakan di rumah Mbak Indah apa di rumah saja. Ibuk ingin dijadikan satu katanya. Tapi ya sudahlah... Semoga waktu aku nulis ini, mas ada disebelah pun belakangku. Terserah dimana mas mau. Atau tak tunggu di mimpi ya. Sehat selalu disana ya calon abdi negara sejati... :))))