Halaman 19.
"Si Pemikir".
Lagi-lagi diri ini terlalu cemas.
Lagi-lagi diri ini terlalu khawatir.
Khawatir dan cemas tentang apa yang akan terjadi dalam hari-hari ke depan ini.
Takut, gelisah kalau apa yang akan terjadi tidak sesuai harapan.
Padahal mau maju, tapi kalah karena kekhawatiran ini memakan habis tubuh jiwaku.
Bagaimana tidak? Aku kalah dengan masalahku. Aku jatuh karena aku tidak berani melangkah. Aku menjadi berjalan tanpa arah.
Sekarang pilihan ada di tanganku.
Pilihan yang mampu mengubah hari-hariku.
Apakah aku akan memilih untuk bertahan atau tenggelam dalam pikiranku.
Aku harap Tuhan mau membisikkan jawaban indah di telingaku. Buat aku peka, Tuhan. Amin.
@arioagio














