Bahasa 'Setelah Hujan'
Kami selalu menikmati ketenangannya, perjalanan malam setelah hujan. Ketika biasanya banyak cerita yang kami suarakan, tentang cita-cita, mimpi, atau peristiwa sehari-hari ketika kami tak bersama; kali ini ketika perjalanan setelah hujan, kami lebih memilih diam. Kami sama-sama menyukai suasana ini. Ketika alunan akustik juga turut serta, terlalu nikmat jika rasa harus diabaikan dengan saling bicara. Bukan tak perlu berkomunikasi, apalagi saling membenci. Saat seperti ini kami memiliki bahasa baru, bahasa yang justru membuat perasaan kami lebih cepat dipahami bahkan tanpa bicara. Hanya dengan diam dan sesekali menyatukan jari-jemari kami, semua hal menjadi satu dengan sendirinya, semua perbedaan menjadi saling menyelaras seiring perjalanannya.














