Assalamualaikum..wr wb
Bang herry...minta nasihat melembutkan hati & mewaraskan pikiran...kata kata penyejuk di kala gundah...di kala putus asa...di kala hidup begitu hambar...di kala kecewa...di kala terpuruk...di kala sendiri...di kala ringkih & begitu lemah...sy butuh itu bang...bantu sy
KALA MERASA TERPURUK
Maaf ini agak panjang jawabnya karena ini relate banget dengan saya pribadi.
Wa'alaikumsalam wr wb
Hmm, kalau melembutkan hati, saya kayaknya tidak bisa. Karena hati saya keras; sudah terlalu tebal dari sekian banyak kesakitan. Mungkin bukan keras, tapi kenyal. Kenyal kan beda dengan lembut ya. Nah, saya lebih seperti kenyal. Jadi kalau soal melembutkan hati, mungkin coba kamu baca-baca lagi buku-buku Aa Gym yang mudah, atau Aidh Al-Qarni, atau mungkin coba ikutin kajian.
Tapi kalau mewaraskan pikiran, saya punya dua solusi. Apa itu? Pertama, meminimalisasi diri akan kebutuhan terhadap materi. Kedua, putuskan semua jenis urusan yang memungkinkan untuk dijeda dengan manusia.
Pertama, dirimu mengurangi barang-barang yang kamu miliki seminimal mungkin. Total. Yang tidak terpakai kamu buang atau kasih ke orang. Kalau masih berharga kamu jual. Pastikan kamu tidak menyimpan sesuatu yang tidak kamu gunakan. Hanya pakai yang kamu PASTI pakai tiap harinya. Apapun itu; pensil, kaos kaki, skincare, kutang, sepatu, makanan di kulkas, monitor tak terpakai, kabel charger. Serius, ini serius. Buku? Jangan, itu kamu simpan selamanya. Selain itu kurangi. Itu semua adalah beban kepemilikan. Kita terasa berat dengan memiliki sesuatu yang tidak terpakai. Kelapangan ruang akan membuat jiwamu fresh. Tangan yang enteng--dari barang-barang tadi--akan jauh lebih nyaman.
Coba sesekali kamu baca dan terapkan konsep hidup minimalis. Saya mencobanya dan wallahi it worked! Kamu tahu, tahun kedua di Istanbul membuat saya berpikir untuk membawa lebih banyak barang dan pakaian agar bisa saya gunakan ketimbang nganggur di rumah (di Jakarta). Tiap balik, saya selalu bawa barang: baju, sepatu, buku, tas gunung, tenda gunung! Hingga pada suatu titik saya merasa, what the hell? Kenapa banyak sekali barang-barang saya? Semenjak itu saya kurangi; saya hibahkan yang masih bagus; saya jual yang masih bisa dijual. Bahkan saya sekarang tidak pakai lemari, hanya rak pakaian RIGGA IKEA 2 buah untuk baju dan jaket-jaket.
Apa sih hubungannya? Dunia. Kita sudah terpenjara. Mungkin kita tidak sadar, tapi perhatikan deh dengan barang-barang itu kita akan dibuat sibuk dan rasa tanggung jawab itu beban. Bayangkan kalau harta kita makin besar? Ini kenapa banyak orang yang punya harta banyak tapi juga tidak bahagia. Karena makin berat rasa kepemilikannya. Kurangin deh, kamu akan plong rasanya. Who cares dengan orang lain yang punya ini itu. No, mereka tidak ada urusan dengan kejiwaan kita. Kita ada kita.
Kedua, kurangi urusan dengan orang lain. Kita pusing itu karena seringkali otak kita menjadi kebahagiaan orang lain sebagai standar. Kehidupan orang lain sebagai tolok ukur. Mulai jadikan bahwa kamu dalam universemu adalah pusatnya. Kamu tidak akan didikte oleh perkataan orang lain. Kamu tidak akan mau mengikuti trend orang lain. Kamu adalah kamu, yang bebas ke manapun kamu mau dan jadi apapun yang kamu mau.
Kalau kamu punya urusan dengan orang lain, segera selesaikan dan setop--juga soal hutang-piutang. Pokoknya apapun jenis urusan dengan orang lain, yang masih bisa kamu tunda, tunda atau setop.
Pernah ga sih kamu ngerasa seasik itu makan batagor di pinggir jalan depan FamilyMart Stasiun Tebet? Sambil lihat orang lalu-lalang sambil mainin gadget; sambil mengamati ada mba-mba yang lagi nunggu jemputan suaminya. Sedangkan kamu sendiri menikmati batagor yang agak hangat dengan mas-mas yang asik diajak ngobrol? Kamu tidak peduli mba itu sudah punya suami. Kamu peduli setan dengan orang-orang dengan gadget terbaru. Kamu hanya berpikir untuk menikmati suasana itu dengan dirimu sendiri. Itu adalah puncak dari kamu berdansa dengan universemu.
Jamaknya keterpurukan itu karena disebabkan energi negatif dari luar yang mempengaruhi kita. Saya bilang jamak, karena memang begitu. Kenapa? Karena kita tidak mampu mengontrol yang datang dari luar. Sebab itu kita merasa lemah jika tidak sanggup menghadapinya. Solusi cepatnya? Ya putuskan interaksi dengan dunia luar. Bukan menjadi antisosial, tidak. Bukan menjadi acuh, tidak. Kamu hanya menjaga duniamu agar terus berputar.
Maaf panjang, karena saya pun sampai sekarang masih sering mengalami hal yang sama. Dan saya mencobanya asik dengan diri sendiri. Pergi ke toko buku, nigh ride, nonton sendiri, makan sendiri, keliling mall sendiri, sambil kunjungi ke masjid-masjid yang membekas di hati atau masjid baru yang belum pernah saya datangi; dengar Spotify Hani Arrifai; mengurangi scroll sosial media; dan hal-hal sederhana tapi kita sebagai pusatnya.
Mungkin begitu.

















