Mencapai
atau memperoleh (mendapat) sesuatu dengan usaha. Itu jabaran yang aku dapatkan saat melihat KBBI. Kalau aku boleh menambahkan, seperti kata orang-orang, usaha itu perlu tapi bukan penentu. Ada yang namanya takdir dan doa. Takdir itu ada, dan harus diyakini. Sikap kita saat takdir itu tiba: ikhlas. Doa itu seperti bahan bakarnya. Usaha keras, tapi ngga doa, kapan nyampenya bosqu?
Punya mimpi itu harus, punya obsesi, goals, apa pun namanya. Itu yang membuat kita terus bergerak, bukan hanya sekedar raga tapi juga ruh. Impianmu pasti tidak sesederhana "aku haus, ingin minum", kan. Selain usaha, doa, kita juga butuh dukungan dari sekitar. Kalau dipikir-pikir, teori MESTAKUNG atau semesta mendukung itu benar-benar ada. Jika kita terus memikirkan impian kita, terbawa hingga ke bawah alam sadar, semesta seperti terikat oleh daya tarik impian kita.
Aku pernah 'memendam' impian. Aku tidak menyerah terhadap impian itu, hanya saja terkadang realita menuntut kita untuk ikhlas. Waktu itu tahun terakhir di SMA, aku masih belum tahu ingin jadi apa. Ternyata memiliki minat yang terlalu banyak tidak selalu membantu, aku kebingungan. Hingga akhirnya aku menemukan satu sebelum rasanya hampir putus asa. Aku sangat ingin masuk jurusan Perfilman. Sampai terbesit, kalau jurusan ini tidak diizinkan, aku ngga tau lagi. Akhirnya, orang tua tidak mengizinkan karena mengkhawatirkan pergaulannya. Well, sebenarnya itu tergantung persepsi. Tapi sekuat apa pun aku meyakinkan, keputusan tidak bisa diubah.
Seperti pencerahan, setelah aku 'ikhlas' dengan keputusan orang tuaku, aku tertarik dengan jurusan Teknologi Pangan karena salah satu guruku yang menjadi lulusannya. Di sekolahku, guru yang kupanggil Bu A itu mengajar banyak mata pelajaran, spesialisasinya adalah Bahasa Inggris karena beliau adalah lulusan luar negeri. Anehnya, aku juga tak pernah berpikir kenapa pelajaran yang diajarnya tak memiliki relevansi terhadap ilmu yang diambilnya waktu kuliah.
Allah tidak menakdirkanku sebagai mahasiswa jurusan Perfilman, maka aku memendam mimpi itu, mengkonversikannya menjadi doa yang sedikit berbeda. "Aku ingin bermanfaat dengan hal yang aku suka." Dan Allah menjawab mimpi-mimpi itu, bahkan di awal aku mulai kuliah di jurusan Teknologi Pangan.
Aku mulai mengenal orang-orang hebat, yang memiliki kesukaan yang sama, dan yang paling penting, visi yang sama. Aku diajak membuat sebuah film dakwah berdurasi pendek. Tanpa memiliki kamera, tanpa memiliki keahlian untuk mengoperasikannya, tanpa keahlian editing, aku turun dalam sebuah penggarapan film.
"Aku suka film, dan aku bisa menulis." Itulah yang aku katakan kepada mereka waktu itu...
...bukan
"Aku suka film. Pengen sih bikin, tapi aku ngga punya kamera, ngga bisa makenya lagi, editing juga ngga bisa."
Mimpimu belum besar jika masih berkata seperti itu. Daya tarikmu belum besar untuk membuat semesta mendukungmu. Terlebih, kamu belum mengerahkan energi besar di dalam doamu.
Alur hidup (yang kadang kita sebut sebagai kegagalan) terkadang membuat kita berpikir kalau kita belum 'mencapai' banyak hal, lalu mengesampingkan bahwa kita sudah 'menerima' banyak hal. Lupa bahwa kita tidak selalu menjadi subjek. "Aku 'dapat' nilai A di matkul ini", "Akhirnya bisa 'beliin' si A tas baru". Semua kalimat itu mencerminkan bahwa kita di situ sebagai subjek. Sedangkan... kita tidak boleh lupa, bahwa kita selamanya juga menjadi objek
"Alhamdulillah, kemarin aku ga jadi ketemu Si B. Tapi sorenya dipertemukan Allah sama Si C, udah lama ga ketemu sama dia"
"Artikelku ngga lolos. Tapi kalau aku lolos, aku malah ngga bisa nemenin ibu yang lagi sakit."
atau...
"Aku ngga jadi kuliah di Perfilman. Sekarang aku mahasiswa Teknologi Pangan. Aku dapat banyak ilmu tentang islam di kampus ini, dapat banyak temen yang mendukung hijrahku, semangat buat dakwah, dan aku bisa dakwah lewat film. Kalo dulu aku beneran jadi mahasiswa Perfilman, belum tentu niatku buat bikin film lebih bermakna dari pada sekarang."
Sekarang, kamu bisa membuat kalimatmu sendiri. Di mana kamu menjadi objek yang diperjalankan oleh Allah. Meraih mimpi itu ngga salah, tapi kita harus lebih banyak belajar menerima segala ketentuan dari Allah. Usaha, doa, dan ikhlas.
نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِٱلْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا۟ بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَٰهُمْ هُدًى
Al-Kahf : 13
Semarang, 27 Februari 2019 |
©griseldasyifa









