Flores! - Episode 18. Goa Batu Cermin! Jumat pagi saya berencana ke Goa Batu Cermin, rencana yang tertunda sejak hari Selasa sore. Eh sebelumnya pagi-pagi saya di Whatsapp mama saya, menanyakan kapan saya pulang. Mama kerasa kalau saya belum beli tiket buat pulang. Wkwkw. Jadilah pagi itu saya langsung beli tiket pulang untuk hari Minggu pagi. Fyi, cuti saya sampai Senin-nya.
Perjalanan ke Goa Batu Cermin memakan waktu sekitar 45 menitan bermotor dari hostel. Tempatnya tidak susah ditemukan tetapi memang kalau ngikutin google map, akan tersesat ke sebuah halaman luas dengan bangunan kosong. Hahaha. Bukannya menemukan goa, eh saya malah menemukan gerombolan abg berseragam sekolah. Ehe. Daripada menebak-nebak, saya bermotor menghampiri gank kekinian adek-adek imut dan menanyakan jalan ke arah Goa Batu Cermin. Ternyata masih kurang jauh. 10 menit dari sejak saya menanyakan jalan, akhirnya saya sampai di Goa Batu Cermin. Yeay!
Tiket masuk Goa Batu Cermin hanya Rp. 10.000. Kita diperbolehkan untuk memilih, akan menggunakan jasa guide atau tidak. Biaya guide tidak ditentukan, seikhlasnya saja. Setelah menulis identitas di buku pengunjung dan membayar tiket masuk, saya pun memilih untuk menggunakan jasa guide. Baru pertama ini ke sini soalnya, batin saya.
Goa Batu Cermin tempatnya masih lebih alami dibanding goa wisata yang ada di Jawa. Belum ada penjual-penjual yang berada di dalam kawasan wisata dan suasana di dalam goa benar-benar masih alami, tidak sengaja dipasang lampu warna-warni atau hiasan-hiasan lainnya seperti yang sering ditemui pada goa-goa wisata lainnya.
Saya diajak berkeliling goa sambil mendengarkan penjelasan dari Bapak Guide. Duh, lupa nama beliau *maafin*. Jadi, goa ini ditemukan oleh orang Belanda yang kemudian mengatakan bahwa Flores dulunya berada di dasar laut. Kenapa bisa begitu? Karena ada fosil menyerupai penyu di langit goa. Anyway, saya sempat mengambil gambar fosil penyu di dinding goa. Di sebelah ruang utama seharusnya bisa dipakai buat mengambil gambar diri keren ala-ala tertimpa sinar matahari siang. Cuma karena di luar mendung, jadi sinar matahari yang masuk nggak bisa bagus. Ehehe. Ya sudah tak apa.
Oh iya, jadi di dalam goa ini ada ruang utama yang untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, kita perlu memakai safety helmet dan…membawa senter. Sebenarnya, itulah gunanya menggunakan jasa guide. Kata si Bapak begitu kami keluar dari ruang utama, “Kalau sudah pernah ke sini sekali, harusnya sudah tahu strateginya kalau mau ke sini lagi. Nanti Mbak kalau ke sini lagi, nggak perlu pakai guide. Cukup bawa senter aja, soalnya helmnya kan diletakkan di luar. Nah, pengunjung yang baru pertama ke sini dan tidak menggunakan guide biasa stop sampai depan lorong menuju ruang utama karena tidak membawa senter. Karena mbak sama saya dan saya bawa senter di saku, jadi mbak bisa masuk. Kalau nggak masuk sayang mbak, yang menarik kan di dalam, ada fosil penyu. Hehehehe”. Saya senyum sambil angguk-angguk, “Iya juga ya, Pak”. Oke next time. Hahaha.
Saya sempat berfoto di area goa. Sampai sempat selfie juga sama si Bapak. Hahaha.















