Ruang Di Sudut Pikiran (13)
사람 ≠ 사랑 (People ≠ Love)
Seharusnya, aku bahas RDSP 12.5 perihal kelanjutan Amygdala. Tetapi karena merasa belum cukup ilmu untuk ditulis, aku lanjut publish isi pikiranku yang lain.
Sudah sejak 7 atau 8 tahun yang lalu, aku merasa bahwa orang-orang dan kasih sayang sangat bertolak belakang. Bukan berarti tidak ada satupun manusia yang saling berbagi kasih sayang, tetapi ya... langka saja yang benar-benar tulus.
Waktu aku lagi di masa Anak Usia Dini, suatu hari aku pernah bermain sepeda bersama anak-anak sebayaku di lingkungan rumah, suatu hari lainnya aku hanya memandang dari balik pintu pagar memperhatikan mereka semua merayakan hari ulang tahun salah satu teman sebayaku tanpa mengundangku.
Aku berdiri dengan kepala yang begitu berisik menuntut sebuah jawaban dari pertanyaan dengan kata awal 'kenapa' atau 'mengapa'. Dan aku tidak pernah menyuarakan kebisingan itu pada siapapun hingga detik ini.
Aku juga pernah mendengar sebuah kalimat: "Kita bersahabat ya! Aku, kamu, si A, dan si B. Selamanya!" Di suatu hari yang cerah di sekolah.
Tetapi di hari lain di tempat yang sama, jelas aku mendengar kalimat: "Tidak usah bicara sama Chaca, tidak usah ditemani. Biarin dia sendirian. Anaknya aneh."
Kala itu, sebuah belati yang tak nampak wujudnya menyayat beberapa kali pada hatiku, meninggalkan luka imajiner yang sampai saat ini masih berbekas jelas pada memoriku.
Atau ketika SMP? Ketika aku berhasil membagi mungkin sedikit dari kepercayaanku atas kalimat: "Cerita saja dengan kami kalau ada apa-apa.", mulut yang sama justru mematahkan kepercayaan itu sendiri.
Selanjutnya yang terjadi? Gak kok, gak berat. Cuma difitnah dan disindir-sindir aja setiap hari tanpa ada satupun yang mau konfirmasi kebenarannya. Hari-hari di sekolah bagaikan neraka, tapi tidak semenyiksa dan sepanas neraka pada akhir kehidupan dunia 'kan?
Kalimat: "Aku menerimamu apa adanya" kini terasa seperti alunan gombalan sampah yang tak lagi membuat hatiku menghangat. Karena nyatanya, tak ada yang mampu melakukan itu selain diriku sendiri.
"Gak usah sok berprestasi, sok pinter."
"Kapan presentasi jelekmu selesai? Ngantuk, tahu."
"Sok cantik, padahal lo jelek banget."
It's okay, ada beberapa hal yang gak bisa aku kendaliin. Salah satunya mulut gak bermoral orang-orang yang kudengar saat aku kelas 10 SMA.
Semua hal itu terangkum dan seolah tersimpan dalam lembaran kertas yang terkubur jauh di dalam ruang memori kepalaku.
Dan sebenarnya ya aku baik-baik saja sekilas mata memandang. Aku masih hidup, sehat, tetap berusaha berprestasi dan proses mencintai seluruh kekurangan diri.
Tetapi aku pada akhirnya sadar bahwa manusia tidak pantas disandingkan selalu dengan rasa cinta. Manusia tidak penuh cinta seperti yang aku suka dengar pada lagu anak-anak di masa lalu.
Manusia tidak selalu saling menyayangi, manusia justru terlampau sering saling menyakiti tanpa senjata fisik.
•••
Kenapa judulnya 사람 ≠ 사랑 ???
사람 (saram) : dalam bahasa korea berarti manusia/orang.
사랑 (sarang): dalam bahasa korea berarti cinta.
Tulisannya sekilas terlihat seperti sama, tetapi jelas cara mengucapkannya berbeda. Begitu pula manusia dan kasih sayang yang sering disandingkan bersama.
"Manusia adalah makhluk penuh kasih sayang."
Bohong. Mungkin yang berkata seperti itu lupa akan sifat alamiah manusia, yaitu: berubah seiring waktu berjalan.
Yang menyayangi, akan menjadi paling membenci
Yang mencintai, akan menjadi paling asing.
Yang berkata menerima apa adanya, akan menjadi yang paling enggan.
Begitulah manusia berubah digerogoti waktu.
Berkali-kali, tidak hanya satu atau dua kali. Ditinggal, atau mungkin meninggalkan. Manusia selalu berputar pada lingkaran semacam itu.
Seperti lirik lagu BTS Suga alias AgustD berjudul People:
Everyone would live on
Everyone would love
Everyone would fade away
People change — like I have
Living a life in the world, there’s nothing that lasts forever,
Everything is just a happening that passes by.
Produced by Agust D, Pdogg Written by Agust D, Pdogg Spotify | Apple Music Note: The wordplay used throughout this track is similar to the o
Manusia, siapapun akan mencintai, akan menyayangi, akan hadir dan berada di sisi. Sebelum akhirnya memudar dan hilang. Manusia berubah, dan gak menutup kemungkinan bahwa aku juga berubah.
Mereka berubah, aku berubah.
Kita hidup di dunia yang tidak ada satupun hal yang abadi. Semua terjadi begitu saja, berlalu dan pergi. Seolah tidak pernah terjadi apapun.
Orang-orang di sekitarku berubah, dan dipandangan mereka aku pun berubah; pandanganku berubah, bahwa manusia dan cinta tidak selalu jadi paket yang sempurna. Tidak.
-gds_monoton








