Review | Flukeminimix _ Between Space Into Space
Tidak usah muluk-muluk mengharapkan band-band di ranah, katakanlah, post-rock, untuk konsisten merilis album, situasi dan kondisi di tanah ini hanya berkisar pada, "yah, maklumi saja lah.." Syukuri dan nikmati saja apa yang mampu dihadirkan. Di luar sana pun hanya tinggal beberapa nama besar saja yang sanggup merilis album secara berkelanjutan, nama-nama baru sulit untuk menerobos dan tampil keluar. Sejak post-rock naik ke permukaan universal, diikuti lokal, beberapa tahun silam lantas kembali turun akhir-akhir ini, rilisan lokal pun ikut menyurut. Dalam dua tahun terakhir saja, bisa dihitung dengan jari (pada satu tangan, mungkin) jumlah rilisan yang menyeruak hingga sampai ke telinga saya.., kita.
Dua tahun silam, kolektif asal Bandung, Flukeminimix, menggebrak dengan aksi mereka menimpali bebunyian solar dengan penampilan musikal spontan langsung dari Observatorium Boscha, Lembang. Suatu aksi yang direkam dalam DVD live dan kaset bertajuk Pulsating Star. Kata 'menggebrak' memang terlalu berlebihan, tapi saya kira apa yang mereka lakukan hari itu adalah suatu gebrakan untuk blantika (halah) musik Indonesia. Hari ini mereka kembali, debut album mereka Between Spaces Into Space hadir dalam wujud cakram padat.
Between Spaces Into Space diawali dengan Seeds of Grey yang berdenyut mengabarkan kehidupan, lalu dicairkan dengan bassline yang jazzy diiringi tetabuhan monoton yang tidak lama kemudian banting setir dengan mendadak dan berakhir dengan tabrakan dan ledakan berkeping-keping. Terdengar garang nian untuk sebuah permulaan. Tidak terlalu mengejutkan bagi yang pernah mendengarkan Pulsating Star, tapi bagi yang baru kali ini merasakan Flukeminimix, ini jelas angin segar, umm, terlalu mengecilkan, ini adalah taifun.
Chariot and the Warriors of Silence dibangun dengan kerangka berupa bassline dan dentuman repetitif nan intimidatif ditanggapi dengan gitar yang merengek selayaknya romantisme timur-tengah sebelum menjelma menjadi monster post-metal ganas. Dua kemarahan di awal kemudian mereda pada Salmon dengan percikan gitar bak Mono, yang turut padanya berdenting, agak klise memang, tepat untuk menjadi tembang pengiring pada adegan meratapi kekalahan dalam hidup, karena kemeriahan tertahan pada penghujung komposisi hanya berarti satu hal—lebih efektif dibandingkan sugesti para motivator—membangun kembali fragmen diri yang telah runtuh.
Acomodador memulai dengan berderik—mengiris dan merupakan satu-satunya tembang yang dihiasi vokal, secukupnya saja, dihiasi dengan petikan dan rima bernuansa Sunda, kembali diselingi nyanyian teredam yang kesemuanya tanpa disadari perlahan membangun crescendo yang bergemericik manis tanpa lupa untuk tetap syahdu. Tensi yang nyaris meninggi karena Acomodador, kembali ditenangkan oleh Lumpurumput sebagai komposisi tenang dengan semua instrumen bahu-membahu memberi sentuhan math rock selayaknya Toe ketika sedang malas menjadi rumit.
Immaculate Conception adalah gerbang yang dibangun dengan kecermatan penuh kemuraman, lalu beranjak tenang, sebelum dihiasi dan diruntuhkan dengan, ini dia, (karena saya selalu suka: a. hujan di bulan apa saja selama tidak menyusahkan b. cabikan gitar memberontak a la virtuoso di penghujung komposisi post-rock yang sedari awal telah ditata dengan sangat rapi) amukan para serdadu elektrik mengangkat senjata berupa cabikan dan sayatan mengakhiri tembang ini dengan gilang-gemilang. Track penutup berjudul Epitaphios adalah upaya Flukeminimix untuk kembali menunjukkan kemahiran memainkan berbagai jenis komposisi dengan mengakhiri semuanya dengan komposisi ambient/drone yang menghantui dan sinematik.
Seusai mencoba menyempitkan pencapaian musik Flukeminimix pada album ini dalam kata-kata, jelas terpampang bahwa kata-kata tersebut akan mudah saja ditemukan pada upaya penggambaran musik Godspeed You! Black Emperor dan Thee Silver Mt. Zion Memorial Orchestra. Memang tidak perlu upaya berlebih untuk membandingkan Flukeminimix dengan karya-karya yang dihasilkan Efrim Menuck dkk., serta tidak perlu repot-repot memprediksi mereka akan kembali dengan sesuatu bertemakan langit, namun ekspektasi awal saya jelas salah, mengingat saya telah menyertakan dua nama band lain yang mewakili ragam musik yang berbeda pada ulasan di atas, dan pemilihan tema yang lebih luas. Flukeminimix tidak terlalu berpegang pada pakem, yang membuat beberapa komposisi dengan aroma Efrim Menuck seolah menjadi kepingan yang berbeda dengan komposisi sisanya. Namun atas nama eksplorasi tanpa batas, toh, hal ini sah-sah saja. Tidak menjadikan para pendengar lama (juga para elitis, "hai!") gusar, serta tentunya merupakan hal yang apik bagi para pendengar awam, karena menghadirkan kekayaan warna di dalamnya.
Yah, atas nama kesibukan, siapa sih yang masih mendengarkan suatu album penuh secara 'penuh' hari ini? Selain para kritikus musik—atas nama pekerjaan. Between Spaces Into Space bisa saja didengarkan sembari melakukan aktivitas lain, namun, jelas akan lebih manjur jika didengarkan dengan khidmat. Seperti yang telah saya utarakan sebelumnya, album ini sangat pantas bagi pendengar lama ataupun baru, sebuah pilihan jitu untuk menemani kehampaan, mengiringi pelarian, atau malah mengikuti perjalanan yang mereka guratkan, tanpa dering dan getar notifikasi. Kalau saya seorang propagandis, ini adalah saat yang tepat untuk meneriakkan "local post-rock revival!" Tapi rasanya tak perlulah, tidak ada yang perlu dibangkitkan, tidak ada yang sedang mati suri, yang pasti, Flukeminimix adalah mereka yang paling mencuat saat ini.
Words: Benjing @weldrone // photo @flukeminimix














