Kurus? Belum Tentu Bebas “Kolesterol”
Beberapa waktu yang lalu, Saya pernah didatangi salah seorang teman baik Saya. Doi melaporkan hasil penemuan terbaru dalam dirinya sendiri, setelah melakukan medical check up pada sebuah klinik ternama di daerah Solo. Doi hampir tidak percaya, dengan postur yang jauh dari kriteria gemuk, kok bisa kadar kolesterol darahnya tinggi?
Menyadari “kejanggalan” tersebut, doi buru-buru melakukan kroscek kembali untuk memastikan hasil pemeriksaan sebelumnya. Benar saja, kadar kolesterolnya beberapa grade di atas normal.
Apa iya bisa begitu?
Padahal yang kita tahu selama ini, kadar kolesterol darah tinggi itu umumnya diderita oleh orang dengan postur gemuk saja (overweight)!
Yuk. Kita buka tabir penuh misteri ini.
Umumnya, terdapat pandangan bahwa orang gemuklah yang paling beresiko terhadap tingkat kolesterol yang tinggi, namun, tahukah kita bahwa ternyata orang kurus pun tidak luput dari resiko yang sama?
Apa itu Kolesterol?
Kolesterol adalah lemak yang berada dalam darah, bukan lemak yang berada di bawah kulit.
Jadi bisa saja orang yang badannya kurus kolesterolnya tinggi, misalnya, perhatikan sebuah penelitian yang dilakukan Mayo Clinic, Amerika Serikat terhadap 1.101 relawan wanita dengan kisaran umur 41 tahun. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa 54 persen relawan dinyatakan dalam bobot tubuh normal, tidak termasuk kategori obesitas tetapi kadar kolesterol mereka justru mencapai 30 persen di atas normal.
Tentu saja, kondisi tersebut membuat mereka memiliki resiko terhadap gangguan metabolisme lainnya yang juga dialami oleh para wanita yang masuk dalam kategori obesitas.
Mengapa orang kurus juga beresiko memiliki kadar kolesterol tinggi?
Kurus tidak berarti bebas kolesterol. Menurut American Heart Association (AHA) orang yang tak gampang gemuk malah memiliki kecenderungan kurang menyadari bahaya kolesterol pada dirinya. Akibatnya, ia kurang waspada pada jenis makanan yang dikonsumsi. Padahal, menurut AHA, tidak ada satu pun orang yang bisa memakan apa pun yang disukainya dan bisa tetap sehat.
Umumnya, makanan yang dikonsumsi mereka yang memiliki tingkat kolesterol yang tinggi adalah makanan dengan lemak jenuh (lemak hewani) dan lemak trans. Bila jenis makanan tersebut terus-menerus dikonsumsi dalam jangka panjang, kadar kolesterol dalam tubuh akan meningkat. Kadar kolesterol dalam tubuh meningkat merupakan salah satu “alarm” bahaya yang harus segera disadari dan ditindaklanjuti.
Bahayanya apa saja?
Kadar kolesterol yang tinggi dalam darah menyebabkan aliran darah menjadi kental karena banyak mengandung lemak. Lemak-lemak tersebut dapat menumpuk pada dinding pembuluh darah dan mengganggu kelancaran peredaran darah. Akibatnya, pembuluh darah menyempit dan mengganggu aliran oksigen dalam tubuh.
Ketika kadar oksigen di dalam darah berkurang, timbullah gejala-gejala seperti sakit kepala, pegal-pegal, atau kesemutan. Patut diperhatikan bahwa selain gejala-gejala tersebut, tidak ada gejala khas lain yang dapat menjadi penanda tingginya kolesterol dalam tubuh.
Beberapa orang bahkan tidak mengalami gejala-gejala tersebut dan baru menyadarinya ketika mereka melakukan pemeriksaan kesehatan atau setelah mereka mengalami serangan jantung dan stroke. Oleh sebab itu, tes kolesterol dengan pemeriksaan darah penting dilakukan.
What should we do?
Pastikan bahwa kita secara rutin memeriksa kadar kolesterol termasuk kolesterol LDL (jahat), kolesterol HDL (baik), dan trigliserida. Untuk mengontrol kadar kolesterol dalam darah, sebaiknya pemeriksaan di laboratorium dilakukan secara berkala minimal setiap 6 bulan sekali. Atau sekarang sudah ada alat portable yang bisa dibawa kemana-mana dengan tingkat akurasi yang cukup baik.
Kolesterol tinggi tidak akan menimbulkan gejala apapun sampai terjadinya komplikasi. Oleh sebab itu, selain pemeriksaan secara berkala, tidak ada salahnya menerapkan hidup sehat dengan pola makan yang benar serta rajin melakukan olahraga.
Untuk menurunkan kadar kolesterol yang tinggi disarankan melakukan diet rendah lemak dan tinggi serat, rajin melakukan olahraga, dan usahakan untuk berhenti bagi mereka kaum “ahli hisap”. Pada beberapa orang, meskipun upaya-upaya tersebut sudah dilakukan, kadar kolesterol yang dimiliki tetap tinggi.
Hal ini disebabkan 80% kolesterol darah dihasilkan oleh tubuh sendiri sehingga jika metabolisme seseorang sudah memburuk, dibutuhkan penggunaan obat jangka panjang yang sifatnya rutin selain modifikasi pola hidup dengan diet dan olahraga.
Mari mulai hidup sehat dengan #gerakanmudasadargizi









